Merayakan Kompleksitas dan Perspektif Baru: Catatan dari D&AD 2025

Festival D&AD tahun ini menghadirkan semangat baru dalam lanskap desain—ditandai tidak hanya oleh inovasi dalam cara berpikir kreatif, tetapi juga keterbukaan yang nyata terhadap inklusivitas dan diskusi yang lebih mendalam. Dibandingkan dengan penyelenggaraan sebelumnya, terdapat pergeseran yang signifikan dalam program acaranya: panel dan diskusi mencakup beragam perspektif, sementara representasi yang lebih luas dalam jajaran pembicara maupun dewan juri menghadirkan nuansa yang sangat dibutuhkan dalam cara desain diterima, dibahas, dan dievaluasi.

Kreativitas tak lagi semata-mata soal estetika atau strategi, melainkan dipahami sebagai sesuatu yang manusiawi—yang terus dibentuk oleh budaya, konteks, pengalaman hidup, dan emosi. Bagi kami, ini terasa seperti langkah maju yang berarti: sebuah pengakuan bahwa inovasi tidak bergantung pada pengejaran hal-hal baru semata, melainkan berakar pada respons terhadap hal-hal banal dan keseharian; ini tentang melihat dengan saksama, mendengarkan dengan penuh perhatian, dan merancang dengan lebih banyak niat.

Di antara banyak sesi penuh wawasan yang membahas berbagai topik dalam dunia desain, mulai dari eksplorasi teknis sistem hingga kisah-kisah emosional dan personal, beberapa diskusi menonjol, bukan hanya karena materinya, tetapi juga karena pertanyaan-pertanyaan yang tertinggal dalam benak kami setelah hari pertama festival berakhir.

zoom-1

Ketika Branding Menjadi Sebuah Pertunjukan — Luke McCabe

Luke McCabe menghadirkan sesuatu yang tak terduga: pengingat bahwa performa dapat menjadi alat yang kuat bagi sebuah brand. Ia menawarkan kemungkinan baru dalam memandang branding—bukan sekadar hadir di layar atau dalam cetakan, tetapi sebagai entitas hidup yang bisa bernapas, bergerak, dan tampil. Sebagai Show Creative Director sekaligus alumni dari D&AD Shift Programme, Luke membedah bagaimana pertunjukan, musik, dan branding saling bersinggungan untuk menciptakan sesuatu yang hidup. 

Alih-alih menekankan pada hasil akhir yang rapi dan terpolitur, ia justru mengedepankan keindahan yang “kacau” dan tak terduga dari pengalaman langsung. Filosofinya jelas: branding bukan hanya soal terlihat, tapi soal dirasakan.

Di tengah dunia yang dipenuhi konten serba rapi dan terkemas dengan sempurna, pendekatan Luke terasa menyegarkan dan manusiawi. Ia mengajak brand dan agensi untuk mempertimbangkan kekuatan dari kerentanan, improvisasi, dan penciptaan momen yang bukan sekadar tontonan, tetapi tentang koneksi.

zoom-2

Meninjau Ulang Sistem Identitas — Leland Maschmeyer

Dalam sebuah sesi yang menggabungkan wawasan teknis dengan pemikiran filosofis yang mendalam, Leland Maschmeyer menggugat gagasan lama bahwa sistem identitas merek hanyalah “bahasa visual.” Bagaimana jika, ia bertanya, sistem tersebut sebenarnya bukan bahasa sama sekali? Bagaimana jika mereka adalah instrumen—alat yang dirancang bukan sekadar untuk berkomunikasi, tetapi untuk melakukan sesuatu?

