Modernitas dan Fleksibilitas pada Wajah Baru Kemenekraf/Bekraf oleh Thinking*Room

Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kemenekraf/Bekraf) memperkenalkan logo baru yang mencerminkan semangat ekonomi kreatif sebagai “The New Engine of Economic Growth” pada ajang Mandalika Festival of Speed 2024 Final Round, Minggu (08/12/2024). Dalam siaran pers resmi, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamenekraf), Irene Umar, menegaskan bahwa peluncuran logo baru ini merupakan bukti keseriusan pemerintah Indonesia dalam memberikan dukungan pada sektor ekonomi kreatif. “Hari ini saya sangat senang untuk memperkenalkan logo baru ekonomi kreatif. Untuk pertama kalinya, ada Kementerian Ekonomi Kreatif sebagai bukti keseriusan pemerintah terhadap sektor ekonomi kreatif, dan sebagai kementerian baru, kita tidak boleh melupakan akar kita yaitu Bekraf. Karena itu, logo ini serupa dengan logo Bekraf sebelumnya, namun kita tingkatkan logonya sesuai dengan zaman sekarang dan harapan ke depan.” 

Thinking*Room, studio desain yang dikenal akan karya-karyanya yang inovatif, kembali dipercaya merancang identitas visual baru untuk Kemenekraf/Bekraf. Dalam wawancara eksklusif dengan Grafis Masa Kini, Ritter Willy Putra dan Ira Carella, Art Directors Thinking*Room, membagikan cerita di balik proses kreatif, filosofi, dan tantangan dalam perancangan identitas visual ini.

Hubungan Thinking*Room dengan Kemenekraf/Bekraf terjalin saat perancangan identitas visual Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) pada 2015 silam. Seiring dengan restrukturisasi kabinet, Kemenekraf dipisahkan menjadi entitas tersendiri, dan kebutuhan akan penyegaran logo BEKRAF pun lahir. Ritter menceritakan, “Tim Kemenekraf/Bekraf menghubungi ADGI (Asosiasi Desainer Grafis Indonesia), yang kemudian merekomendasikan kami untuk menangani proyek ini karena kami adalah tim yang sebelumnya mengerjakan logo BEKRAF.” Sementara itu, Ira menambahkan bahwa ada permintaan untuk mempertahankan elemen logo BEKRAF sebelumnya, yang dianggap telah membangun ekuitas positif selama satu dekade terakhir. Namun, penyegaran tentu diperlukan untuk mencerminkan visi dan misi baru Kemenekraf/Bekraf sebagai “New Engine of Growth.”

zoom-1

Mengikuti perkembangan zaman dan laju digitalisasi dalam sektor ekonomi kreatif, konsep utama dalam logo Kemenekraf/Bekraf mengedepankan semangat modernitas, progresivitas, dan fleksibilitas. Sebelumnya, logo BEKRAF sendiri memiliki simbol sparks dengan 16 sudut—mewakili 16 subsektor ekonomi kreatif. Kini, jumlah subsektor telah bertambah dan angka tersebut sangatlah dinamis, bisa terus berubah. Oleh karena itu, menurut pernyataan Ira, konsep berbasis angka dinilai kurang relevan. Thinking*Room kemudian ditantang untuk menyematkan kesan modernitas dan futuristik dalam logo ini. “Dalam menjawab tantangan tersebut, kami membayangkan logo ini sebagai objek tiga dimensi supaya kita bisa melihat dari angle-angle lain, perspektif lain. Mungkin, akan muncul narasi dan konsep baru, pemaknaan baru, terhadap logo ini,” jelas Ira lebih lanjut. Setelah gagasan matang, lahirlah satu bentuk grafis yang tak terputus—layaknya garis dan lingkaran yang elastis, dapat berubah menjadi berbagai bentuk. Ada begitu banyak kemungkinan yang bisa dikembangkan dari objek tersebut.

