Manita Songserm dan Tafsir Baru Desain Grafis Thailand Kontemporer

Author/Source: Ellen Wang (Hsien-Tzu Wang),

Golden Pin Design Award


Ketika berbicara soal skena desain Thailand, banyak orang cenderung langsung membayangkan warna-warna yang mencolok dan ekspresi visual yang riuh. Namun, praktik grafis desainer asal Thailand, Manita Songserm, justru bergerak dengan cara yang lebih “tenang” sekaligus radikal. Melalui tipografi, struktur yang ketat, serta penggunaan bidang warna yang anteng, Manita mengembangkan bahasa visual yang presisi, eksperimental, dan fungsional: sebuah pendekatan yang tidak hanya mengajak audiens untuk melihat, tetapi juga terlibat.

Pendekatan inilah yang mengantarkannya meraih sorotan pada Golden Pin Design Award 2024. Key visual yang ia rancang untuk pameran Crossover II: The Nature of Relationships di Bangkok Art and Culture Centre (BACC) berhasil memenangkan Best Design Award dalam kategori Communication Design. Penghargaan ini menandai momen bersejarah: Manita menjadi desainer Thailand pertama yang menerima predikat Best Design di kategori tersebut dalam ajang Golden Pin Design Award.

Lahir pada 1990, Manita Songserm (มานิตา ส่งเสริม), yang akrab disapa Mai, merupakan lulusan Fakultas Seni Rupa dan Seni Terapan, Universitas Chulalongkorn. Tak lama setelah menyelesaikan studinya, ia bergabung dengan Bangkok Art and Culture Centre sebagai desainer grafis internal. Di institusi inilah Manita dengan cepat membangun bahasa visual yang konsisten, mudah dikenali, dan kontekstual.

“Banyak orang mungkin melihat gaya saya dari typeface yang saya gunakan serta cara memilih dan menyusunnya,” ujar Manita. “Namun bagi saya, yang terpenting adalah keterbukaan; menyerap hal-hal yang sedang saya minati, lalu menyusunnya kembali melalui desain, sering kali dengan sistem grid simetris.”

zoom-1

Pada 2019, sebelum genap berusia 30 tahun, Manita terpilih menjadi anggota Alliance Graphique Internationale (AGI). Pencapaian ini menempatkannya sebagai salah satu figur penting generasi baru desainer grafis Thailand, sekaligus membawa karyanya masuk ke dalam percakapan desain global. 

Setiap tahun, BACC menyelenggarakan Early Year Project, sebuah platform yang didedikasikan bagi seniman-seniman muda. Dalam perannya sebagai desainer grafis institusi tersebut, Manita bertanggung jawab merancang identitas visual baru; bekerja dalam kerangka pameran yang sama, tetapi harus merespons tema dan praktik artistik yang selalu berbeda. Eksplorasinya terhadap tipografi, grid simetris, dan sistem struktural secara konsisten menghasilkan hasil visual yang segar. Dalam konteks ini, komunikasi dwibahasa, Bahasa Thailand dan Bahasa Inggris, memegang peran penting, sekaligus menghadirkan tantangan tersendiri.

“Karena saya bekerja di ranah desain komunikasi dan materi promosi, karakter huruf Thailand dan Inggris sangat berbeda,” jelasnya. “Spasi, ritme, dan kepadatan visualnya menghasilkan respons emosional yang sama sekali tidak serupa.” Alih-alih melihat perbedaan ini sebagai keterbatasan, Manita justru memaknainya sebagai peluang kreatif. “Pada akhirnya, teks Thailand bahkan bisa saja tidak lagi berfungsi sebagai bahasa yang harus dibaca, melainkan sebagai elemen visual dan estetis.” Eksperimennya pun melampaui bahasa tulis. Dalam Early Year Project 2024, Manita memperkenalkan bahasa isyarat sebagai sebuah sistem grafis. Delapan gestur tangan diterjemahkan menjadi rangkaian poster yang merespons tema pameran IN A COGITATION.

