PlaylistX Studio: “We Take Play Very Seriously”

Di sebuah festival musik dengan lebih dari 200 performer, 17 panggung, dan tiga hari acara, banyak pengunjung akhirnya membuat tabel sendiri hanya untuk mengatur jadwal menonton. Problem ini krusial meski terlihat sederhana. PlaylistX Studio melihat ini dan menjawabnya dengan cara yang tidak biasa: Kartu Tanda Pesta (KTP), sebuah sistem personalisasi rundown yang dikemas sebagai identitas yang menyimpan preferensi pengalaman Pestapora yang dicari masing-masing pengguna, didapat dengan menjawab rangkaian pertanyaan yang dirancang berdasarkan hasil riset. Lengkap dengan nomor identitas yang bisa saling dipertukarkan, 50 varian kartu yang bisa dikoleksi, dan rundown personal yang langsung tersinkronisasi ke Google Calendar. Ratusan ribu engagement dalam satu minggu. Lebih dari sepuluh ribu kartu dibuat. Bahkan muncul grup WhatsApp dari netizen untuk saling bertukar nomor KTP.

"Buat kami, KTP Pestapora adalah contoh bagaimana ketika teknologi dikemas dengan tepat, bisa mengubah pain point besar menjadi solusi yang fun dan berkesan," ujar tim PlaylistX.

Ini adalah cara PlaylistX bekerja. Dimulai dari belanja masalah, lalu mencari jawaban yang tidak hanya fungsional, tapi juga terasa menyenangkan. Studio yang berdiri dari passion dan cita-cita tiga orang veteran di industri advertising & marketing, desain visual, dan programming ini punya mimpi sederhana: membuat game yang bisa dimainkan oleh banyak orang.

Lucunya, gagasan awal PlaylistX sebenarnya tidak dioperasikan seperti sekarang. Dulu mereka hanya ingin membuat game orisinal yang bisa dipublikasikan langsung melalui platform seperti Steam, serta konsol gaming seperti PlayStation dan Xbox. Namun, setelah melihat kondisi industri game di Indonesia serta hasil riset tentang kebutuhan bisnis yang ada, mereka memutuskan untuk mendirikan lini bisnis pengembangan creative tech dan interactive experiences. Lini ini tetap sangat relevan dengan gaming, karena apa yang mereka lakukan di sini bisa menjadi eksperimen dan insight untuk pembuatan game ke depan, juga sebaliknya. Dari situ, lahirlah PlaylistX Studio seperti hari ini. Sebuah studio yang senang bereksperimen dengan teknologi dan apa yang mereka sebut sebagai playful interactions, baik untuk aktivasi brand yang kini semakin marak dilakukan secara on-ground maupun secara online.

Proses kreatif PlaylistX hampir selalu dimulai dari satu pertanyaan: "Apa masalah yang Anda punya saat ini?" Pertanyaan ini hampir selalu memancing diskusi yang produktif. Mereka senang ketika fondasi ide diawali oleh insight atau problem yang nyata, karena bagi mereka, apa pun experience yang mereka desain dan eksekusi harus punya tujuan yang jelas, entah untuk menjawab permasalahan tertentu atau memberi dampak langsung pada bisnis klien.

Dari tahap belanja masalah tersebut, prosesnya mungkin tidak terlalu berbeda dengan proses kreatif lainnya. Setelahnya, diikuti dengan curah pendapat untuk mencari berbagai alternatif solusi dari berbagai sudut pandang, lalu ide-ide tersebut dipertajam sembari melakukan riset mendalam terkait teknis eksekusi yang dibutuhkan. Termasuk di dalamnya adalah menentukan standar "bagus" dan "ideal" yang ingin dicapai, dengan berbagai skenario linimasa yang ada.

Jadi, ketika sebuah ide siap dieksekusi, secara teknis mereka sudah memahami betul apa saja yang perlu dipersiapkan, keterbatasan yang ada, serta arah yang ingin dituju bersama klien. Yang mungkin cukup spesial dari proses mereka adalah: mereka tidak takut untuk pivot. Mereka tidak takut untuk mengakui kalau mereka salah. Jika di tengah proses penyaringan atau bahkan saat eksekusi ternyata jalur yang dipilih buntu, mereka terbuka untuk mencari ide baru atau alternatif cara eksekusi, selama tetap sesuai dengan standar yang mereka pegang dan kebutuhan klien.

Pendekatan ini terlihat jelas dalam karya mereka di JIPFest 2025 berjudul Subject to Interpretation. Karya ini awalnya mereka submit sebagai respons terhadap tema tahun tersebut, yaitu Coexistence, yang membahas hubungan antara manusia dan teknologi. Alih-alih mengambil sudut pandang yang umum tentang bagaimana manusia melihat teknologi, mereka mencoba membalik perspektifnya: bagaimana jika teknologi yang melihat dan menginterpretasi manusia?