Berdasarkan Keputusan Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Nomor SK/2/HK.01.02/MK-EK/2024 Tentang Penetapan Logo Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif, garis utama yang melengkung merupakan reimajinasi proses kreatif yang dinamis, tidak saklek, dan terus terhubung—menggambarkan kreativitas yang tidak terbatas. Alih-alih kembali menggunakan konsep angka, berbagai subsektor kreatif yang ada di Indonesia digambarkan dengan grafis lingkaran tak terputus, yang menekankan pada keragaman dan keterhubungan satu sama lain. Di sekitar grafis utama, terdapat delapan titik sebagai representasi para pelaku ekonomi kreatif di Indonesia, sejalan  dengan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2019 tentang Ekonomi Kreatif, khususnya mengenai pengembangan Ekosistem Ekonomi Kreatif yang dilakukan  melalui pengembangan riset, pengembangan pendidikan, fasilitasi pendanaan dan pembiayaan, penyediaan infrastruktur, pengembangan sistem pemasaran, pemberian insentif, fasilitasi kekayaan intelektual, dan pelindungan hasil kreativitas. Setiap titik dalam logo ini bersinar, membawa pesan bahwa Asta Cita adalah kompas pembangunan yang berpijak pada nilai kebangsaan. Logo ini merupakan simbol pergerakan, optimisme, dan kerja nyata menuju Indonesia yang sejahtera,  berdaya saing, dan bermartabat di tingkat global.

zoom-2

Ritter menambahkan bahwa bentuk melingkar dan titik-titik yang bergerak juga menjadi simbol gerbang menuju berbagai peluang ekonomi kreatif. “Logo ini menampilkan esensi ekonomi kreatif sebagai salah satu kekuatan penggerak ekonomi yang bergerak sirkular,” katanya. Konsep tersebut sejalan dengan bentuk sirkular logo ini—simbolisme perputaran ekonomi. Tampak atas dari logo ini juga menyerupai percikan, menjadi simbol misi untuk memercik laju pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Beralih ke warna, logo baru ini meninggalkan kesan eksklusif yang tercermin dari palet emas, hitam, dan putih yang sebelumnya digunakan oleh logo BEKRAF. Sebagai gantinya, warna biru dipilih untuk menciptakan kesan yang lebih ramah dan modern. “Kami pilih biru langit. Kami bayangkan seperti melihat langit yang melambangkan kemungkinan tak terbatas,” ungkap Ira. “Pendekatan ini sejalan dengan visi Kemenekraf/Bekraf yang ingin tampil lebih segar dan inklusif.” Warna biru juga memberikan nuansa yang lebih akrab, mencerminkan keinginan Kemenekraf/Bekraf untuk lebih dekat dengan masyarakat dan pelaku kreatif. Kesan segar dari warna biru dan paduannya diharapkan dapat mengundang semangat baru yang menggerakkan seluruh sektor ekonomi kreatif menuju Indonesia yang mendunia.

Proses kreatif yang berlangsung selama kurang lebih dua bulan ini membawa tantangan sendiri bagi tim Thinking*Room. Terbiasa dengan rancangan logo dua dimensi, Ira dan tim merasakan proses yang berliku dalam menemukan bentuk tiga dimensi sekaligus menyematkan narasi ke dalamnya dengan seamless, tanpa kehilangan karakteristik logo lama. Lebih lanjut, Ritter menegaskan bahwa logo BEKRAF sebelumnya memiliki rekam jejak positif di kalangan pelaku kreatif dan masyarakat luas, sehingga transformasi ini harus dilakukan dengan hati-hati. “Kehadiran Kemenekraf/Bekraf ini sangat ditunggu-tunggu oleh para pelaku kreatif. Nah itulah yang menjadi tantangan, bagaimana kita menularkan semangat yang sama? Semangat BEKRAF itu tidak hilang dan dihapuskan begitu saja, tapi lahir kembali. Itu adalah salah satu hal yang membuat proses ini menjadi tricky,” imbuh Ritter. Namun, tantangan tersebut berhasil dihadapi dengan hasil yang memuaskan—sebuah logo yang tidak meninggalkan akarnya, tapi membawa semangat progresif yang tercermin di setiap elemen desainnya.

Logo baru Kemenekraf yang dirancang oleh Thinking*Room merupakan sebuah simbol perjalanan dan visi masa depan dari sektor ekonomi kreatif di Indonesia. Dengan perpaduan elemen grafis yang kuat, estetika modern yang memikat, dan narasi yang mendalam, identitas visual ini menjadi awal dari potensi besar ekonomi kreatif yang mendorong pertumbuhan bangsa Indonesia di masa depan.

gallery-1
gallery-2
gallery-3
gallery-4
gallery-5
About the Author

Alessandra Langit

Alessandra Langit is a writer with diverse media experience. She loves exploring the quirks of girlhood through her visual art and reposting Kafka’s diary entries at night.