Black Hand Gang: Idealisme dan Perjuangan Studio Cetak Grafis

Ubud tampaknya punya pesonanya sendiri di antara dinamika dan ingar bingar pariwisata Pulau Dewata. Tradisi dan alam bak menyatu pada kota itu. Di tengah mulai ramainya Ubud, kota itu masih menjadi tujuan bagi orang-orang untuk mencari ketenangan dan jeda. Bahkan, tokoh Elizabeth Gilbert mengunjungi Ubud di Eat, Pray, Love (2010) dalam serangkaian pencarian jati dirinya. Ubud menawarkan berbagai tujuan bagi para pelancong, seperti destinasi sejarah serta budaya, wisata kuliner, jelajah alam, yoga atau meditasi, dan tak terkecuali kunjungan seni. Dalam urusan seni, penjelajahan di Ubud kini tak hanya berhenti pada gaya tradisional.

Menyusuri Jalan Raya Mas, di antara deretan bangunan dengan candi bentar sebagai mukanya, berdiri sebuah tempat anomali dengan fasad berupa kontainer hitam. Menyusur masuk di antara dua kontainer hitam tersebut, terdapat sebuah bangunan dua lantai. Di lantai dasar, beberapa papan screen berjejer tak jauh dari pintu masuk. Karya-karya cetak mengelilingi sisi dalam bangunan. Seorang terlihat sedang sibuk nggesut papan screen dengan rakel. Sedangkan, seorang lainnya tengah menggulung dan mengemas karya cetak. Seperti itulah keseharian di Black Hand Gang (BHG).

BHG hadir di Ubud sebagai sebuah studio cetak grafis dan creative hub yang telah berdiri sejak 2020 silam di tengah masa pandemi. Dalam perbincangan dengan Lina Nata Kurnia sebagai General Manager dan Rinaldo Hartanto selaku Studio Manager, BHG melihat masih terbatasnya studio cetak grafis di Indonesia, terutama Bali. Dalam artian, studio yang ada terbatas pada personal, komunitas, atau kampus. Dalam konteks Ubud, di tengah kekayaan tradisi, BHG menilai seni di Ubud didominasi oleh seni lukis dan patung. Dibandingkan kedua media arus utama ini, seni cetak, terlebih lagi dengan gaya kontemporer, masih absen.

Dalam menjaga keberlanjutan studio, dari sisi komersial, BHG memproduksi dan menjual karya hasil kolaborasi dengan banyak seniman baik dari dalam maupun luar Indonesia. Mereka yang pernah bekerja sama dengan BHG di antaranya adalah Agus Suwage, Arahmaiani, Darbotz, Eddie Hara, Kanoko Takaya, Mella Jaarsma, Sir Dandy, dan Uji “Hahan” Handoko. Karya-karya tersebut dicetak oleh BHG dengan teknik cetak saring. Menurut Lina, tidak ada teknik spesifik yang ditekankan oleh BHG. Dalam pandangannya, cetak saring dipilih sebagai “pintu” bagi orang-orang awam untuk mengenal studio cetak grafis lebih jauh.

Zoom

Secara umum, BHG memfasilitasi berbagai teknik cetak grafis. Selain teknik cetak saring, Rinaldo menjelaskan bahwa BHG juga melayani teknik cetak dalam seperti etching, photo intaglio, dan drypoint, teknik cetak timbul seperti linocut dan woodcut, teknik cetak datar seperti monotype dan lithography, serta transfer gambar seperti cyanotype. Rinaldo beranggapan bahwa cetak manual mempunyai nilai lebih. “Setiap cetakannya akan berbeda satu sama lain karena diproduksi secara manual. Karena dicetak secara manual, pasti ada semacam human touch dan human error di situ. Itu yang membuatnya menarik dan keliatan tidak flat dan sempurna seperti cetak digital pada umumnya,” Rinaldo menjelaskan.