Subject to Interpretation lahir sebagai sebuah komentar sosial terhadap fenomena yang sangat relevan hari ini. Karya ini membawa pesan bahwa di hadapan teknologi, manusia sering kali direduksi menjadi sekumpulan data dan angka. Karena itu, jangan sampai kita kehilangan sisi kemanusiaan kita hanya demi "disukai" oleh teknologi, misalnya algoritma.

Secara bentuk, Subject to Interpretation adalah sebuah photobooth interpretasi. Sistem ini "membaca" wajah pengunjung menggunakan AI dan mencetak hasil interpretasinya dalam bentuk receipt atau bon. Di dalamnya terdapat berbagai interpretasi, mulai dari pekerjaan yang cocok, vibe, potensi skandal, spirit animal, hingga potensi kekayaan, semuanya direduksi hanya dari wajah.

Proses pengerjaan karya ini berlangsung kurang lebih dua bulan, dan mereka berkolaborasi dengan Hektra dalam pengembangan konsep serta software, juga This/Play dalam desain dan konstruksi instalasi. Salah satu hal yang paling menarik dari proyek ini adalah AI yang mereka gunakan dirancang dan dijalankan sepenuhnya di komputer mereka sendiri, bukan di cloud.

Di Bangkok Design Week 2026, PlaylistX kembali menunjukkan pendekatan yang sama. Karya mereka merespons tema tahun itu, yaitu "SOS", yang melempar pertanyaan besar: bagaimana desain bisa merespons vulnerabilitas manusia? Lewat kolaborasi dengan TJT Creative Lab, agensi periklanan di Bangkok, mereka memilih untuk tidak menjawabnya dengan solusi, melainkan dengan ruang; ruang yang aman, ruang untuk meluapkan.

Prosesnya dimulai dari riset tentang insight lokal dari masyarakat Thailand, khususnya di Bangkok untuk belanja masalah. Beberapa topik yang diangkat cukup sederhana dan tentunya relevan dengan semua kalangan. Pengerjaan karya ini berlangsung kurang lebih dua bulan, dan melalui beberapa evolusi, baik dari UI/UX design maupun tone of voice penulisan yang menjadi 'jantung' dari karya mereka, terinspirasi dari game Undertale yang hangat, ramah, dan sentimental.  Secara bentuk, instalasi ini mengajak pengunjung masuk ke sebuah ruangan kecil yang mereka desain menyerupai bilik telepon umum, intim, privat, anonim. Dalam ruang kecil itu, siapa pun bisa berbagi perasaan, kenangan, kegelisahan, juga pesan-pesan yang mungkin tidak pernah sempat terucap. Secara teknis, suara yang direkam diproses dan divisualisasikan secara real-time menjadi bentuk, gerakan, dan warna. Emosi dalam suara membentuk pola visual yang unik; setiap cerita menghasilkan gelombangnya sendiri.

Salah satu tantangan terbesar PlaylistX saat ini ada di aspek edukasi pasar. Edukasi tentang potensi dampak yang bisa dibawa oleh pengembangan interactive experience, serta edukasi tentang standar teknologi itu sendiri. Banyak yang masih merasa bahwa teknologi "bagus" dan "jelek" mungkin tidak ada bedanya. Di sinilah tantangan mereka: membuktikan bahwa kualitas teknologi bisa membawa dampak yang besar.

zoom

Apalagi jika teknologi tersebut didukung dengan storytelling yang kuat, desain visual yang ciamik, dan ide besar yang insightful, kombinasi ini bisa membawa dampak yang nyata bagi brand maupun bisnis. Tantangan lainnya adalah mencari keseimbangan antara terus bereksperimen untuk memperluas dan memperdalam skill set serta "menu" PlaylistX ke depannya, sambil tetap produktif mengerjakan proyek-proyek komersial untuk klien mereka.

Ke depannya, PlaylistX ingin terus bereksplorasi dan bereksperimen. Mereka juga punya visi untuk mengembangkan produk-produk teknologi mereka sendiri yang bisa digunakan oleh banyak orang, yang mungkin lahir dari hasil eksperimen-eksperimen tersebut. Mereka percaya bahwa semua orang berhak untuk bersenang-senang. Karena itu, target mereka sederhana dan ini yang menjadi salah satu prinsip utama mereka: apa pun proyek yang mereka buat ke depannya harus enjoyable, accessible, dan pada saat yang sama membawa standar baru dalam industri kreatif secara umum.

“We take play VERY seriously,” kata mereka. 

About the Author

Dhanurendra Pandji

Dhanurendra Pandji is an artist and art laborer based in Jakarta. He spends his free time doing photography, exploring historical contents on YouTube, and looking for odd objects at flea markets.