Frank Ocean & Mk.gee: Di Antara Jarak dan Suara 

Tuntutan akan branding telah meresap ke dalam modus operandi musik, menyusup ke dalam syarat-syarat bagi musisi untuk tampil dan berpraktik. Musisi dihadapkan pada pertimbangan konstan terhadap audiens melalui presentasi identitas dan peran yang mereka bangun untuk menyenangkan ‘sebuah’ audiens. Dalam lingkungan semacam ini, idealisme (mereka) dikompromikan atau, dalam kasus ekstrem, diubah demi konsumsi publik; karena mereka harus memastikan bahwa karya mereka memenuhi standar keterterimaan, yang pada akhirnya menentukan ambang batas kesuksesan mereka.

Mungkin alasan inilah yang mendorong segelintir musisi untuk menghindari tuntutan industri dan mengadopsi cara berkarya yang tidak berpusat pada penilaian audiens massal. Sebagian dari mereka memilih jalur independen, sementara yang lain mengambil langkah untuk meminimalkan kehadiran publik—menghilangkan kemungkinan kompromi terhadap visi mereka serta tekanan untuk mempertahankan sebuah ‘identitas publik’. Dapat dikatakan, mereka termasuk dalam gelombang musisi yang memprioritaskan idealisme terhadap karya mereka, dan dedikasi ini terasa kuat secara sonik dan sering kali juga secara visual. Ketika fasad glamor dilucuti, yang tersisa hanyalah musik untuk didengar dan dilihat. Karya tersebut berbicara dan berdiri dengan sendirinya, menuntut audiens untuk mendengarkan dan memberi perhatian.

Di sinilah desain berperan dalam mengarahkan tatapan audiens: membangun fokus pada musik (yang sesungguhnya), serta menghilangkan gangguan apa pun—termasuk penekanan berlebih pada personhood dan kepribadian para musisi. Filosofi ini mendorong kesatuan keluaran visual mereka, mencakup sampul album, kehadiran di media sosial, dan desain pertunjukan; semuanya bekerja selaras untuk mendukung suara. Terdapat sebuah ironi dalam upaya mengesampingkan keterlibatan visual yang eksplisit dan ekspresi estetika, namun justru di situlah letak tugas yang menampilkan kompleksitas desain kontemporer. Pada akhirnya, tujuannya adalah membangun satu titik fokus agar Musik dapat bersinar, dan itu termasuk pelepasan penekanan pada aspek melihat.


zoom-(frank)

Frank Ocean dan Mk.gee termasuk di antara kelompok musisi yang karyanya menunjukkan relasi semacam ini dengan desain. Kita dapat mulai dengan membedah kesamaan pada sampul album terbaru mereka, yang membangun daya tarik masing-masing. Keduanya menjauh dari karikatur estetika atau penampilan diri, dan justru menawarkan undangan yang samar untuk melihat ke dalam (karya mereka). Sampul album terbaru mereka memperlihatkan perlakuan citra yang serupa, serta menampilkan potret diri yang terkompromikan: dalam Blonde milik Ocean, kita melihat sebuah foto karya Wolfgang Tillmans yang menampilkan Ocean berdiri di bawah pancuran. Tubuhnya terekspos, tetapi wajahnya tidak terlihat. Yang dapat kita tangkap hanyalah rambut hijau yang kontras dengan ubin putih di latar belakang.


zoom-(mkgee)

Di sisi lain, Mk.gee menampilkan postur serupa dalam Two Star & the Dream Police, di mana fotonya terpotong tepat di atas pinggang dan wajahnya sama sekali tidak terlihat. Mk.gee hanya tampak sebagai siluet; wajahnya tertutup rambut, sementara kontur mantel yang dikenakannya terlihat jelas. Gitarnya muncul sebagai titik pusat visual, hampir berfungsi sebagai penanda instrumen pilihannya. Selain fotografi, kedua album juga memiliki pendekatan tipografi yang serupa dalam membangun penekanan: Ocean menempatkan judul Blonde di atas kepalanya, sementara Mk.gee menempatkan Two Star & the Dream Police dekat dengan gitarnya. Judul-judul ini memiliki relasi tersendiri dengan palet warna album masing-masing; Blonde tampil dalam hitam pekat yang memperpanjang nuansa monokromatik, sedangkan Two Star & the Dream Police dihiasi merah tua yang kontras dengan gradasi abu-abu gelap dan hijau yang dominan. Pengaburan figur kedua musisi ini menciptakan jarak dan secara alami membangkitkan rasa ingin tahu di kalangan audiens — idealnya cukup untuk mengundang eksplorasi terhadap karya mereka.

Nuansa misterius ini juga merambah ke kehadiran mereka di media sosial, yang sangat minim hingga nyaris nihil. Secara sederhana, baik Ocean maupun Mk.gee “hanya mengunggah” dari akun resmi mereka ketika ada pengumuman baik itu rilis album baru maupun pembaruan jadwal tur. Ironisnya, justru minimalisme ini mendorong audiens untuk membangun komunitas satu sama lain melalui percakapan dan saling berbagi informasi. Dari thread Reddit hingga edit TikTok dan lorong tak berujung esai YouTube, Frank Ocean dan Mk.gee terus menerima liputan (baca: pujian) dari para penggemar yang membedah dan mendiskusikan karya mereka, dan sering kali mengagung-agungkan momen kemunculan mereka.

