Relasi Bumi dan Kesadaran Antroposentris: Sebuah Kajian atas Knowing Co-Existence oleh MOTE x Microartmunity

Dalam setiap narasi yang berbicara tentang relasi dengan bumi, hal pertama yang terlintas di benak adalah asosiasinya dengan tanah, atau mungkin keberadaan manusia yang hidup berdampingan dengan flora dan fauna. Di lain waktu, ketika kita berbicara tentang Bumi, yang muncul adalah rasa tanggung jawab kolektif, yang bersifat kekeluargaan, hampir biologis: Bumi diseru sebagai ibu, dan kita adalah anak-anaknya. Maka, dalam keberadaan di Bumi, kita juga saling memiliki satu sama lain. Dalam seluruh percakapan tentang Bumi, kita cenderung berbicara atas nama diri kita sendiri—sebagai manusia—karena sudah menjadi sifat kita untuk merujuk pada posisi dan kapasitas kita bersama. Bukankah hal yang paling “benar” adalah memulai dari apa yang telah terwujud di dalam diri kita?

Melalui Earth Society, ICAD menampilkan beragam karya seni dan desain yang mengeksplorasi tanggung jawab kolektif terhadap tanah yang kita huni. Komunitas menjadi subjek utama, yang menempatkan publik untuk mengakui kerja-kerja perawatan dalam menjaga relasi dengan bumi. Pada akhirnya, pameran ini menyatakan bahwa merawat Bumi (atau bahkan sekadar berupaya menuju keberlanjutan) sama artinya dengan merawat sesama manusia dan tanah tempat kita dilahirkan. Pameran ini menghadirkan refleksi luas tentang kemanusiaan, sekaligus menunjuk pada sebuah kecenderungan pemikiran yang hampir tak terhindarkan: bahwa kita, sebagai manusia, senantiasa menempatkan diri sebagai pusat dari setiap ekosistem.

Namun, satu karya tampil menonjol dengan berupaya menghadapi kecenderungan antroposentris ini—dengan memperhalus gagasan tentang relasi dengan bumi, dan mengajukan pertanyaan: dapatkah kita merawat yang tak dikenal dan tak terlihat? Bersama-sama, MOTE dan Microartmunity melahirkan serangkaian karya di bawah tajuk Knowing Co-Existence, yang menampilkan koleksi seni petridish berisi sampel mikroba yang dikumpulkan dari berbagai lanskap. Deretan petridish tersusun dalam instalasi berbentuk lemari kayu, menampilkan warna dan pola yang segera memikat pandangan. Kuning berpadu dengan biru-hijau; merah muda, ungu, dan putih membentuk gradasi warna di luar jangkauan persepsi buatan manusia. Yang paling mengejutkan: tak satu pun dari warna-warna ini direncanakan. “Seniman yang sesungguhnya adalah alam itu sendiri, dan kita, manusia, hanyalah wadah bagi seni tersebut,” ujar Nisa dari Microartmunity dalam wawancara kami.


Proses penciptaan karya ini merupakan perjalanan pembelajaran dan pemahaman kolektif, karena kedua kolaborator datang dari latar belakang yang berbeda: MOTE adalah desainer berpengalaman yang bereksperimen dengan metodologi pluriverse, sedangkan Microartmunity adalah ilmuwan yang menekuni bidang mikrobiologi. Bersama-sama, mereka menempatkan kerja lintas-disiplin sebagai ruang pendidikan dan penelitian kritis—pendekatan yang masih jarang dijumpai dalam lanskap kreatif Indonesia. Aulia Akbar dari MOTE menyatakan bahwa para desainer sering kali bekerja secara terpisah, karena perannya kerap terikat pada kepentingan industri: “Kami berupaya menembus pola umum desain dan memperkenalkan praktik baru, di mana desain menjadi bentuk penciptaan pengetahuan. Ada kecenderungan bagi desainer untuk melebih-lebihkan tujuan dari desainnya sendiri, padahal kami percaya desain tidak dapat berdiri sendiri. Ia harus belajar dari disiplin lain; ia tidak dapat hidup dalam ruang hampa kepentingan jika ingin menjalankan fungsinya yang sejati.”

Aulia menelusuri cara berpikir ini sejak masa kuliahnya, ketika ia mengenal penerapan desain secara praktis melalui modul perencanaan kota dan bertemu anggota MOTE lainnya seperti Rifki, yang memiliki keyakinan serupa—menjadi landasan praktik kolektif mereka. Koneksinya dengan Microartmunity lahir dari keinginan untuk memperluas pertanyaan-pertanyaan mereka ke ranah praktik ilmiah. Nisa dan Safira menjelaskan bahwa niat mereka sejalan, sebab Microartmunity sendiri berdiri sebagai kolektif artistik yang bertujuan menjadikan mikrobiologi lebih mudah diakses oleh publik luas. “Sejak pandemi, ada stigma terhadap mikroba yang dikaitkan dengan ketakutan kolektif akan COVID. Kami membentuk kolektif ini untuk memecah stigma tersebut dan mengedukasi publik tentang pentingnya belajar dari mikroba sebagai entitas hidup.” Dengan menggabungkan pendekatan yang berbeda, MOTE dan Microartmunity telah menciptakan karya yang melampaui batas antara seni dan sains.


Proses pengumpulan dan pengembangbiakan sampel mikroba membawa banyak refleksi di antara para anggota dari kedua kolektif. Safira menyebut bahwa jejak unik pertumbuhan bakteri memperluas pemahamannya tentang kompleksitas lanskap manusia. Cadrilla tertegun oleh jumlah bakteri dalam setiap sampel, menyadari kedalaman ko-eksistensi yang saling bergantung. Rifki merenungkan potensi bahaya di balik keindahan “aneh” dari warna-warna tersebut, mengingatkannya bahwa entitas tak kasatmata itu sesungguhnya hadir di keseharian kita. Risabella mengenang kembali kebiasaannya semasa kecil yang gemar mengoleksi benda-benda “menjijikkan”; Ihsan menautkan kegiatan ini pada praktik fotografinya, melihat petridish sebagai citra generatif—sebuah analog hidup dari seni buatan AI, karena setiap sampel menghasilkan bentuk organik yang unik. Nisa menganggap proses ini menenangkan, karena mengingatkannya akan harmoni ko-eksistensi lintas-spesies, mengingat mikroba merupakan salah satu bentuk kehidupan tertua di planet ini. Sementara bagi Aulia, pengalaman tersebut menghidupkan kembali kesadarannya terhadap kurangnya pengakuan bagi ilmuwan dan naturalis Indonesia—padahal hubungan kita (sebagai orang Indonesia) dengan bumi begitu nyata dan melekat dalam tubuh.

Yang muncul dari karya ini bukan sekadar persoalan estetika, tetapi juga sebuah proses refleksi kolektif—upaya untuk memahami makna berpikir, merasakan, dan berkarya bersama Bumi, bukan tentangnya. MOTE dan Microartmunity memperlihatkan apa yang berada di luar bahasa dan di dalam relasi yang membumi. Dalam kolaborasi mereka, gagasan tentang “relasi bumi” berubah dari sekadar metafora menjadi metode—sebuah etika perhatian dan kerendahan hati. Ia mengingatkan kita bahwa mengenal Bumi bukan berarti menguasainya, melainkan terus-menerus belajar bagaimana hidup dalam dialog dengan segala sesuatu yang melampaui pemahaman kita.


web-13
web-14
web-15
web-16
web-17
About the Author

Sabrina Citra

Sabrina Citra is a researcher who is based in Jakarta. She is currently interested in the intersection of aesthetics, cultural studies and language/linguistics.