Rumah, Tubuh, dan Ketahanan dalam Pameran Tunggal Fffffandy

Rumah kerap dipahami sebagai struktur paling awal yang kita huni; sebuah ruang yang, lewat pengalaman hidup, membentuk kebiasaan, cara berpikir, dan cara kita memaknai dunia. Dalam banyak budaya, rumah dilekatkan pada gagasan permanensi: memiliki lebih utama daripada menyewa, menetap lebih bernilai daripada berpindah, tinggal lebih diidealkan ketimbang nomaden. Stabilitas memberi rasa akrab dan menyediakan kerangka yang membuat kehidupan sehari-hari terasa lebih mudah untuk dipahami.

Namun, bagi Fffffandy, pengalaman tentang rumah tidak lagi hadir sebagai arsitektur yang tetap. Tahun-tahun pembentukannya diwarnai oleh perpindahan ketika ia tinggal di luar negeri setelah kerusuhan 1998 di Indonesia. Sepulangnya, makna rumah bergeser: bukan lagi pencapaian yang diraih lewat kepemilikan, melainkan sesuatu yang dipertahankan melalui kesementaraan. Rumah tidak lagi menjadi tujuan akhir, melainkan sebuah perjalanan yang terus dibentuk oleh keadaan.

Kehidupan dalam kondisi serba sementara ini menuntut negosiasi yang berulang; sering kali dalam situasi yang terasa lebih seperti jebakan daripada pilihan. Pameran Strange Currencies merangkum logika tersebut dengan membingkai keseharian sebagai rangkaian transaksi. Untuk tetap berada di sebuah kota, negara, atau tempat yang disebut “rumah”, waktu ditukar dengan rutinitas, kenyamanan, kompromi, dan mobilitas dengan kemacetan. Pertukaran yang timpang dan melelahkan ini menumpuk menjadi semacam “cara bertahan hidup”, bukan karena adil, melainkan karena memungkinkan seseorang untuk tetap tinggal.

Logika ini menjalar ke dalam karya-karya Fffffandy. Gambar-gambarnya menghadirkan rasa lelah yang berkelanjutan: figur dan objek tidak berambisi menuju resolusi, melainkan mengisyaratkan cara untuk terus berjalan. Berangkat dari keadaan putus asa, keluhan, dan keterbatasan, karya-karya tersebut tidak mendramatisasi perjuangan maupun menawarkan pelarian. Ia bekerja dalam temporalitas ketahanan, di mana ketidaknyamanan diakui dan diserap. Humor hadir sebagai bagian dari negosiasi, tanpa berubah menjadi komedi yang memberi kelegaan semu.

Pendekatan serupa terlihat pada furnitur karya Fffffandy, di mana objek-objek domestik berfungsi sebagai pembawa habitus dan menjadi semacam proksi tubuh yang dibentuk oleh pemakaian. Kursi-kursinya, yang lazimnya diasosiasikan dengan istirahat, dirancang nyaris tak berfungsi sebagai furnitur: bisa diduduki, tetapi tak pernah benar-benar nyaman untuk ditinggali. Ia mencerminkan tubuh yang terbiasa bertahan alih-alih bersantai, karena kenyamanan sengaja ditahan. Dalam sejumlah gambar, kursi tampil tak selaras atau menghalangi, bekerja bukan sebagai penopang, melainkan sebagai struktur sementara yang merekam bagaimana ketahanan dipelajari lewat penggunaan berulang.

Ruang pamer juga memperpanjang gagasan ini. Jejak interior muncul melalui dinding parsial dan elemen struktural yang dibiarkan terbuka, terlepas dari lokasi spesifik mana pun. Penutup plastik diaplikasikan pada dinding yang sejatinya sudah selesai, menangguhkan rasa finalitas. Bersama-sama, elemen-elemen ini menawarkan bentuk arsitektur domestik yang berbeda; mencerminkan cara hidup lewat penyesuaian terus-menerus, alih-alih berfokus pada titik akhir. Strange Currencies menjadi ajakan untuk berhadapan dengan sistem-sistem yang membentuk kita, sembari mengakui bahwa relasi kita dengannya belum pernah benar-benar selesai.

Pameran Strange Currencies dibuka untuk umum hingga 29 Maret 2026 di C ON TEMPORARY, Gormeteria Lantai 2, Jalan Pasir Kaliki 176, Bandung.

web-16
web-17
web-18
web-19
web-20
web-21
About the Author

Alessandra Langit

Alessandra Langit is a writer with diverse media experience. She loves exploring the quirks of girlhood through her visual art and reposting Kafka’s diary entries at night.