Edita Atmaja Bicara soal Waktu dan Rutinitas dalam Pameran Best Before

Dalam presentasi tunggalnya bertajuk Best Before, Edita Atmaja, seniman visual berbasis di Jakarta, mengeksplorasi makna waktu, rutinitas, dan tekanan sosial yang sering kali menjerat manusia dalam siklus kehidupan yang berulang. Di tengah hiruk-pikuk tersebut, solusi instan nan cepat adalah jalan keluar yang dipilih—bahkan menjadi ketergantungan. Lewat karya-karyanya yang dipamerkan di C ON TEMPORARY, Bandung, Edita mempertanyakan kembali bagaimana manusia menilai waktu dan mengambil kendali atas prioritas dalam kesehariannya. 

Pameran Best Before berangkat dari pertanyaan: “Apakah kita sudah merasa puas dan senang dengan cara kita memakai waktu yang kita punya? Apakah ada yang merasa belum mencapai apa yang diinginkannya walaupun sudah berusaha keras memakai waktu dengan sebaik-baiknya? Apakah ada yang ingin menghabiskan waktunya dengan cara yang berbeda? Atau adakah yang merasa kalau waktunya tidak terasa seperti miliknya?” Sederet pertanyaan tersebut muncul saat Edita dan suaminya berbincang tentang lagu “The Greatest” dari Cat Power, yang dikatakan Edita maknanya sangat dekat dengan kehidupan mereka saat ini.  "Setiap hari dalam kemacetan Jakarta kami sering membicarakan tentang mimpi-mimpi kehidupan ideal di mana kami memakai jatah 24 jam kami setiap hari untuk mengerjakan hal-hal yang berarti dan betul-betul kami nikmati," kata Edita. Namun, ironisnya, pembicaraan tersebut hanya berputar-putar tanpa ada perubahan nyata dalam kehidupan mereka—terkekang oleh rutinitas yang memakan waktu. 

Situasi tersebut membuat Edita menyadari bahwa banyak dari kita menjalani hidup berdasarkan tanggung jawab terhadap orang lain, ekspektasi sosial, atau idealisme yang ditanamkan sejak dini. “Walaupun sebenarnya di dalam hati, kita juga punya mimpi-mimpi besar dan keinginan sendiri yang kita yakini dapat membuat hidup lebih bermakna namun sulit kita wujudkan karena terbentur realita sehingga muncul keraguan atau keputusasaan,” imbuh Edita. Tak jarang, kondisi ini mengarah pada rutinitas yang terasa mengekang, di mana kita berusaha memenuhi target sosial seperti pendidikan, karier, atau kemapanan. Namun, di balik semua itu, ada kehampaan yang membuat kita merasa terjebak, ada hal-hal yang kita lakukan dengan setengah hati setiap harinya.

Dalam pameran Best Before, Edita menggunakan berbagai medium visual untuk menyampaikan gagasan-gagasan tersebut. Setiap karya dirancang untuk mengajak penonton berpikir kembali tentang makna waktu. Subjek yang digambarkan lewat karya-karyanya merupakan simbol kepraktisan—ketergantungan dengan segala yang instan—dan kenyamanan yang didambakan banyak orang sebagai respons atas tuntutan hidup yang terus meningkat.  Produk-produk seperti makanan kaleng, roti tawar dalam plastik, dan buah apel yang dibeli di supermarket menjadi pemeran utama dalam narasi visual Edita Atmaja. Lewat barang-barang keseharian tersebut, Edita memanggil kembali memori masa lalu ketika ia tumbuh di kota besar dengan orang tua yang bekerja. Di momen tersebut, Edita selalu menyaksikan orang-orang terdekatnya terjerat dalam kesibukan demi memenuhi tanggung jawab dan pencapaian pribadi. “Sebagai anak, saya pun dijadwali banyak kegiatan belajar ini-itu di luar jam sekolah dengan ekspektasi suatu saat dapat mendulang prestasi. Kebiasaan berstrategi dan berdisiplin soal waktu setiap hari semakin terbentuk, sehingga tak terhindarkan, pola hidup serba cepat dan ketergantungan terhadap produk-produk instan pun lekat,” kenang Edita. Karya Edita yang membawa kembali benda-benda keseharian tersebut tidak hanya merepresentasikan kepraktisan yang kita cari dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga mencerminkan pola hidup serba cepat dan ikatan kuat manusia modern dengan produk-produk instan. Mewujudkan gambaran pola hidup instan lewat karya visual, Edita menggunakan metode produksi masal seperti silkscreen printing, 3D printing, dan moulding dalam mayoritas karyanya. Menurut penjelasan Edita, teknik-teknik tersebut menciptakan repetisi bentuk sebagai gambaran kehidupan yang berisikan rutinitas terencana yang berulang setiap harinya, dan bagaimana ini semua membawa efek kepada orang-orang yang menjalankannya.