“Jika diperhatikan, setiap proyek biasanya selalu melibatkan pergeseran teknis atau elemen baru,” ujarnya. Dengan memanfaatkan bahasa isyarat, Manita menciptakan titik masuk yang melampaui batas linguistik, memungkinkan pengunjung yang tidak membaca Bahasa Thailand maupun Inggris tetap dapat terhubung secara intuitif dan membangun interpretasi mereka sendiri terhadap pameran.

Seperti yang kita ketahui, desain yang baik tidak semata soal kebaruan visual atau kehalusan estetika. Desain harus mampu membuka dialog antara konten dan audiens, bahkan terkadang mengundang partisipasi. Prinsip ini tercermin jelas dalam karya Manita untuk Crossover II: The Nature of Relationships. Pada masa pandemi COVID-19, BACC tidak dapat meminjam karya seni dari institusi luar negeri. Sebagai gantinya, tim kurator bekerja sama dengan kolektor-kolektor privat di Thailand untuk menghimpun lukisan-lukisan Thailand yang dibuat antara 1945 hingga 2000, mencakup periode pasca-Perang Dunia II hingga Krisis Finansial Asia. Tantangannya jelas: bagaimana menghadirkan lukisan cat minyak abad ke-20 agar relevan bagi generasi audiens yang lebih muda?

zoom-2

Jawaban Manita adalah dengan memecah palet warna dari seluruh 70 lukisan tersebut menjadi piksel, lalu mentransformasikannya menjadi bagan warna abstrak yang berfungsi sebagai key visual pameran. Alih-alih langsung berhadapan dengan figur atau narasi visual, audiens pertama-tama disuguhi hamparan warna; sebuah pemantik rasa ingin tahu terhadap karya dan periode sejarah yang diwakilinya. “Warna membawa atmosfer dari suatu waktu tertentu,” ujar Manita. “Itu adalah sesuatu yang tidak benar-benar bisa direplikasi hari ini.” Dengan mereduksi lukisan menjadi palet warna murni, ia menghubungkan karya-karya historis tersebut dengan logika visual era digital, sekaligus mengajak pengunjung memasuki pameran dengan semangat eksplorasi.

“Memang benar, ketika memikirkan desain Thailand, warna biasanya langsung terlintas di benak,” kata Manita sambil tertawa. “Saya melihatnya setiap hari juga, jadi saya paham.” Namun baginya, desain tidak harus tunduk pada ekspektasi visual yang sudah ditentukan.

Saat mengembangkan visual pameran untuk wilayah Isan di timur laut Thailand (daerah yang kerap diasosiasikan dengan warna-warna cerah), Manita justru menoleh pada kerajinan bambu lokal dan cara hidup sehari-hari masyarakat setempat. Referensi ini kemudian diterjemahkan ke dalam pendekatan tipografi yang menekankan tekstur halus dan sensitivitas material, menghasilkan bahasa visual yang terkendali namun berakar kuat pada konteks lokal.

“Karya saya merefleksikan kepribadian dan pengalaman hidup saya,” jelasnya. “Saya hidup di tengah kekacauan, kontradiksi, dan intensitas; tetapi juga di tengah struktur, aturan, dan tekanan. Ketegangan itulah yang membuat saya ingin menghadirkan keteraturan dalam desain. Karya seni saya adalah ruang untuk bereksperimen dan menciptakan sesuatu yang baru, sering kali dengan mencampurkan elemen budaya global.”

Negosiasi yang terus-menerus antara chaos dan keteraturan ini membentuk apa yang bisa kita sebut sebagai estetika desain Thailand yang tidak tipikal; sebuah perspektif warga, alih-alih estetika nasional yang kaku. Bagi Manita Songserm, desain bukan sekadar alat promosi, melainkan ruang dialog, interpretasi, dan kepengarangan bersama antara desainer, karya seni, dan audiens.

web-22
web-23
web-24
web-25
web-26
web-27
About the Author

Alessandra Langit

Alessandra Langit is a writer with diverse media experience. She loves exploring the quirks of girlhood through her visual art and reposting Kafka’s diary entries at night.

Let your work shine!

Your work takes center stage! Submit your final assignment here to be assessed by experts of the field.

Submit

Recomended Reading

Get ahead of the game with GMK+

Keep your finger on the pulse of the art and design world through newsletters and exclusive content sent straight to your inbox.