Kilas Balik Bangkok Design Week 2025: Membawa Desain Kembali ke Publik Lewat Estetika Keseharian


Sumber/Penulis: Ellen Wang (Golden Pin Design Award, Taiwan)

Bangkok Design Week 2025 merespons wacana desain dengan membawa apa-apa yang ada di ruang publik. Figur polisi jerami, bus kota, rambu jalan, stiker “welcome child” di gerobak pedagang, pipa biru, objek-objek yang memenuhi ruang publik Bangkok dan nyaris tidak pernah disebut sebagai desain. Elemen-elemen ini dipilih sebagai inti visual oleh Pink Blue Black & Orange (PBBO), studio desain asal Thailand yang dipercaya merancang identitas utama acara.

Hal yang membuat proyek ini berbeda adalah keputusan untuk membuka seluruh prosesnya ke publik. Seluruh proses desainnya dibuka ke publik dan ditransformasikan menjadi sebuah pameran yang dapat diakses umum, menjadi eksperimen hidup tentang bagaimana desain dapat kembali ke kehidupan sehari-hari, serta bergerak dari konteks lokal menuju pemahaman global. Identitas visual tidak berhenti sebagai materi promosi. Dalam konteks ini, desain ditempatkan sebagai sebagai cara berpikir yang terus bergerak.

Pilihan bahasa visual ini menandai pergeseran dari edisi-edisi sebelumnya. Bangkok Design Week selama beberapa tahun dikenal melalui estetika yang rapi, abstrak, dan mudah dibaca secara “internasional”. Pada Bangkok Design Week 2025, PBBO memilih jalur lain. Visual yang mereka bangun terasa padat dan ramai. Ia menyerupai lanskap kota Bangkok itu sendiri, penuh lapisan, pertemuan, dan improvisasi.

Pendekatan ini berangkat dari cara masyarakat Thailand menjalani keseharian. Banyak persoalan diselesaikan melalui adaptasi dan tambal sulam. Furnitur rakitan, solusi sementara yang bertahan lama, benda-benda yang terus dipakai meski tidak dirancang sebagai produk desain formal. PBBO membaca kondisi ini sebagai bentuk kecerdikan kolektif. Dari sana, desain tidak lagi membuat jarak profesional, melainkan ditarik kembali ke pengalaman hidup sehari-hari.

zoom-1


Visual Bangkok Design Week lalu menyebar ke ruang kota. Stiker anak kecil dengan salam “sawasdee” menempel di pintu toko. Spanduk dengan citra jimat Buddhis muncul di jalur-jalur publik. Humor lokal hadir tanpa perlu penjelasan. Warga kota tidak dihadapkan pada visual yang meminta dipahami sehingga desain terlihat sebagai objek yang berjarak. Sementara, desain sendiri seringkali hadir dari visual yang sudah mereka kenal dan temui.

Dalam beberapa tahun terakhir, visual Bangkok Design Week sering dipuji karena terasa global. Namun pujian itu juga menyisakan jarak. Estetika minimal dan abstrak tidak selalu berangkat dari pengalaman visual sehari-hari warga kota. Ketika Thailand Creative Economy Agency menetapkan tema “Design Up + Rising”, PBBO dipilih karena kemampuannya menerjemahkan kreativitas yang selama ini terlewat menjadi bahasa visual yang bisa dikenali bersama.

“Desain sering dipersepsikan sebagai sesuatu yang jauh, mewah, atau dekoratif, dengan relevansi praktis yang minim bagi kehidupan sehari-hari,” ujar PBBO dalam wawancara dengan Ellen Wang. “Yang ingin kami tunjukkan adalah bahwa desain itu sangat dekat dengan hidup. Ia hadir dalam cara berpikir kreatif, seperti furnitur improvisasi yang sering kita temui di jalan.” 