Upaya untuk membuka diri dan gencar memperkenalkan seni cetak grafis pada satu tahun pertama BHG menurut Lina sedikit demi sedikit telah membuahkan hasil. Lina beranggapan bahwa semakin banyak seniman yang membuat karya cetak grafis dan mendirikan studio. Selain itu, Lina juga berpandangan bahwa karya cetak grafis semakin banyak hadir pada perhelatan dan pasar seni rupa. Di sisi lain, Lina masih melihat bahwa masih banyak tantangan dalam mendistribusikan atau menjual karya cetak kepada publik. Ia mengatakan, “Untungnya kami ada di Bali. Maksudnya, di Bali kan orang ganti-ganti terus. Orang datang dan pergi. Tetangga seperti wisatawan Australia lebih mengenal soal print. Ada yang tiba-tiba beberapa orang datang ke studio, koleksi, beli [karya]. Itu yang membantu kami.”

Lina pun punya pandangan khusus mengenai tren pengoleksian karya ini berdasarkan pengalamannya di BHG. Ia melihat bahwa audiens Indonesia cenderung memilih karya berdasarkan senimannya lantaran sudah cukup familiar dengan nama-nama seniman Indonesia. Sedangkan, pembeli dari luar menekankan pada karyanya, tanpa terlalu memperhatikan nama senimannya. “Jadi mereka datang, suka [dengan karyanya] lalu beli,” ia menuturkan. “Tapi, kalau pembeli Indonesia nanya, ‘Masih punya karyanya Om Eddie [Hara] yang ini enggak?’ Jadi spesifik banget.”

Lebih lanjut lagi, upaya keberlanjutan juga dilakukan oleh BHG melalui proyek komisi. Dalam hal ini, BHG menerima pengerjaan atau produksi karya cetak dari para seniman Indonesia maupun luar. Menurut Lina, teknik cetak saring masih menjadi favorit bagi seniman Indonesia. Sedangkan, seniman luar justru datang dengan permintaan teknik cetak dalam. Uniknya, proyek komisi ini juga datang dari para pemilik hotel atau restoran di Bali. Lina menjelaskan bahwa Bali sebagai destinasi wisata menjadikan bisnis penginapan dan tempat makan terus bermunculan. Ia mengatakan bahwa BHG kerap menerima proyek komisi dari para pemilik usaha tersebut dalam menyediakan karya cetak sebagai dekorasi tempat-tempat tersebut.

Sesuai intensinya untuk terbuka bagi publik, BHG pun menginisiasi berbagai lokakarya, seperti cetak cyanotype, botanical monotype, linocut, saring, photo intaglio, dan etching. Menurut Rinaldo, dalam hal demografi, 80% peserta adalah orang asing dan 20% adalah orang lokal. Secara spesifik, Rinaldo juga menyebutkan bahwa peserta lokal didominasi oleh orang Jakarta dan Surabaya yang sudah mengetahui BHG melalui media sosial. “Kalau orang Jakarta justru kebanyakan anak muda. Kaya di 25 sampai 35 [tahun] banyak banget. Tapi, kalau luar negeri kaya bener-bener nyampur, sih. Kaya mas-mas dan mbak-mbak backpacker sampai pensiunan. Bahkan, kemarin kami ada satu keluarga. Bapak, ibu, dan dua anak mau nyobain belajar print,” Rinal menambahkan.

Hadir pada masa pandemi yang berat telah menempa BHG untuk terus melangkah dan mengembangkan studionya di tengah tantangan yang ada. Lahir dan tumbuh di Bali, BHG memahami betul cara untuk menghidupi studio dengan merespon segala karakter Bali dan dinamikanya. BHG membuktikan bahwa idealisme dibangun melalui siasat dan kemampuan merespon ruang serta pasar. Atas segala upayanya untuk menjaga keberlanjutan, BHG telah mewarnai seni cetak grafis dan kontemporer baik Indonesia maupun Bali.

Slide-1
Slide-2
Slide-3
Slide-4
Slide-5
Slide-6
Slide-7
Slide-8
Slide-9
Slide-10
About the Author

Daud Sihombing

Daud Sihombing has been writing professionally for the past 9 years. This fervent alternative publishing enthusiast prefers his quaint little town over the hustle and bustle of the city and doesn't let sleep stop him from watching every single AS Roma match.