Cempaka Surakusumah: Menerjemahkan Emosi Menjadi Bentuk Geometris
Karya-karya Cempaka Surakusumah berakar pada observasi tentang bagaimana komposisi suara dan imaji memengaruhi cara manusia merasakan sesuatu. Sejak kecil ia tertarik pada alat musik string, orkestra, dan komposisi klasik. Proses kreatifnya hampir selalu dimulai dari musik. Melodi menjadi wadah untuk mengekspresikan emosi yang sulit ditangkap oleh kata-kata. Melalui musik sebagai penuntun, ia menerjemahkan perasaan ke dalam komposisi abstrak geometris.
Pengaruh profesinya sebagai desainer grafis membuatnya banyak bermain dengan komposisi. Selain itu, paparan terhadap karya-karya lukis Wassily Kandinsky membentuk sensitivitas visualnya, terutama dalam melihat bentuk dan warna sebagai bahasa yang mampu menyampaikan rasa.
Ketertarikan Cempaka pada seni visual dan musik sudah hadir sejak kecil. Ke mana pun ia pergi, ia membawa krayon dan buku gambar. Saat berkunjung ke rumah saudara, ia memilih sudut untuk menggambar. Ia mengakui itu juga cara untuk menghindari terlalu banyak basa-basi. Ketika pergi ke tempat wisata, ia selalu menyempatkan diri menangkap momentum lewat gambar.
“Gambarnya nggak selalu detail atau jelas, kadang cuman coretan enggak jelas aja. Tapi aku merasa lewat garis dan warna, aku lebih bisa menyimpan memori dari tempat tersebut,” ujarnya.
Sementara itu, musik berjalan beriringan dengan visual. Dimulai dari kegiatan meniru sang kakak bermain alat musik, kegemarannya pada ragam bunyi instrumen pun bertumbuh. Sejak itu ia sering memutar radio dan mencari-cari kanal frekuensi secara acak. Ia mengingat momen ketika secara tidak sengaja menemukan saluran musik klasik dengan sinyal yang tidak stabil. Meski suaranya sering berderau dan berdesis, justru di situ ia menemukan ketenangan. Tanpa disadari, visual dan musik sudah saling memengaruhi sejak kecil dan membentuk proses kreatifnya di kemudian hari.
Perjalanan kariernya dimulai di dunia editorial. Di sana ia belajar struktur, hierarki, dan bagaimana layout, grid, serta tipografi membentuk cara orang membaca dan menangkap pesan. Salah satu titik balik dalam perjalanannya adalah ketika ia bergabung dengan Thinkingroom Inc. Di sana ia memahami bahwa desain bukan sekadar visual yang rapi. Ia belajar tentang design thinking. Ia juga mulai melihat tipografi sebagai elemen visual yang memiliki persona dan karakter, hampir seperti manusia. Dari situ ia menyadari bahwa graphic design memiliki nilai yang luas dan selalu membuka kemungkinan eksplorasi baru.
Rasa penasaran itu melahirkan PoLA Artistry, sebuah design studio yang juga menjadi sister company dari Thinkingroom Inc. Awalnya berfokus pada invitation design dan daily life products, studio ini berkembang ke eksperimen lintas medium melalui project “Person A Person”. Proyek ini menggabungkan storytelling, design thinking, dan tekstil dalam bentuk wearable art.
Ia juga mencoba melihat peran desain di industri film, lalu mempelajari desain dan implementasinya di sektor publik melalui GovTech Edu. Dari seluruh perjalanan tersebut, ia menyadari ketertarikannya pada integrated design, melihat desain sebagai sistem yang humanis dan saling terhubung antara visual, narasi, dan empati.
Meskipun tampak berpindah-pindah, baginya setiap fase adalah bagian dari memahami bagaimana desain dapat hadir secara utuh dan relevan. Pada akhirnya, yang paling ia nikmati adalah proses ketika ide mulai menemukan bentuknya.
Di sisi lain, ia menyadari bahwa desain sehari-hari menuntut banyak pertimbangan dan kompromi. Dari situ muncul kebutuhan akan ruang lain. Ia mengikuti beberapa pameran dan menemukan bahwa kebebasan dalam membuat karya seni menjadi penyeimbang yang penting. Dunia desain memberinya ruang untuk mengomunikasikan ide dengan jelas dan intensional, sementara seni memberinya ruang untuk berbicara secara lebih intuitif dan personal.
Ia semakin yakin bahwa abstraksi dapat menjadi jembatan antara suara dan visual. Bentuk-bentuk itu bukan representasi objek, melainkan representasi rasa. Melodi dan ritme membantunya memproses emosi yang sulit diartikulasikan. Setiap komposisi menjadi lanskap emosional yang terbentuk melalui repetisi, ritme, dan keseimbangan.
Sebagian besar musik yang ia gunakan adalah instrumental dan klasik. “Aku biasanya memulai setiap karya dengan mendengarkan satu lagu secara berulang hingga suaranya terasa larut menjadi ritme dan emosi yang murni. Dalam ruang yang meditatif itu, aku membiarkan harmoni membimbingku, mengubah sesuatu yang tak terlihat menjadi bentuk yang bisa dilihat,” katanya.
