Breaking The Barrier: Pertemuan Desain dan Grafik Gerak


Surabaya menjadi ruang perjumpaan bagi studio desain dari berbagai negara melalui Breaking The Barrier, sebuah pameran yang mengajak pengunjung melihat bagaimana desain dan grafik gerak saling bertemu dan saling mempengaruhi. Diselenggarakan pada 3–7 Desember 2025, acara ini diinisiasi oleh Akronim dan didukung Famos Hub. Pameran ini menyuguhkan dialog kreatif yang terbentuk dari pertemuan sembilan studio undangan dari Indonesia, Mesir, Singapura, Belanda, dan Swiss.

Breaking The Barrier dibangun dari gagasan bahwa visual hari ini bergerak dalam banyak bentuk. Desain grafis tidak berdiri sendiri, begitu pula grafik gerak yang semakin berperan dalam membangun identitas visual. Di ruang utama, pengunjung dapat melihat interpretasi tema “breaking barriers” melalui karya grafis, tipografi, instalasi digital, dan video. Setiap studio membawa cara baca masing-masing terhadap isu gerak dan transformasi visual, sehingga karya yang ditampilkan memperlihatkan bentang praktik desain kontemporer dalam konteks global.

Selain pameran utama, terdapat pula Intimate Session untuk memberi kesempatan bagi pengunjung untuk masuk lebih dekat pada proses kreatif para praktisi. Pada 6 Desember, Seto Adi Witonoyo dari Satu Collective membahas bagaimana grafik gerak bekerja dalam membentuk karakter sebuah brand. Dengan moderator Anas Kautsar, sesi ini menyoroti bagaimana ritme dan dinamika visual dapat memperluas identitas sebuah brand ke arah yang lebih hidup. Keesokan harinya, 7 Desember, Else membagikan pendekatan yang lebih senyap. Aldy Edison dan Virnanda Rayandini membahas penggunaan gerak subtil, gerakan kecil yang membantu membangun suasana dan makna dalam proyek visual. Percakapan ini dimoderatori oleh Adji Herdanto.


Daftar partisipan mencerminkan rentang praktik visual yang luas. Dari Cairo hadir 40MUSTAQEL, sementara Studio Dumbar/DEPT dari Rotterdam dan Studio Feixen dari Lucerne membawa perspektif desain Eropa. Dari Asia Tenggara, ada Anonymous dan Foreign Policy Design dari Singapura. Dari Indonesia, Akronim sebagai penyelenggara hadir bersama Else dan Sciencewerk dari Surabaya, serta Satu Collective dari Jakarta. Setiap studio membawa pendekatan yang berbeda dalam melihat relasi antara grafis dan grafik gerak, sehingga pameran ini menampilkan ragam metode dan cara berpikir yang berkembang di berbagai belahan dunia.

Pameran yang berlangsung di Famos Hub ini menampilkan karya-karya dalam format monitor 43 inci di dalam aula sepanjang sepuluh meter. Panel ini menyatukan karya animasi tematik yang berfokus pada gerak, persepsi, dan transformasi. Kanvas kosong dijadikan simbol awal yang membuka kemungkinan, tempat ide-ide bergerak dan menemukan bentuknya. Dari titik itu, pengunjung diajak menelusuri cara para desainer menanggapi perubahan visual di era digital.

Selain memberi ruang presentasi karya, Breaking The Barrier juga bertujuan memperkuat hubungan komunitas kreatif di Surabaya dan sekitarnya. Program ini membuka percakapan antara desainer, mahasiswa, dan profesional kreatif mengenai praktik visual yang terus berkembang. Melalui pameran dan sesi diskusi, diharapkan dapat memperluas pemahaman publik tentang praktik visual kontemporer, serta menginspirasi cara-cara baru dalam melihat hubungan antara ide, medium, dan pengalaman.

web-21
web-19
web-20
web-22
web-18
web-23
About the Author

Dhanurendra Pandji

Dhanurendra Pandji is an artist and art laborer based in Jakarta. He spends his free time doing photography, exploring historical contents on YouTube, and looking for odd objects at flea markets.