Connecting Japan Vol.2: Arus Paralel antara Indonesia dan Jepang


Connecting Japan Vol.2 mengusung tema “Parallel Currents,” sebuah upaya membaca arus kesenian Indonesia dan Jepang melalui pertukaran gagasan, praktik budaya, dan imajinasi kolektif.

Inisiatif ini lahir dari CCC, sebuah organisasi yang membangun ekosistem kolaboratif dalam seni. Melalui pameran, program publik, dan pertukaran lintas negara, CCC bekerja dengan seniman dan komunitas di Indonesia, Asia, dan wilayah lain. Fokusnya adalah menyediakan ruang yang mempertemukan berbagai pendekatan kreatif, memperkuat dialog, dan membuka kemungkinan eksperimen bersama.

Vol.2 melanjutkan rangkaian yang dimulai dengan Sir Dandy pada edisi pertama. Kali ini, pameran menghadirkan tiga seniman Jepang: DISKAH, MOZYSKEY, dan Lui Araki. Ketiganya membawa latar yang berbeda namun berangkat dari pengalaman urban dan budaya jalanan Jepang, terutama skate dan graffiti.

zoom-1


DISKAH memulai praktiknya dari kultur jalanan dan skate Tokyo. Ia bekerja dengan cara yang spontan, menampilkan motif seperti Kaijyu, SONONAMO, dan Killy Bird. Karakter-karakter itu tampak akrab, namun di baliknya terdapat kegelisahan dan amatan terhadap kehidupan sosial. Melalui potongan momen masa lalu yang ia susun ulang, karyanya mengajak penonton memaknai ulang ingatan dan pengalaman pribadi.

MOZYSKEY telah berkarya sejak 1990-an dan dikenal dalam perkembangan graffiti Tokyo. Ia mengeksplorasi bentuk yang berangkat dari tagging, menggabungkan alfabet, kana, dan kanji hingga melewati batas keterbacaan. Dari praktik ini lahir pendekatan yang menantang fungsi dan sistem, sekaligus memperlihatkan etos dan estetika yang tumbuh dari dunia penulis graffiti di lingkungan bawah tanah Tokyo. Karyanya muncul dalam berbagai konteks, mulai dari ruang publik, museum, hingga fashion.

Lui Araki, seniman kelahiran Kobe, adalah seorang skateboarder profesional sekaligus fotografer. Ia telah menjadi bagian dari ZOO YORK sejak akhir 1990-an. Araki selalu membawa kamera film dalam perjalanan, baik di Jepang maupun luar negeri. Ia merekam lanskap, potret, dan momen keseharian. Proses cetaknya ia lakukan sendiri di kamar gelap di rumahnya untuk menjaga menjaga kualitas dan keintiman antara gambar dan medium analog itu sendiri.

zoom-2


Connecting Japan Vol.2 berangkat dari gagasan bahwa Indonesia dan Jepang memiliki narasi paralel. Keduanya sama-sama negara kepulauan dengan sejarah yang ditandai mitologi, modernisasi cepat, dan pengalaman pasca-perang atau pasca-kolonial. Keduanya juga menghadapi isu kontemporer seperti urbanisasi dan perubahan identitas di era digital.

Melalui kerja bersama seniman, kurator, dan pemikir dari kedua negara, program ini membuka ruang untuk menciptakan karya kolaboratif, membangun percakapan yang lebih mendalam, dan mempertemukan praktik budaya yang lahir dari konteks berbeda namun bergerak dalam rasa ingin tahu yang sama. 

Pameran Connecting Japan Vol.2 berlangsung pada 7–23 November 2025 di spaCCCe Jakarta, Grand Wijaya Center Blok C no.22

web-17
web-18
web-19
web-20
web-21
web-22
About the Author

Dhanurendra Pandji

Dhanurendra Pandji is an artist and art laborer based in Jakarta. He spends his free time doing photography, exploring historical contents on YouTube, and looking for odd objects at flea markets.