Cara Mencuri Buku (dan Menerjemahkannya)

Apakah buku itu berharga, apakah bentuknya memiliki nilai, dan apakah kita perlu melindunginya? 

Pertanyaan-pertanyaan ini termasuk di antara banyak hal yang dieksplorasi oleh David Horvitz dalam karya pentingnya yang berjudul Eighty Ways to Steal a Book, yang diterbitkan oleh Edition Taube. Iterasi pertamanya ditulis dalam Bahasa Inggris dan dikenal sebagai “blueprint” yang memantik aksi merusak struktur buku; mengundang audiens untuk bereaksi dan merefleksikan konvensi format serta cara konsumsinya. Sejak diluncurkan, karya penting ini telah melahirkan lebih dari 30 terjemahan.

Pada sore hari yang hujan di Kamis (24/4), kami menghadiri sebuah diskusi di Galeri Studio22nya untuk memperingati peluncuran edisi Bahasa Indonesia yang berjudul Cari Cara Curi Buku. Zarani Risjad, pendiri Studio22nya, menjadi moderator dalam percakapan antara Januar Rianto, Ibrahim Soetomo, dan Almer Mikhail dari Further Reading Press. Ruang galeri diubah menjadi altar bagi karya Horvitz, dikelilingi oleh berbagai iterasinya yang berasal dari India, Jepang, hingga Bahasa Inggris Australia. Buku-buku ini dipajang di rak kayu yang menyoroti warna mencolok dari setiap edisi, menandakan bahwa tiap bahasa memiliki kehidupannya sendiri: biru untuk edisi pertama dalam Bahasa Inggris Amerika, lalu dua varian hijau untuk edisi Malayalam dan Bahasa Inggris Australia, serta kuning, merah muda, merah, dan oranye untuk bahasa Malta, Jepang, Prancis, Mandarin, dan lainnya. Versi Bahasa Indonesia memiliki desain yang serupa, tetapi dibedakan oleh warna ungu muda pada sampulnya–warna yang disebut Januar sebagai pilihan terbaik dari seleksi warna yang dipertimbangkan, dengan merah sebagai pesaing terdekatnya.

Perjalanan produksi Cari Cara Curi Buku berlangsung secara organik, yang berawal dari pertemuan tak terduga saat Further Reading Press ikut serta dalam New York Art Book Fair 2024. Januar mengungkapkan bahwa menjadi satu-satunya perwakilan dari Indonesia (di pameran buku) membawa keberuntungan tersendiri, karena hal ini menarik minat Edition Taube untuk memperluas repertoar Cari Cara Buku dengan sentuhan Indonesia dalam karya Horvitz. Almer dan Januar kemudian mengajak Ibrahim sebagai “rekan konspirator”, dan Almer dengan senda gurau menyampaikan bahwa Ibrahim adalah pilihan “terdekat” karena riwayat kolaborasi mereka. Ibrahim dan Almer bertanggung jawab dalam proses penerjemahan, sementara Januar mengurus desain dan operasional publikasi.

zoom-1
Credit: Studio22nya

“Kami diberi kebebasan kreatif untuk mengeksplorasi,” ujar Ibrahim mengenai pendekatan mereka terhadap penerjemahan. Ia menjelaskan bahwa proses penerjemahan tidak memerlukan keakuratan kata demi kata secara teknis, melainkan merupakan kelanjutan dari proses pelokalan konteks. Di sinilah kita menyaksikan nuansa penerjemahan yang menuntut eksperimen bahasa, bukan hanya menerimanya secara harfiah. “Bersikap deadpan adalah pendekatan yang secara alami kami sepakati dalam nada terjemahan,” kata Almer, dan menggambarkan bahwa gaya ini bisa dikomunikasikan seperti karakter-karakter dalam film Wes Anderson. Ibrahim kemudian menyebutkan berbagai inspirasi yang mereka gunakan dalam riset: dari event scores seniman Fluxus, Yoko Ono, hingga bahasa dalam iklan Indonesia tahun 1970-an yang menjadi penghormatan terhadap budaya sopan santun. “Kami bukan sekadar penerjemah teks, tapi juga penerjemah konteks,” tegasnya.

zoom-2
Credit: Studio22nya

Mendengar cerita di balik penerjemahan mereka, kita diajak untuk merefleksikan budaya (yakni kepercayaan, norma, nilai) seputar buku, budaya material, dan cara konsumsinya selama beberapa dekade. Luasnya referensi terasa dalam pemilihan kata untuk setiap tindakan mencuri–sebagai contoh, Ibrahim dan Almer mengungkapkan bahwa dalam salah satu terjemahan bahasa Inggris disebutkan tentang memecahkan kaca, dan mereka mengartikannya sebagai referensi terhadap adegan ikonik dalam film Ada Apa Dengan Cinta?. Mereka juga menukar istilah Halloween dengan Jumat Kliwon. “Pada akhirnya, penerjemahan adalah kerja rawat,” ujar Ibrahim.

Penelitian mendalam yang dituangkan dalam produksi Cari Cara Curi Buku dirasakan sebagai proses yang menyenangkan bagi Januar, Almer, dan Ibrahim, yang menjadikan proyek ini sebagai tonggak dalam perjalanan kolaboratif mereka. “Proses ini benar-benar menyenangkan, kami terus bercanda satu sama lain. Ketika kami melihat kembali proyek ini dari sudut pandang yang lebih ‘berjarak’, kami menyadari bahwa kami benar-benar menikmati prosesnya,” kata Almer. Mereka menjelaskan bahwa karena jadwal yang saling bertabrakan, mereka sering bertukar ide dan interpretasi melalui Google Docs, dan ketika sempat bertemu langsung, pekerjaan mereka terasa seperti percakapan santai. Pada akhirnya, mereka sepakat untuk menjangkau audiens Indonesia yang lebih luas dan memperlakukan terjemahan ini sebagai perpanjangan dari kekayaan versi-versi terjemahan Horvitz yang sudah ada: “Semuanya OG (diartikan sebagai ‘original’)–semua terjemahan adalah OG, dan kini kami melahirkan OG baru yang berakar dari Bahasa Indonesia.”

Cari Cara Curi Buku tersedia untuk dibeli di Further Reading Press dan Studio22nya.
curi-buku-13
curi-buku-14
curi-buku-15
curi-buku-16
curi-buku-17
curi-buku-18
About the Author

Sabrina Citra

Sabrina Citra is a researcher who is based in Jakarta. She is currently interested in the intersection of aesthetics, cultural studies and language/linguistics.