Perfect Days: Adakah Kekosongan di Balik Keindahan?
Perfect Days meraih pujian karena menjanjikan ketenangan dalam estetika dan alurnya, dengan para penonton menganggapnya sebagai visual kontras terhadap hiruk pikuk kehidupan modern. Di sini, kita mengikuti keseharian Hirayama, seorang pembersih toilet di taman-taman Tokyo, yang mendengarkan lagu-lagu dari Van Morrison, The Velvet Underground, Patti Smith, dan Nina Simone, merawat tanaman-tanamannya, memotret pepohonan saat jam istirahat makan siang, serta mengunjungi restoran yang sama setelah hari kerja yang panjang. Rutinitasnya sederhana, nyaris tanpa hiasan, dan cukup terbuka bagi siapa saja untuk masuk dan melintas di dalamnya. Semua ini membangkitkan rasa familiar bagi kita sebagai audiens, karena kita dapat dengan mudah melihat diri kita sendiri bekerja, makan, dan mendengarkan musik seperti Hirayama. Dalam menyaksikan aktivitas sehariannya, ada pemahaman kolektif tentang “ketataan” di struktur rutinitas. Mungkin menyaksikan seseorang yang bersyukur pada kehidupannya – yang tampak biasa – secara perlahan memaksa refleksi terhadap kehidupan kita sendiri.
Film ini terus membawa penontonnya melalui ritme khasnya yang tenang dan bisa dibilang lambat, dengan hampir tanpa dialog dan tanpa premis plot yang jelas. Alih-alih, ia mengandalkan cara melihat yang secara dalam berakar bukan hanya pada penglihatan, tetapi juga pada tubuh. Kita mengikuti Hirayama melalui perasaan (atau, bagi sebagian orang, justru ketiadaannya), yang membangun bahasa pemahaman universal agar penonton dapat masuk ke dalam dunia film. Sam Holden menulis bahwa daya tarik Perfect Days terletak pada kemampuannya membangun “dunia analog yang mengalir satu sama lain dalam medium pengalaman yang terus berubah dan berfluktuasi”, meniru naturalisme teknologi analog. Dalam pakem analog, pengalaman adalah guru terbesar dan mungkin satu-satunya gerbang menuju keahlian. Menariknya, Hirayama digambarkan sebagai penggemar analog, yang terlihat dalam barang-barangnya yang berpusat pada kamera film, kumpulan kaset, dan deretan buku bekas Jepang yang tersusun rapi. Niatnya menjalani hidup analog tidak pernah dijelaskan secara eksplisit, namun ketertarikannya pada teknologi tersebut terasa jelas. Penonton terseret ke dalam momen-momen ini, dan tak kuasa untuk tidak merasakan nostalgia atas kehidupan yang mungkin bisa dijalani. Barangkali film ini juga memuat kritik terhadap keinstanan dan pengikisan keorganikan yang melekat dalam gaya hidup digital kita.
Selain penggunaan elemen analog, ritme film ditegaskan melalui teknik pernapasan Hirayama, yang menjadi penanda kedalaman atas upayanya mempraktikkan kesadaran, sekaligus mengajak penonton hadir bersamanya. Hal ini dapat dibaca sebagai penghormatan terhadap Buddhisme, karena film ini sering dipuji sebagai “meditasi yang bergerak”, bahkan disebut sebagai Zen dan mengingatkan pada pentingnya “kehadiran total”. Dalam ajaran Buddha, praktik pernapasan (Anapanasati) adalah jangkar kehidupan; segalanya dikendalikan oleh irama napas kita. Hirayama tampil sebagai sosok yang mantap, seolah menguasai hidup-dan-napasnya, tercermin dari kedalaman napasnya — seakan ia menerima keutuhan hidup beserta pengalamannya. Saya mendapati diri saya bernapas bersamanya, ikut serta dalam latihannya untuk mempertahankan kehadiran; menjadi saksi sepenuhnya dalam film tersebut. Dalam bernapas bersamanya, film ini beresonansi sebagai afirmasi atas kehidupan itu sendiri, sebagaimana ditegaskan oleh Thich Nhat Hanh: “Every minute can be a holy, sacred minute. Where do you seek the spiritual? You seek the spiritual in every ordinary thing that you do everyday.”
Di titik ini, kita dapat mengatakan bahwa film ini memenuhi janji yang tersirat dalam judulnya. Dari premis hingga produksi, Wim Wenders dan timnya membangun dunia yang koheren dengan cermat, di mana tak ada yang terasa janggal. Namun, ketika ritme itu menetap dan napas terus berulang, saya mulai merasakan suatu kekosongan: ketenangan yang tadinya meditatif perlahan berubah menjadi kehampaan.
