Menutup 2025, ara contemporary Hadirkan Dua Pameran Lintas Tema

Menutup agenda pameran sepanjang tahun, ara contemporary menghadirkan dua program terakhirnya untuk 2025. Di Main Gallery, seniman Condro Priyoaji menampilkan eksplorasi terbaru mengenai cahaya, refleksi, dan ketenangan dalam pameran tunggal The Stillness of Becoming, dengan set pameran yang dirancang bersama firma arsitektur FFFAAARRR. Sementara itu di Focus Gallery, pameran duo Longer, Linger & Angler mempertemukan karya Pande Wardina dan Xiuching Tsay sebagai hasil kolaborasi lanjutan ara contemporary dengan Nonfrasa (Bali), menyoal tradisi, ingatan, dan batas-batas imajinasi budaya.

The Stillness of Becoming merupakan pameran tunggal keempat Condro Priyoaji. Sejak awal praktiknya, Priyoaji dikenal melalui upayanya menangkap gerak, kefanaan, dan perubahan; untuk kemudian membekukannya menjadi visual yang "hening". Jika sebelumnya ia menelusuri permainan cahaya dalam lanskap alami, kali ini ia beralih pada pertemuan cahaya dengan intervensi manusia: cermin, air yang beriak, dan permukaan yang memantulkan.

Dalam seri terbaru ini, Priyoaji mengamati bagaimana air, meski tampak diam, justru membiaskan cahaya hingga membentuk kesan gerak dan bentuk baru. Realitas visual, baginya, tak lebih dari pantulan cahaya pada objek-objek di sekitar kita. Melalui lukisan-lukisan monokromatik, ia mengajak penonton merasakan dualitas yang melekat dalam persepsi: terang dan gelap, diam dan bergerak, nyata dan tak tersentuh. Keheningan, dalam pandangan Priyoaji, adalah jeda dalam arus gerak yang terus berlangsung

Kerja sama dengan FFFAAARRR memperkuat pengalaman ruang dari pameran ini. Terbiasa bekerja pada pertemuan antara arsitektur dan praktik kreatif lainnya, FFFAAARRR melihat sensitivitas Priyoaji terhadap cahaya, air, dan suasana sebagai titik temu ideal dengan bidang mereka.

Untuk pameran ini, mereka membagi galeri menjadi beberapa lorong yang menampilkan karya dalam situasi terpisah. Pengaturan ini memungkinkan pengunjung merasakan “potongan waktu” dari tiap karya, seolah menangkap satu momen yang membeku dari suatu rangkaian gerak. Suara gemericik air ditambahkan secara halus, memperkaya pengalaman penonton dan memperdalam interpretasi terhadap visual Priyoaji yang bermuatan atmosferik.

Di Focus Gallery, ara contemporary bersama Nonfrasa menghadirkan Longer, Linger & Angler, mempertemukan karya dua seniman: Xiuching Tsay dari Thailand dan Pande Wardina dari Indonesia. Pameran ini menjadikan tradisi sebagai ruang penyelidikan; bukan sebagai sesuatu yang statis, tetapi medan tempat ingatan, penemuan kembali, dan interpretasi ulang terus berlangsung.

Karya Tsay memandang ruang domestik sebagai situs arkeologi: ia menggali objek-objek ritual dan gestur keseharian, lalu merakitnya kembali dalam bentuk berlapis dan rapuh. Lukisan bertumpuk, kolase, serta rakitan rentan ciptaannya menyoal asal-usul, kontinuitas, dan bagaimana memori kerap bergerak antara kejernihan dan ilusi.

Sementara itu, Wardina mengeksplorasi bagaimana ritual dapat dibaca ulang melalui bricolage, mekanisme elektronik sederhana, serta distorsi digital. Dengan memanfaatkan benda-benda temuan, rangkaian rakitan tangan, dan teknologi low-tech, ia menciptakan dialog yang menegangkan antara yang sakral dan yang profan.

Baik Tsay maupun Wardina bekerja dalam batasan—entah material, teknologi, maupun kultural—yang justru mereka gunakan sebagai alat penyelidikan. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari karya mereka serupa: Bagaimana hal yang tak terucapkan dan tak berwujud dapat disampaikan melalui medium yang tidak sempurna, bahkan rusak? Bagaimana memori yang gigih namun rapuh dapat dihadirkan tanpa terjebak nostalgia atau metafora yang gamblang?

Dengan dua pameran ini, ara contemporary menutup tahun dengan refleksi mendalam mengenai persepsi, tradisi, dan cara kita memaknai dunia—melalui cahaya yang membengkok, ingatan yang berlapis, dan keheningan yang penuh kemungkinan.

web-1
web-2
web-3
web-4
web-5
web-6
About the Author

Alessandra Langit

Alessandra Langit is a writer with diverse media experience. She loves exploring the quirks of girlhood through her visual art and reposting Kafka’s diary entries at night.