Mereka justru melihat desain sebagai cara berpikir yang lahir dari keterbatasan. Dari situ muncul keputusan untuk menjadikan proses sebagai bagian dari komunikasi. Dengan tenggat yang ketat, PBBO merilis visual utama secara bertahap. Dimulai dari gambar garis hitam putih, lalu warna dengan saturasi tinggi, hingga versi yang berlapis tekstur dan kedalaman ruang.

Pendekatan maksimalis ini juga mencerminkan kondisi budaya Thailand itu sendiri. Publik diajak untuk menyaksikan bagaimana sebuah bahasa visual tumbuh dalam masyarakat yang dibentuk oleh interaksi panjang antara tradisi Eropa, Tiongkok, Islam, dan budaya lokal. Di dalam semesta visual ini, simbol-simbol keseharian muncul sebagai penanda. Polisi jerami, bus kota, inhaler hidung, hingga rujukan ke tempat makan lokal. Humor bekerja sebagai pintu masuk. Ia membuat visual terasa dekat dan mudah dibagikan. Dalam konteks ini, humor berfungsi sebagai bentuk daya tarik kultural yang bekerja tanpa perlu diterjemahkan.

“Kami tidak takut pada warna berani, elemen yang tidak biasa, atau hal-hal yang mungkin terlihat aneh. Keberanian itu lahir dari hidup di lingkungan yang sangat beragam,” jelas PBBO.

zoom-2


Keputusan PBBO tidak berhenti pada identitas visual. Selama Bangkok Design Week, mereka mengkurasi pameran yang membuka seluruh tahapan kerja. Riset, sketsa, proposal, hingga penerapan di ruang kota dipertunjukkan sebagai satu rangkaian. Pengunjung dapat mengikuti perubahan dari garis menjadi warna, dari bidang datar menjadi instalasi.

Ruang pamer memberi kesempatan bagi publik untuk terlibat. Dinding mewarnai memungkinkan orang menafsirkan ulang visual utama. Elemen jalanan, lapak jimat, ritual angka keberuntungan, terpal biru, direkontesktualisasikan ke dalam ruang pamer. Kaca pembesar disediakan untuk mengajak pengunjung memeriksa detail-detail kota yang kerap terlewat, seperti meneliti detail sebuah jimat.

PBBO menyadari bahwa tidak semua orang memiliki hubungan emosional yang sama dengan objek-objek ini. Namun mereka tetap mengundang publik masuk. Benda-benda tersebut diposisikan sebagai bagian dari identitas bersama yang tidak perlu dirapikan agar layak tampil. “Kami ingin orang menyadari bahwa benda-benda ini unik dan bernilai. Mereka milik kita, dan tidak perlu disembunyikan atau dikecilkan,’ ujar mereka.

Mereka juga memperkaya pemahaman pengunjung dengan video wawancara yang mempertemukan perspektif desainer dan pengamat budaya internasional. Banyak pengunjung keluar dengan kepekaan baru terhadap lingkungan visual mereka sendiri, terhadap energi desain yang selama ini tidak diberi nama.

Sejak awal, PBBO tidak berniat menyesuaikan desain Thailand dengan standar estetika global. Mereka memilih memperbesar bahasa visual lokal dengan jujur. Pendekatan ini justru membuat proyek mereka bergerak lebih jauh. Pengaruhnya berlanjut ke ruang komersial seperti Siam Center, tempat PBBO terus menerapkan bahasa desain berorientasi keseharian mereka. Selain itu, Bangkok Design Week 2025 meraih Good Design Award dari Jepang serta Golden Pin Design Award yang diselenggarakan di Taiwan. 

Proyek ini menunjukkan bahwa desain yang dapat dibaca secara global sering kali lahir dari keberanian untuk tinggal di konteks lokal. Di Bangkok, benda-benda jalanan yang sering diabaikan kini menjadi titik mula sebuah bahasa visual yang dipahami lintas batas.

web-20
web-21
web-22
web-23
web-24
web-25
About the Author

Dhanurendra Pandji

Dhanurendra Pandji is an artist and art laborer based in Jakarta. He spends his free time doing photography, exploring historical contents on YouTube, and looking for odd objects at flea markets.