Cloud Dancer dan Ilusi Ketenangan di Tengah Krisis Global
Seperti tahun-tahun sebelumnya, The Pantone Color Institute telah memilih satu dari banyaknya rona warna sebagai Color of the Year 2026. PANTONE 11-4201 Cloud Dancer, mereka menamakannya—rona putih yang anggun dan menjadi simbol ketenangan. Tak lama setelah perusahaan warna tersebut mengumumkan Cloud Dancer sebagai Color of the Year 2026, internet ramai dengan kritik dan kekecewaan atas pilihan Pantone yang cukup insensitif dengan situasi sosial-politik di dunia saat ini.
Dalam menentukan Color of The Year setiap tahunnya, Pantone mengandalkan tim global spesialis warna untuk memilih satu rona dengan merujuk ke berbagai fenomena budaya: film dan televisi, desain dan seni rupa, tren mode, interior dan arsitek, teknologi, hingga media sosial dan berbagai ajang olahraga besar yang akan datang. “Kita sedang mencari jeda, mencari kelegaan, keterputusan emosional, serta kelelahan akibat visual yang berlebihan,” ujar Laurie Pressman, Vice President Pantone Color Institute, mengutip dari ELLE. Tampaknya, menurut tim Pantone, Cloud Dancer dapat hadir sebagai jawaban visual atas berbagai fenomena budaya dan “kelelahan kolektif” tersebut.
Leatrice menggambarkan Cloud Dancer sebagai “warna yang lapang dan terasa seperti hembusan udara segar”, sekaligus berfungsi sebagai penenang masyarakat di tengah hiruk-pikuk keseharian. Seperti yang kita ketahui, pandemi mempercepat segalanya dan masih banyak orang yang bergulat dengan ketidakpastian—sepertinya kita semua seperti itu, ya? Pertanyaan-pertanyaan soal nasib di masa depan menjadi semakin krusial hari ini, kata Leatrice. Maka, rona putih tersebut hadir, sesuai maknanya: keringanan bak awan, melihat segalanya dengan harmoni dan ketenangan.
Dalam penerapannya pada desain grafis, PANTONE 11-4201 Cloud Dancer adalah warna dasar utama yang dapat menjadi kerangka bagi spektrum warna, memungkinkan semua warna pada palet terlihat, namun tetap harmonis. Cloud Dancer dapat berdaptasi dengan material maupun tekstur, menghadirkan efek ringan di mata dan memberikan ruang yang lapang pada komposisi. Secara keseluruhan, Cloud Dancer adalah warna yang bisa menyesuaikan dirinya dengan berbagai kebutuhan. Tapi, dengan fungsi tersebut, apakah tren Color of the Year tetap relevan di praktik desain grafis?
Pertanyaan lain juga muncu, mengingat Pantone Color of the Year merupakan representasi “warna” dari fenomena budaya dan kondisi masyarakat saat ini, tepatkah pemilihan rona putih? Perpindahan dari Color of the Year 2025: Mocha Mousse–rona cokelat yang lekat dengan bumi–menuju Cloud Dancer terasa terlalu drastis. Jika Mocha Mousse masih dapat dibaca sebagai refleksi atas isu keberagaman, keberlanjutan, krisis iklim, serta kebutuhan akan kestabilan di tengah ketidakpastian global, maka Cloud Dancer justru dinilai sebagai langkah mundur dan sebuah pilihan yang “terlalu aman”, bahkan cenderung menghindar dari realitas sosial-politik saat ini.
Sejumlah kritik muncul tak hanya dari masyarakat di media sosial, tapi juga dari kalangan desainer, akademisi, hingga pengamat budaya visual. Kepada CBC News, Erin Finley, pengajar di Ontario College of Art & Design University, menyebut bahwa Cloud Dancer bukanlah pilihan yang banyak diprediksi. Ia bahkan mengungkapkan bahwa banyak praktisi kreatif justru melihat kecenderungan kuat pada warna hijau yang merepresentasikan kepedulian terhadap bumi, air, dan ekologi sebagai refleksi paling relevan dari zeitgeist hari ini. Dalam konteks perang yang belum usai, krisis kemanusiaan, kerusakan lingkungan, genosida, pilihan warna putih dinilai gagal “menyentuh tanah” dan terlalu abstrak untuk menjadi simbol zaman.
Kritik terhadap Cloud Dancer juga semakin menguat ketika dikaitkan dengan konteks Amerika Serikat hari ini, tempat perusahaan Pantone beroperasi. Di tengah meningkatnya ketegangan seputar isu imigrasi; mulai dari kebijakan perbatasan yang semakin ketat, deportasi massal, hingga sentimen anti-imigran yang kembali menguat dalam wacana politik, pilihan rona putih ini dianggap seperti simbol “pemutihan”.
Dalam konteks ini, ketenangan yang ditawarkan Cloud Dancer tidak dirasakan sebagai ruang aman yang inklusif, melainkan sebagai kemewahan yang hanya bisa dinikmati oleh kelompok tertentu. Warna putih, yang secara historis juga sarat dengan makna white supremacy, menjadi semakin sulit dipisahkan dari pembacaan politis tersebut. Alih-alih merefleksikan kompleksitas masyarakat multikultural yang sedang berjuang untuk diakui dan dilindungi, Cloud Dancer justru dipersepsikan sebagai simbol yang insensitif.
Menanggapi kritik tersebut, Laurie Pressman, Wakil Presiden Pantone Color Institute, menegaskan kepada The Washington Post bahwa faktor warna kulit sama sekali tidak menjadi pertimbangan dalam pemilihan Cloud Dancer. Ia merujuk pada perdebatan serupa yang muncul saat Pantone memilih Peach Fuzz (2024) dan Mocha Mousse (2025). Laurie menambahkan, bagi Pantone, persoalannya jauh lebih mendasar: apa yang sedang dicari masyarakat, dan bagaimana warna dapat menjadi jawaban atas kebutuhan tersebut.
Leatrice Eiseman turut merespons tudingan kurangnya kreativitas. Sebaliknya, Cloud Dancer dimaknai sebagai kanvas kosong: sebuah ruang awal yang membuka kemungkinan dan cara berpikir baru. Namun, justru di titik inilah perdebatan semakin mengeras: bagi para pengkritiknya, gagasan kanvas kosong terdengar problematis di tengah dunia yang penuh luka, konflik, dan tuntutan akan posisi yang lebih jelas. Cloud Dancer, alih-alih dibaca sebagai potensi, justru dilihat sebagai sikap netral–dan dalam konteks sosial-politik hari ini, netralitas itu sendiri adalah bentuk keberpihakan.
Kita semua memasuki tahun baru dengan keresahan akan krisis iklim dan goncangan sosial-politik yang begitu kuat–seakan kemanusiaan sedang berdiri di tepi jurang. Keputusan Pantone memilih Cloud Dancer sebagai Color of the Year 2026 merupakan bentuk ketidakpedulian dengan realita masyarakat hari ini di luar gelembung kenyamanannya. Berkaca dari ini, kita semua seharusnya menyadari bahwa desain–warna termasuk di dalam elemennya–adalah dan selalu politikal. Warna tidak hanya berdiri sebagai tren, tapi representasi sosial dan politik. Cloud Dancer mungkin dimaksudkan sebagai ajakan untuk berhenti sejenak dan bernapas, namun warna ini justru menegaskan jurang antara narasi ketenangan yang diproduksi “pemimpin” industri kreatif global dan realitas keras yang dialami kelompok-kelompok rentan.