Bagi Hirayama, hidup yang damai adalah hidup yang berjarak: tantangan hanya sekilas, konflik minimal, dan gangguan – rekan kerja yang menyebalkan atau tambahan shift – diserap dan diselesaikan dalam batas-batas rutinitas yang rapi. Ritme ini sempat “retak” oleh kehadiran keponakannya, memaksanya melonggarkan kesendirian yang telah tersusun rapi dan menyesuaikan rutinitasnya demi mengakomodasi sang keponakan. Ironisnya, justru pada momen inilah film terasa paling hidup: ketika ia merawat, berbicara, dan tidak lagi berlindung dalam diam. Hirayama benar-benar tampak “manusiawi”, di mana ia dihidupkan oleh afeksi, cinta, dan kerentanan. Namun vitalitas ini singkat. Ketika sang keponakan pergi, film kembali pada keseimbangan semula, dan kita kembali pada isolasi alih-alih ketenangan. Saat saya mencoba bernapas bersamanya, saya justru merasa gelisah di dalam“neverland” ketenangan ala Wenders.
Sebagian mungkin berpendapat bahwa memang itulah maksud film ini: menawarkan pelarian sementara dari tekanan hidup sehari-hari. Namun keheningan itu terasa terlalu memanjakan, terlalu tanpa gesekan, hampir berlebihan dalam keyakinannya bahwa pelarian adalah respons yang memadai. Kesempurnaan di sini menuntut pengurangan kemanusiaan: penangguhan urgensi, kekacauan, dan kontradiksi.
Dalam membentuk dunia seperti ini, Wim Wenders menghadirkan keindahan sebagai orkestrasi kehidupan ke dalam rangkaian “momen” yang tertata rapi. Film ini mengisyaratkan sensibilitas organik yang mengingatkan pada wabi-sabi, namun ketidaksempurnaannya dikurasi, bukan dijalani. Secara kasar, kekuatannya terletak pada koherensi estetisnya, tetapi koherensi itu sekaligus menyingkap batas-batas posisionalitasnya. Yang muncul bukanlah meditasi tentang kesederhanaan, melainkan romantisasi Jepang melalui lensa Barat. Dalam arti ini, Perfect Days menghadirkan fantasi laki-laki kulit putih: pengidolaan terhadap Jepang dan budaya Jepang yang diwujudkan melalui ketenangan asketis Hirayama. Ia bukan subjek yang sepenuhnya terletak dalam konteks sosialnya, melainkan wadah bagi kerinduan: figur tempat hasrat akan kemurnian, pelarian, dan kesederhanaan dihidupkan.
Aspirasi film ini pun menjadi terbuka: kita tidak hanya diajak mengamati hidupnya, tetapi menginginkannya, merindukan keanggunan Tokyo yang sunyi dan kehidupan yang dimurnikan melalui ritual dan kesendirian. Hirayama berdiri di hadapan kita sebagai sosok yang memilih melepaskan diri dalam ketidaktahuan, tetap tak terjelaskan, dan enggan mengakui kekerasan serta ketimpangan yang membentuk kehidupan kontemporer.
Pada akhirnya, Perfect Days menjadi kesaksian tentang romantisme sebagai alat estetika, dan kemampuannya membius indera dari realitas. Dalam membumikan dirinya sepenuhnya pada ritmenya sendiri, Hirayama sekaligus meniadakan bahaya dan kekerasan yang mengelilinginya. Mungkin inilah refleksi dari politik Wim Wenders sendiri: sebuah instrumentalisasi romantisme yang disengaja sebagai cara untuk menjauh dari kenyataan yang mengitari dirinya.
Dalam Berlin Film Festival, Wim Wenders menyatakan bahwa para pembuat film, seperti dirinya, sebaiknya “tidak bermain di ranah politik”, yang semakin menegaskan karakterisasi ini dalam premis filmnya. Film selalu bersifat politis – bukan hanya melalui apa yang ia nyatakan, tetapi juga melalui apa yang ia pilih untuk tidak ungkapkan. Pilihan sadar untuk kembali pada romantisasi adalah tindakan politis itu sendiri: sebuah undangan untuk memanjakan indera, sekaligus menarik diri dari konteks moral dan politik.
Keindahan yang dulu saya kagumi perlahan lenyap di depan mata dan yang tersisa hanyalah sebuah bejana seni yang kosong.