In The Name of Our Mother on Earth: Upaya Dian Suci Merengkuh Spiritualitas Feminin


Apa yang terjadi ketika doa tidak lagi diarahkan ke langit, melainkan kembali ke tanah tempat kita berpijak? Pertanyaan itu menyambut pengunjung saat memasuki ruang pamer BAIK ART di Jakarta melalui pameran tunggal Dian Suci, In the Name of Our Mother on Earth, yang dikurasi oleh Ibrahim Soetomo.

Dian menyajikan karya-karyanya dengan kesadaran dinamika spasial yang kuat, menggunakan pengalaman tubuh dan proses objek sebagai metafora. Lukisan, instalasi, ukiran kayu, objek tekstil, elemen alam, hingga karya video disusun sebagai satu rangkaian pengalaman yang mengajak pengunjung memperlambat langkah dan mendengarkan kembali hubungan tubuh, rumah, dan spiritualitas.

Gagasan utama pameran berangkat dari pembalikan doa patriarkal yang dikenal luas, “Bapa Kami di Surga”. Dian Suci menggeser pusat spiritualitas menuju sistem yang lebih tua, berakar pada kosmologi dan garis keturunan matrilineal. Melalui pendekatan ini, praktik artistiknya bergerak dari pengalaman perempuan sehari-hari, maternitas, kerja domestik, serta hubungan antara kerajinan dan logika produksi.


Di ruang lukisan, pengunjung berhadapan dengan figur perempuan tunggal dalam gaun rumah merah. Sosok ini jarang menatap langsung. Wajahnya sering disamarkan atau dipalingkan. Ia muncul dalam momen doa pribadi atau pelukan yang tenang. Figur tersebut dikelilingi simbol yang berulang: mawar yang menyala, kerang terbuka, dan buah delima yang terbelah. Motif-motif ini merujuk pada penyembuhan, perawatan, dan sejarah panjang femininitas, dari praktik herbal hingga mitologi kuno yang mengaitkan delima dengan cinta dan keilahian.

Komposisi karya menghadirkan dialog yang terasa intim. Lukisan-lukisan tersebut bekerja seperti monolog sunyi yang tetap hidup meski tanpa penonton. Dalam ruang hening itu, Dian menyusun refleksi tentang identitas perempuan dan pengalaman emosional yang sulit diucapkan.

Pendekatan berbeda muncul pada karya instalasi. Jika lukisan bergerak pada wilayah intrapersonal, karya spasialnya menyoroti posisi sosial perempuan. Lapisan kain transparan, teks, dan ukiran kayu menggantung dalam ruang, membentuk pengalaman yang melibatkan tubuh pengunjung secara langsung. Dalam praktiknya, Dian Suci mengeksplorasi persimpangan antara narasi domestik dan kekuasaan politik negara. Observasi personal Suci sebagai perempuan, anak perempuan, dan ibu tunggal menjadi landasan untuk bergerak ke persoalan yang lebih struktural.

zoom-2


Kritik Dian hadir melalui pembongkaran pengalaman kolektif yang pernah ia jalani. Pameran tunggal In the Name of Our Mother on Earth ini merupakan suatu penanda baru dalam perjalanan artistik Dian Suci setelah pameran tunggal terakhirnya yang berjudul Aku pingin crita dawa. Nanging apa kowe kuwawa? Aku kuwawa? pada tahun 2018. Melalui keseluruhan pameran, Dian Suci menghadirkan gagasan tentang bagaimana kekuatan yang bekerja tanpa dominasi itu tumbuh melalui penghayatan spritualitas feminin. 

Pameran berlangsung dari 14 Februari hingga 14 Maret 2026 di Baik Art Gallery, Jl. Sekolah Duta V No.35, Pondok Indah, Jakarta Selatan. 

web-16
web-17
web-18
web-19
web-20
web-21
About the Author

Dhanurendra Pandji

Dhanurendra Pandji is an artist and art laborer based in Jakarta. He spends his free time doing photography, exploring historical contents on YouTube, and looking for odd objects at flea markets.