Sebagian orang mungkin berargumen bahwa justru keterbatasan akses inilah yang memungkinkan penggemar atau pendengar benar-benar terlibat dengan karya mereka. Ada akumulasi antisipasi yang muncul dari menikmati album, yang menumbuhkan keinginan untuk mengalami pertunjukan langsung — bukan hanya untuk mendukung, tetapi juga untuk menyaksikan kejeniusannya secara langsung. Konser selalu menjadi bukti sejati dari bakat seorang artis di luar produksi studio, karena penguasaan panggung melengkapi upaya estetika yang mereka bangun; pada akhirnya, musik memang diciptakan untuk dialami secara kolektif.


Baik Frank Ocean maupun Mk.gee memiliki ciri khas masing-masing dalam performa, namun mereka menambatkan suara dan desain panggung untuk mencerminkan relasi mereka terhadap album masing-masing. Dalam berbagai penampilan festival Ocean—Panorama (2017), FYF Fest (2017), Flow (2017), Way Out West (2017)—ia dan timnya membangun desain khas yang konsisten di berbagai panggung, intim dengan Ocean dan Blonde. Kita melihat Ocean dan band-nya mengenakan headphone sepanjang pertunjukan, yang melanjutkan penegasan jarak yang ia ciptakan dengan audiensnya. Saat tampil, ia mengenakan kaus putih dan sering kali jaket serta celana panjang. Ada kesan tanpa usaha dalam kehadiran kasual yang ia tampilkan, seolah ia dengan lembut meminta penonton untuk melihatnya secara tulus. Anggota band tersebar di seluruh panggung, dengan layar besar di latar belakang yang menampilkan dokumentasi pertunjukan secara langsung. Inilah satu-satunya kedekatan yang diizinkan bagi penonton terhadap Ocean dan band-nya, memperlihatkan komposisi Blonde yang telanjang dan sederhana. Saya pikir tata panggung yang tidak konvensional ini mengingatkan kita bahwa mungkin kejeniusannya terletak pada kemampuannya menciptakan keindahannya sendiri; bahkan saya tidak memiliki bahasa untuk menggambarkan betapa lembut dan halusnya pertunjukan-pertunjukannya—hingga jarak yang ia bangun pun terasa runtuh. Anda masuk dan bernyanyi bersama Blonde, namun juga mendengarkan dan memberi hormat pada artistikanya; memberi Ocean ruang untuk menjelajahi panggung dan tampil dengan nyaman.

Mk.gee memiliki keindahan yang serupa, namun suaranya terasa lebih menggetarkan dan keras. Jika pertunjukan Ocean adalah pendamping lembut bagi albumnya, maka pertunjukan Mk.gee membalikkan kepala dan menawarkan cara yang sepenuhnya berbeda untuk mengalami suara. Ia meruntuhkan kerapihan dalam susunan aransemen dalam produksinya untuk menghidup kedekatannya dengan berbagai macam alat musik; menghidupi proses karya dan suaranya. Di berbagai panggung selama tur album tersebut, desain panggungnya mencerminkan elemen terang-gelap dari sampul Two Star and the Dream Police. Kegelapan tempat Mk.gee menempatkan dirinya tidak terasa protektif; justru ia hidup ketika hampir tak terlihat. Penonton pun dipaksa untuk benar-benar mendengarkan produksi suara yang terasa dunia lain, di mana ia kerap dipuji karena “membuat gitar terdengar begitu berbeda”. Segala sesuatu tentang kehadiran fisik Mk.gee konsisten minimalis, namun daya tarik pertunjukan langsungnya muncul dari kontras antara desain yang minimal dengan suara maksimalis dari permainan gitarnya—yang tetap menjadi satu instrumen sekaligus sebuah ansambel. Berbeda dengan perlakuan Ocean terhadap sebuah ‘band’, Mk.gee berpegang pada yang tradisional dan memposisikan dirinya dalam citra seorang musisi ‘biasa’; namun audiens tak bisa menepis kenyataan bahwa ia bukanlah musisi biasa.

Frank Ocean dan Mk.gee berdiri sebagai bukti musisi yang menghindari fasad tuntutan industri. Mereka menampilkan diri mereka hanya dalam kebenaran terhadap suara mereka dan, yang terpenting, terhadap diri mereka sendiri; dan Anda tak bisa tidak merasakan keterhubungan mereka dengan diri mereka sendiri. Mungkin karisma mereka tidak semata-mata berasal dari pertunjukan bakat, melainkan dari keyakinan sunyi terhadap diri mereka sendiri. Bersama-sama, mereka menempa jalan menuju yang belum terdengar, belum terlihat, dan belum diketahui.


web-18
web-19
web-20
web-21
web-22
web-23
About the Author

Sabrina Citra

Sabrina Citra is a researcher who is based in Jakarta. She is currently interested in the intersection of aesthetics, cultural studies and language/linguistics.