Kenangan akan Rumah: "A house can still catch fire, even if you’re home 24/7" di Studio22nya
Ketika membayangkan sebuah rumah, sangat naluriah dalam ingatan untuk mengaitkannya sebagai struktur yang tertata rapi: atap yang kokoh, jendela kaca, pintu kayu, dinding putih merpati, ubin keramik. Deskripsi tersebut mengikat sosok “rumah” sebagai simbol domestisitas yang lekat dengan ilusi stabilitas seorang perempuan (baca: sebagai ibu rumah tangga, istri, dll.) yang berada dalam “puncak kehidupannya”. Akibatnya, sebuah rumah hanya dianggap utuh saat seorang perempuan ditempatkan di dalamnya untuk merawat. Namun, dalam pameran Ajeng Martia Saputri di Studio22nya, gagasan ini direnggangkan bahkan dipecahkan.
Berjudul A house can still catch fire, even if you’re home 24/7, Ajeng mentransformasikan ruang galeri menjadi sebuah situs penelaahan. Karya-karyanya merupakan aksi mengingat kembali dan membayangkan ulang apa yang pernah menjadi sebuah rumah, dengan setiap karya hadir sebagai situs reruntuhan yang bersaksi atas pengalaman hidup sang seniman. Tidak ada “awal–tengah–akhir” yang jelas dalam susunan karya, yang mengisyaratkan kelenturan dalam membaca linimasa; barangkali juga sebagai gestur terhadap sifat siklik dari kelahiran kembali dan pemulihan. Di sini, penonton diundang untuk menyusun kronologi mereka sendiri, memperlakukan setiap karya sebagai fragmen yang menuntut untuk dirangkai menjadi sebuah narasi utuh. Dari cat air hingga patung, Ajeng menyematkan cerita dalam berbagai medium, menjadikan setiap komposisi sebagai jejak peristiwa yang mengarah pada kebakaran.
Kelembutan palet warna merah muda, putih, dan merah berfungsi sebagai penyangga bagi kebenaran yang terkandung di dalam setiap karya, sekaligus menjadi undangan halus yang menarik penonton untuk mendekat. Pada pandangan pertama, saya terpikat oleh karya pusat pameran: skulptur rumah yang meleleh berjudul The Burned House. Bukan semata karena keindahan atau kemegahan bentuknya, melainkan karena aroma lilin yang samar namun menetap. Karya itu mengingatkan pada upaya menelusuri ingatan -- yang jarang hadir dalam bentuk kebrutalan yang utuh, melainkan sebagai residu -- yang muncul kembali melalui upaya mengingat. Relasi ini tampaknya bergema dalam penempatan karya tersebut, ditemani oleh The Documentation of the Firehouse yang terus berputar di latarnya. Dalam menghadapi apa yang tersisa dari rumah itu, penonton didorong untuk menyaksikan sekaligus kebakaran itu sendiri dan reruntuhan yang ditinggalkannya.
Menyoal kebakaran itu, Ajeng mengajak penonton untuk menelusuri kondisi yang membentuknya. Serangkaian cat air hadir sebagai fragmen ingatan tentang “kehidupan” di dalam rumah: gunting di samping pisau (Attempt #1), sepasang gunting (Attempt #2), rumah sebelum terbakar (Facade), dua kelinci dalam pelukan (A Mother and Her Bunny), jejak darah (My Womb, Strands of Hair and Traces of Red), serta tubuh seorang perempuan yang ditandai bekas operasi caesar di samping penjepit kertas yang patah (Mother Skin). Simbol-simbol ini membutuhkan waktu untuk sepenuhnya dipahami, dan ketika akhirnya terbaca, ia menghadirkan sebuah paradoks: kelembutan cat air menyamarkan kebrutalan yang tertanam dalam penggambaran yang halus, sekaligus menyingkap retakan yang kerap luput dalam ruang domestik.
Setelah kebakaran, serangkaian diorama (Furniture Relics #1–#4) menampilkan sisa-sisa furnitur yang rusak, menunjuk pada kehilangan material yang ditinggalkannya. Namun, yang mencolok justru adalah ketiadaan tanda-tanda luka pada tubuh para penghuni rumah; tidak ada figur yang memikul bekas kebakaran, juga tidak ada penghormatan yang secara eksplisit meratapi korban jiwa. Mereka yang berada di dalam rumah tampaknya berhasil melarikan diri, meninggalkan hanya serpihan dari apa yang pernah disebut rumah. Barangkali kita hanya menangkap sekilas kehidupan setelahnya melalui Three Witches, yang menghadirkan nada yang sangat berbeda: tiga sosok tersenyum, terikat dalam pelukan yang hangat. Apakah ini yang (atau siapa yang) muncul dari reruntuhan? Karya ini berdiri terpisah, baik secara material maupun konteks, menawarkan kemungkinan kehangatan dan solidaritas di tengah sisa-sisa kehancuran.
Setelah beberapa kali berputar mengelilingi galeri, dan melalui upaya saya sendiri untuk memahami keseluruhan kehancuran dalam karya-karya Ajeng, kebakaran itu perlahan menguap menjadi metafora. Yang tersisa adalah desakan sunyi bahwa sesuatu terus berlanjut melampauinya. Barangkali pameran ini tidak menawarkan penutupan, juga tidak memberikan kenyamanan rekonstruksi atau kembalinya sebuah rumah yang teridealkan. Sebaliknya, Ajeng menempatkan kita, sebagai penonton, di sebuah ruang antara, di mana ingatan, kehilangan, dan keberlangsungan hidup berdampingan tanpa hirarki. Rumah, yang dahulu dibayangkan sebagai situs kepastian, terungkap sebagai sesuatu yang rapuh dan berpori, selalu rentan terhadap retakan—dan reruntuhannya sendiri. Dengan demikian, A house can still catch fire, even if you’re home 24/7 menjadi bukan lagi semata tentang kehancuran, melainkan tentang proses yang rumit dan tak pernah selesai dalam hidup bersama apa yang tersisa.