Zoom

Salah satu karya yang paling mencolok dalam pameran ini adalah “Open in Case of Emergency”, di mana Edita menggunakan cetakan gips berbentuk kaleng makanan dengan tulisan "No time pada sisi-sisinya. Karya ini menggambarkan bagaimana kita sering kali merasa kehabisan waktu dalam usaha memenuhi tenggat waktu sosial, meskipun pada dasarnya, seperti makanan kaleng, waktu kita juga memiliki masa simpan yang terbatas. Metafora ini menyoroti betapa seringnya kita terjebak dalam pengejaran tanpa henti akan pencapaian sosial, yang akhirnya membuat kita merasa belum mencapai sesuatu yang berarti secara pribadi. Edita juga mengeksplorasi teknik stippling dalam karya-karyanya, terutama dalam seri gambar “Anticlimactic”, “Potentially Pleasant”, dan “When Patience Pays Off”. Karya-karya ini menggambarkan isi dari makanan kaleng, seperti jamur, ikan sarden, dan Spam. Teknik stippling, yang memakan waktu lama, bertentangan dengan sifat instan dari subjek yang digambarkan. Setiap titik yang dibubuhkan dengan pena melambangkan detik-detik yang didedikasikan untuk menganalisis makna waktu. 

Karya lain yang tak kalah penting adalah seri “Contemplating as Breakfast” yang menekankan topik eksistensial lebih dalam lagi. Pada karya ini, Edita menggunakan cetakan gips untuk menciptakan potongan roti tawar yang dibungkus plastik. Karya ini dilengkapi dengan jadwal harian pada satu sisi dan kalimat “Is It Worth Repeating?” pada sisi lainnya. Roti tawar yang terbungkus plastik ini, yang disegel dengan klip plastik bertuliskan “1440” yaitu jumlah menit dalam satu hari—menjadi simbol dari rutinitas harian yang sering kali kita jalani tanpa mempertanyakan makna sebenarnya. “Melalui karya ini saya mau mempertanyakan kembali tujuan rutinitas yang berulang-ulang, apakah justru momen-momen di luar rutinitas inilah yang memiliki nilai berharga sebenarnya?,” tegas Edita.

Best Before tidak hanya menjadi pameran yang menantang pemikiran publik, tetapi juga menjadi tonggak penting dalam perkembangan kekaryaan Edita sebagai seorang seniman visual. Melalui pameran ini, Edita menggali medium dan topik baru, serta mengeksplorasi teknik yang belum pernah ia coba sebelumnya. Penggunaan cetakan gips, 3D printing, dan sablon di atas plastik menunjukkan keberanian Edita untuk melangkah keluar dari zona nyaman dan menghadirkan sesuatu yang baru dan segar. "Saya selalu tertarik mencoba hal yang belum pernah saya lakukan sebelumnya, saya juga senang bila saya berhasil memberikan element of surprise dalam setiap karya baru," ujar Edita. Setelah pameran Best Before, Edita berharap untuk terus melanjutkan eksplorasi baru baik dari segi topik, metode riset, maupun teknis.

Dengan Best Before, Edita mengenalkan karya-karya yang merupakan perenungan terhadap kehidupan modern. Dalam pameran yang masih dibuka hingga 25 Augustus 2024 ini, Edita mengajak kita untuk berhenti sejenak dan memaknai kembali bagaimana kita menjalani hidup dengan waktu yang terus berjalanan.

Slide-1
Slide-2
Slide-3
Slide-4
Slide-5
Slide-6

Dokumentasi oleh Galeri C On Temporary

About the Author

Alessandra Langit

Alessandra Langit is a writer with diverse media experience. She loves exploring the quirks of girlhood through her visual art and reposting Kafka’s diary entries at night.