Sorotan Adobe Summit 2025 dan Karya Ardhira Putra di Sphere Las Vegas

Adobe Summit 2025 digelar dengan sukses di Las Vegas pada 17 hingga 20 Maret. Acara ini menjadi penanda penting dalam persilangan antara kreativitas, marketing, dan teknologi. Adobe Summit 2025 menarik perhatian ribuan profesional dari berbagai bidang, mulai dari desain, teknologi, hingga pemasaran digital. Namun, sorotan utama tahun ini jatuh pada bagaimana Adobe mendorong batas imajinasi melalui kecerdasan buatan (AI), serta bagaimana teknologi ini dirancang bukan untuk menggantikan kreativitas manusia, melainkan memperluasnya.

Kepada IT Brief Australia, CEO Adobe, Shantanu Narayen, menyebut era ini sebagai “masa keemasan desain,” di mana teknologi ikut andil besar dalam proses kreatif di berbagai sektor. Dalam berbagai sesi dan keynote, Narayen pun menekankan bahwa kreativitas tidak lagi menjadi milik segelintir orang dengan akses terhadap alat-alat profesional. Dengan teknologi Adobe terbaru, kreativitas kini dapat diakses siapa pun, kapan pun.

Salah satu program utama dari Summit tahun ini adalah pemutaran animasi di Sphere, Las Vegas, layaknya pameran imersif yang mengubah ruang monumental Sphere menjadi kanvas hidup yang dipenuhi karya ilustrasi digital. Pertunjukan ini merayakan karya para ilustrator dari berbagai negara di dunia, tak terkecuali Indonesia. Ardhira Putra menjadi ilustrator pertama dari Indonesia yang karyanya ditampilkan di Sphere, Las Vegas. Visual khas citypop yang menjadi keunikan Ardhira ditampilkan pada wajah Sphere—menarik perhatian siapa saja yang melewatinya. Hal ini sekali lagi membuktikan kiprah luar biasa Ardhira Putra di kancah global.

zoom

Pada keterangan resminya, Ardhira menceritakan bahwa ia mendapat proyek ini dari Cekai, sebuah agensi dari Jepang. Animasi yang digarapnya merupakan bagian dari kampanye fitur baru dari Adobe yang disebut Adobe Firefly, di mana Adobe telah terintegrasi dengan AI. Kampanye ini dibagi menjadi tiga bagian: Act 1 - Inspiration, Act 2 - Human Touch, dan Act 3 - Iteration Scale. “Bagian yang saya kerjakan adalah Act 3 Iteration Scale, yang menunjukkan potensi tak terbatas dalam memperluas ide melalui variasi, di mana dengan Firefly, kita dapat menciptakan kreasi tanpa batas,” kata Ardhira. Ide besar dari Cekai disebut Electric City, yang bercerita tentang seorang kreator yang menciptakan di atas kanvas dan menciptakan karakter bernama Tiger, yang berinteraksi dengan tiga kota: New York, Tokyo, dan London–kota-kota yang penuh imajinasi. Sebagai sutradara, Ardhira mencoba memvisualisasikan ide tersebut, mulai dari desain karakter, desain lingkungan, storyboard, hingga animasi penuh.

Karya animasi yang ditampilkan di Sphere, Las Vegas, menjadi tantangan baru bagi Ardhira yang harus bekerja dengan kanvas yang sangat besar. Di awal, Ardhira mengusulkan ide seperti bola salju dengan objek kota di dalamnya–mengingat pesan dari animasi ini adalah kota-kota imajinatif. “Kita harus bisa melihat bangunan dan elemen grafis dari tiap kota, serta transformasi dari satu kota ke kota lainnya, juga aktivitas dari karakter utama,” jelas Ardhira. Sang seniman sediri cukup familiar dengan Tokyo, namun untuk New York dan London, ia perlu waktu untuk riset dan mengumpulkan referensi. Tak hanya itu, Ardhira juga bereksperimen dengan warna-warna baru yang tidak biasa ia gunakan. 

Ardhira Putra merancang kota ini sebagai taman bermain bagi karakter utama, di mana ia bisa berinteraksi dengan seluruh objek di dalamnya. “Jadi semua objek perlu memiliki peran agar bisa dikaitkan dengan aktivitas karakter utama. Selain itu, saya juga mengatur tata letak alur animasinya, misalnya aktivitas dimulai dari bagian atas, lalu bergeser ke kiri bawah, kemudian ke kanan, agar gerakannya tetap dinamis—karena posisi kota statis. Jadi tantangannya adalah membuatnya tetap terasa dinamis," paparnya lebih dalam.

Ardhira Putra adalah seniman visual yang karya-karyanya mengambil pengaruh dari budaya pop Jepang era 80-an dan 90-an. Genre citypop tersebut terlihat jelas pada karya Ardhira lewat pemilihan warna-warna vibran dan grafis yang dinamis.  Dibesarkan di Jakarta, Ardhira sendiri memang tumbuh dalam lingkungan yang dipenuhi budaya pop Jepang melalui televisi, musik, internet awal, komik, mainan, dan video game

Ardhira adalah satu dari banyak pelaku industri kreatif yang berpartisipasi dalam Adobe Summit 2025. Secara keseluruhan, Adobe Summit 2025 menunjukkan masa depan yang menjanjikan bagi para kreator. Dengan teknologi yang semakin canggih dan inklusif, kreator dari berbagai latar belakang kini dapat mewujudkan ide mereka dengan cara yang lebih cepat, presisi, dan penuh kebebasan. Pertunjukan di Sphere merupakan perayaan akan masa depan seni dan desain yang semakin kolaboratif dan masif.

The Team:

Ardhira Putra - Director / @ardhiraputra

Gilang Bhagaskara - Producer / @gilangbh

Rani Kurniasari - Production Coordinator / @rani.kiraa

Azroi Hafidz - Character Designer / @azrhfdz

Alfonsus Andre - Illustrator and Graphic Designer / @alfonsusandre

Evan Wijaya -  Illustrator and Graphic Designer / @evanwijaya95

Jeffri Honesta -  Illustrator and Graphic Designer / @jeffrihonesta

Yuwanda Bagus - Lead 3D and CG Artist / @yuwa.34

Jeli - Concept 3D Artist 

Vanessa Patriciawi - 3D Artist / @vnessawi

Mahdi Abizain - 3D Artist / @mahdi.abzn

Girindabrahma - 3D Modeler / @girindrabrahma

Royan Aldina - Texture Artist / @royanaldina

Res Yudikata - Rigger / @yudikata

Royes Husni - Character Animation Director / @royes__

About the Author

Alessandra Langit

Alessandra Langit is a writer with diverse media experience. She loves exploring the quirks of girlhood through her visual art and reposting Kafka’s diary entries at night.