Mahavisual: Jembatan Antara Seni dan Brand

Sejak didirikan pada tahun 2020, Mahavisual hadir sebagai jembatan yang memfasilitasi kolaborasi serta komunikasi antara seniman visual dan merek. Dengan dua model bisnis utama—creative agency dan artist management—Mahavisual memadukan seni visual dengan konsep kreatif untuk membantu merek terhubung secara mendalam dengan audiens mereka. Tidak hanya itu, Mahavisual juga menginkubasi seniman agar berkembang dan mencapai potensi maksimal mereka. Saat ini, Mahavisual dengan bangga mewakili seniman Indonesia seperti Darbotz, Popomangun, Tempa, dan Yessiow.

Mahavisual sendiri bisa dibilang merupakan "produk pandemi." Digawangi oleh tiga sekawan, Fakhruddin Arrazi, Inggrit Yusrina, dan Yudha Ludiranto, bisnis ini bermula dari pengalaman pribadi salah satu dari mereka dalam mengelola seorang seniman. “Awalnya, Mas Razzi memanajeri Stereoflow. Lama kelamaan, pekerjaannya semakin banyak, sehingga kami memutuskan untuk membentuk Mahavisual,” cerita Yudha, yang kini bertanggung jawab di bidang operasional dan inisiatif komunitas. Meski tidak berlatar belakang seni atau periklanan, trio pendiri Mahavisual menemukan pendekatan unik dalam mengelola seniman. "Kami menggunakan cara berpikir yang berbeda. Mungkin itu juga yang menjadi kekuatan kami," tambah Razzi, Managing Director Mahavisual. Kini, hasil kerja Mahavisual semakin dikenal dan dapat dilihat sebagai bentuk kolaborasi besar antar seniman dan merek kenamaan seperti Monster Playground di Bintaro Exchange Mall 2 yang oleh Darbotz, Stereoflow's Bridge di Soundrenaline 2022, hingga Tehbotol Sosro's Ruang Pesona Asli Indonesia di Jakarta.


Dalam praktik hariannya, Mahavisual menawarkan empat layanan utama: kolaborasi seniman, instalasi seni, produksi mural, dan aktivasi merek. Layanan-layanan ini bertujuan menjembatani kebutuhan klien yang ingin berkolaborasi dengan seniman, tetapi sering kali tidak tahu strategi yang tepat. Yudha menjelaskan, "Kami melihat dua tipe seniman: ada yang suka aspek manajerial, ada juga yang tidak. Nah, kami hadir untuk membantu tipe yang kedua." Dengan klien besar seperti Teh Botol Sosro, Compass, dan BCA, Mahavisual mengelola kolaborasi dengan pendekatan berbasis masalah, dengan perspektif solutif. "Prinsipnya, seni adalah solusi untuk menciptakan kesadaran atau bahkan meningkatkan penjualan. Jadi, framework yang kami buat membantu brand dan seniman bertemu di tengah," ujar Razzi. Salah satu tantangan utama yang dihadapi Mahavisual dalam praktik sehari-hari ini adalah menjembatani bahasa antara seniman dan merek. "Bahasa marketing dan bahasa seniman itu beda banget," kata Yudha. “Di sinilah peran Mahavisual menjadi vital,” lanjutnya. Mahavisual berfungsi sebagai mediator, menerjemahkan kebutuhan merek ke seniman dan sebaliknya. Menurut Inggrit, yang mengelola aspek keuangan, proses ini membutuhkan sensitivitas yang tinggi. "Seniman cenderung idealis, sementara klien biasanya punya target KPI yang ketat. Kami harus menemukan titik temu agar kedua belah pihak merasa nyaman dan bisa berkolaborasi.” Tak hanya itu, Mahavisual juga hadir sebagai pendukung operasional. Mereka memastikan semua proses berjalan lancar, mulai dari kontrak legal hingga laporan keuangan. “Kami membantu merapikan hal-hal di belakang layar agar seniman bisa fokus pada karya mereka,” tambah Inggrit.

Sebagai pelopor dalam manajemen seniman visual di Indonesia, Mahavisual melihat adanya tantangan yang dengan berani mereka hadapi dengan berbagai risikonya: kurangnya benchmark manajemen seniman di industri ini. “Di Indonesia, manajemen seniman lebih banyak untuk aktor atau KOL. Untuk seniman visual, hampir tidak ada acuan,” ungkap Inggrit. Namun, tantangan ini juga menjadi peluang bagi Mahavisual untuk berinovasi. Mereka menciptakan sistem kerja yang transparan, mulai dari kontrak tertulis, pertemuan rutin, hingga laporan keuangan. Semua ini dilakukan untuk memastikan bahwa seniman yang mereka kelola mendapatkan dukungan yang maksimal. Mahavisual juga lahir dari kebutuhan nyata para seniman. Menurut Yudha, menjadi tim yang mendukung proses berkarya seniman visual adalah hal yang penting bagi Mahavisual. “Kalau kita lihat seniman besar di luar negeri seperti KAWS atau Takashi Murakami, tidak bekerja sendiri. Mereka memiliki tim besar yang mendukung mereka. Itulah yang kami coba terapkan di sini,” jelas Yudha.


Praktik Mahavisual tidak hanya berfokus pada keberhasilan kolaborasi, tetapi juga membangun ekosistem seni yang berkelanjutan di Indonesia. Salah satu inisiatif yang sedang dikembangkan adalah komunitas seniman dan platform media untuk mendukung ekosistem tersebut. "Kami mengadakan offline meeting bulanan untuk seniman. Ini cara kami membangun komunitas," jelas Razzi. Selain itu, Mahavisual mengelola dua model bisnis untuk memastikan keberlanjutan. "Kalau hanya mengandalkan manajemen seniman, mungkin sulit untuk sustain. Maka dari itu, kami tambahkan creative agency sebagai pilar bisnis," ujar Yudha. Mahavisual memiliki visi besar: memberikan dampak nyata dan menetapkan standar baru di industri seni Indonesia. Dengan apa yang mereka kerjakan hingga hari ini, Mahavisual berharap dapat mengangkat karya seniman Indonesia ke panggung dunia. "Kami ingin menjadi jembatan yang tidak hanya menghubungkan seni dengan merek, tetapi juga membantu seniman Indonesia untuk berkembang secara profesional," tutup Yudha. Mahavisual telah membuktikan bahwa seni tidak hanya untuk dinikmati, tetapi juga menjadi alat yang kuat untuk membangun hubungan dengan klien. Dengan pendekatan unik mereka, Mahavisual membawa harapan baru bagi ekosistem seni visual Indonesia.

Slide-1
Slide-2
Slide-3
Slide-4
Slide-5
Slide-6
Slide-7
About the Author

Alessandra Langit

Alessandra Langit is a writer with diverse media experience. She loves exploring the quirks of girlhood through her visual art and reposting Kafka’s diary entries at night.