Melalui contoh yang menggugah, Leland menunjukkan bagaimana sistem identitas paling canggih saat ini tidak hanya berfungsi sebagai kerangka estetika. Mereka adalah aset operasional, yang dirancang untuk menciptakan nilai bisnis nyata, memperbaiki alur kerja, dan membuka peluang yang sebelumnya tak terpikirkan. Gelar wicara ini menjadi ajakan untuk bertindak: melampaui kotak grid, dan memikirkan identitas bukan sebagai ekspresi statis, melainkan sebagai sistem hidup yang bisa beradaptasi, berkembang, dan bekerja. Ini merupakan pergeseran perspektif yang kuat terhadap peran desain dalam organisasi—dan pengingat bahwa bentuk tanpa fungsi sudah tak lagi cukup.

zoom-3

Tipografi untuk Semua — Veronika Burian & José Scaglione

Tipografi mungkin bukan topik yang sering mendapat sorotan di festival seperti D&AD, namun Veronika Burian dan José Scaglione menyampaikan alasan kuat mengapa persepsi itu seharusnya berubah. Dalam sesi mereka, keduanya memperkenalkan Futura 100, reinterpretasi dari fon ikonik karya Paul Renner—yang kali ini dirancang untuk mendukung lebih dari 90% populasi dunia.

Dengan mencakup 23 sistem penulisan—mulai dari Thai, Georgia, hingga Devanagari—versi terbaru Futura ini berbicara kepada khalayak global secara nyata. Proyek ini bukan sekadar pembaruan visual, melainkan upaya memperluas akses secara menyeluruh. Sebuah komitmen untuk memastikan bahwa orang di seluruh dunia dapat melihat bahasa dan identitas mereka sendiri tercermin dalam sebuah tipografi yang dulu dianggap euro-sentris dan eksklusif.

Melalui proyek ini, Veronika dan José mengingatkan bahwa desain tidak benar-benar kontemporer jika tidak inklusif; dan bahwa tipografi—yang sering dianggap remeh dan tak terlihat—sebenarnya bisa menjadi alat koneksi yang halus namun radikal.

zoom-4

Gagasan Kecil, Hari yang Besar — Wawasan dari Para Juri

Salah satu wawasan paling menyentuh di Festival D&AD tahun ini justru tidak datang dari panggung utama, melainkan dari ruang diskusi para juri. Mereka merefleksikan kekuatan dari gagasan-gagasan kecil, yang ternyata mampu membawa dampak besar.

Salah satu proyek yang disoroti mengubah mesin MRI yang biasanya menakutkan menjadi cerita bergambar yang dapat dipahami dan dinikmati anak-anak. Ada juga inisiatif yang merancang sandal jepit khusus bagi penyandang disabilitas; sederhana, fungsional, dan sangat personal. Sementara itu, sebuah kampanye yang tak kalah menggetarkan menyajikan visualisasi sampah luar angkasa dalam bentuk rasi bintang imajiner—menggabungkan sains dan puisi untuk membuat isu tersebut terasa lebih dekat, nyata, dan emosional.

Proyek-proyek ini bukanlah eksekusi besar dengan anggaran fantastis. Namun, semuanya dirancang dengan penuh empati dan niat yang tulus—menekankan pentingnya mendesain dengan kepedulian. Terkadang, hal paling kreatif yang bisa kita lakukan adalah menyelesaikan masalah kecil dengan sangat baik. Refleksi para juri ini kembali menegaskan bahwa kreativitas, pada titik terbaiknya, bukan soal skala, tetapi soal makna.

zoom-5

Apa yang kami saksikan di panggung D&AD tahun ini bukan sekadar inovasi kreatif, melainkan kedewasaan kreatif. Sebuah kesediaan untuk melambat, mempertanyakan asumsi, dan melepaskan siklus tren demi ide-ide yang lebih mendalam. Festival ini menjadi pengingat bahwa desain kini bukan lagi soal pertunjukan, ataupun sekadar menyatakan siapa diri kita. Ini tentang hidup berdampingan dan terhubung dengan empati, kerendahan hati, dan tujuan yang jelas. Desain bukan hanya disiplin visual, ia adalah disiplin kemanusiaan; dan ketika dijalankan dengan kesadaran, desain tidak hanya menyelesaikan masalah; ia membangun jembatan, menceritakan kisah, dan membantu dunia menjadi sedikit lebih mudah dimengerti.

Tahun ini, D&AD tidak hanya menginspirasi kami. Ia menantang kami untuk berpikir secara berbeda, merancang dengan lebih inklusif, dan tetap terbuka terhadap berbagai cara baru kreativitas hadir di dunia—dan semoga, turut memperbaiki kita.

About the Author

GMK Team

Collaborative articles written by multiple writers of the Grafis Masa Kini editorial team.