Cempaka menyebut praktiknya sebagai Shapes of Emotion. Ia melihatnya sebagai ruang untuk mentranslasikan spektrum emosi ke dalam bentuk visual. Salah satu tema yang sering ia angkat adalah finding happiness: bagaimana kebahagiaan hadir dalam hal-hal kecil yang sering terlewat.
“Karyaku banyak mengeksplorasi bagaimana emosi hadir dan terbentuk dari momen-momen sederhana dalam keseharian. Melalui observasi yang tenang, aku mencoba menangkap esensi dari apa artinya merasakan, berhenti sejenak, dan kembali terhubung dengan kebahagiaan halus yang diam-diam tersembunyi dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya. Tema ini juga menjadi respons terhadap realitas sosial yang menetapkan standar tertentu tentang bahagia. Ia merasa glorifikasi gambaran bahagia yang ideal sering kurang relevan. Menurutnya, kebahagiaan hadir dalam bentuk yang lebih personal dan sederhana, dalam keseharian yang mungkin tidak terlihat besar tetapi terasa nyata.
Salah satu hal yang paling sering muncul dalam proses berkarya Cempaka adalah pertarungan dengan dirinya sendiri. Latar belakangnya sebagai desainer grafis membuatnya terbiasa bekerja dengan struktur yang jelas, pertimbangan rasional, serta kebutuhan untuk menjustifikasi setiap keputusan visual. Ketika ia masuk ke ruang yang lebih intuitif, pola pikir itu masih terbawa.
“Aku bisa berada dalam fase ulang-alik antara meluapkan arus intuisi dan dorongan untuk membuat semuanya terasa logis dan terstruktur,” ujarnya.
Di sisi lain, karya-karyanya banyak berbicara tentang emosi yang sering tidak terucap. Dalam keseharian, ia tidak selalu perlu memperlihatkan atau mengartikulasikan emosi secara eksplisit. Namun, dalam proses berkarya, ia justru dituntut untuk menghadapinya dan menerjemahkannya ke dalam bentuk visual. Proses itu terasa mentah dan personal. Dari sana ia belajar bahwa intuisi memiliki bentuknya sendiri dan tidak semua hal harus dijelaskan secara rasional untuk bisa terasa utuh.
Dalam praktiknya, Cempaka gemar bereksperimen dengan berbagai material, dari acrylic painting on canvas, embroidery on textile, resin, hingga laser cut. Salah satu karya pentingnya adalah Look Closer yang dipamerkan pada 2020 di Exhibition Trash New Order, Shenzhen.
Dari kejauhan, karya ini tampak seperti komposisi warna yang harmonis. Namun, ketika diperhatikan, ia tersusun dari serpihan label minuman dan kemasan makanan plastik yang dipotong kecil, dibekukan dalam resin, lalu disusun menjadi komposisi abstrak geometris. Karya ini berbicara tentang kemasan yang indah dan bagaimana keindahan itu sering membuat produk terasa lebih berharga. Namun di baliknya, limbah plastik bertahan jauh lebih lama dan berpotensi membahayakan lingkungan. Ia mengajak audiens untuk benar-benar melihat lebih dekat.
Prosesnya menantang karena dilakukan di masa pandemi. Ia tidak dapat hadir langsung di Shenzhen. Produksi dilakukan bersama seniman volunteer di sana secara remote. Tantangan terbesarnya adalah menjaga visi artistik tetap konsisten meski seluruh proses dilakukan dari jarak jauh.
Tahun 2025 menjadi fase kontemplasi baginya. Setelah bertahun-tahun berada di industri desain, ia mulai mempertanyakan arah yang ingin dituju. Ada keinginan untuk lebih fokus pada praktik berkarya, karena di sanalah ia merasa paling tenang dan jujur. Kesempatan berpartisipasi dalam 100+ Asia Shenzhen menjadi momen penting.
Dalam pameran itu ia menampilkan kompilasi karya berjudul The Gentle Light. Koleksi ini merupakan translasi emosi dari kebahagiaan sederhana di tengah kesibukan. Salah satu momen kecil yang ia refleksikan adalah berjalan di bawah sinar matahari sambil mendengarkan musik. Dipandu oleh komposisi musik Gabriel Fauré, Claude Debussy, Camille Saint-Saëns, Emillie Mosseri, dan Hemio, ia menerjemahkan emosi ke dalam abstraksi geometris. Dalam bahasa Jepang ada kata komorebi, cahaya matahari yang menyaring di antara pepohonan. Konsep ini menjadi landasan pengembangan koleksi tersebut. Cahaya menjadi bentuk, kesunyian menjadi warna, dan harmoni menemukan wujudnya.
Koleksi ini mengeksplorasi berbagai material, dari acrylic painting hingga kombinasi acrylic dengan stainless steel laser cut dan acrylic print. Dalam pameran yang sama, ia juga menghadirkan instalasi berjudul Resonance. Pengunjung diajak duduk di area taman belakang, menikmati udara dan sinar matahari, sembari merasakan jeda dalam keseharian.
Bagi Cempaka, bergerak di antara desain dan seni adalah cara memahami diri dan dunia. Eksplorasi abstraksi menjadi bahasa sekaligus terapi. “Karya-karyaku adalah refleksi tentang bagaimana emosi bergerak, berubah, dan menemukan bentuknya melalui suara dan ruang,” tegasnya. Di tengah struktur dan intuisi, ia terus mencari titik temu yang jujur.