Memori Ulang Tahun dalam Karya Angkasa Nasrullah x Richard Phoenix
Karya Angkasa Nasrullah Emir, seniman neurodivergen dari Indonesia, dan Richard Phoenix, seniman asal Inggris, melalui program Peer to Peer yang diselenggarakan oleh Tab Space dan Art.et.al, memberikan pandangan menarik tentang bagaimana kolaborasi seni visual lintas geografis dan abilitas bisa terjadi dengan dinamis dan inklusif. Selama kurang lebih enam bulan, kedua seniman tersebut tidak hanya berbagi pengalaman kreatif mereka tetapi juga berdialog tentang gagasan dan kekaryaan lewat platform digital.
Program Peer to Peer yang menjadi landasan proyek ini memiliki latar belakang yang kuat dalam inklusi dan ekspresi diri. Tab Space sebagai supported studio di Indonesia memiliki visi untuk menyediakan ruang eksplorasi bagi seniman neurodivergen. Mereka menemukan inspirasi dari studio-studio serupa di luar negeri, seperti Art.et.al, sebuah platform yang mendukung seni disabilitas. Melalui pertemuan dengan Sim Luttin, salah satu pendiri Art.et.al asal Australia, Tab Space merumuskan sebuah proyek kolaborasi lintas negara dengan dukungan dari British Council melalui program Connection Through Culture (CTC). “Dua seniman neurodivergen dari Tab Space dipasangkan dengan dua seniman neurotipikal dari Inggris, berkarya dengan merekam apa yang ada di sekitar mereka,” jelas tim Tab Space. Proyek ini berfokus pada proses, yang memungkinkan karya lahir secara organik seiring berjalannya waktu. Kolaborasi ini dilakukan secara daring—memungkinkan seniman untuk membangun hubungan dan memahami proses kreatif satu sama lain.
Angkasa Nasrullah dan Richard Phoenix mengangkat tema perayaan ulang tahun dalam program ini. Berdasarkan cerita Annisa Fanny, Art Facilitator untuk Angkasa, tema ulang tahun muncul setelah Richard melihat buku catatan Angkasa. “Ceritanya itu saat meeting pertama dengan Richard dan Jennifer dari Art.et.al, kami sempat memperlihatkan karya dari masing-masing seniman sebelum kolaborasi ini berjalan. Lalu saat memperlihatkan notebook Angkasa, terdapat tulisan dan gambar tentang ulang tahun, dan ditulis berulang-ulang,” kenang Annisa. Bagi Angkasa sendiri, ulang tahun adalah momen yang sangat berharga. Setiap tahunnya, Angkasa selalu mengingatkan semua orang tentang ulang tahunnya. “Seperti hari, tanggal, menu makanan, serta tidak ketinggalan list kado yang ia inginkan!” imbuh Annisa. Ketika Richard mendengar tentang tradisi ulang tahun Angkasa, ia tertarik walaupun memiliki perasaan yang berbeda terkait ulang tahun. “Perayaan paling penting bagi Angkasa adalah ulang tahunnya. Namun, saya pribadi tidak terlalu suka dengan ulang tahun dan merasa sulit untuk merayakannya—perasaan yang juga dirasakan oleh ibu Angkasa,” ungkap Richard. Namun bagi Richard, ini bisa menjadi pendekatan yang menarik—mengadakan pesta yang tidak perlu diatur, ia hanya perlu melukisnya. “Pada akhirnya, proses ini membuat saya berpikir secara berbeda tentang cara mengapresiasi momen-momen seperti ulang tahun, momen yang bisa digunakan untuk menciptakan situasi yang tidak biasa, tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang lain,” imbuh sang seniman.
Dalam program Peer to Peer ini, Angkasa menciptakan dua karya utama bertema ulang tahun: "Ulang Tahun (1)" dan "Ulang Tahun (2)". Karya pertama dihasilkan dari konsep layer-per-layer, di mana setiap lapisan menggambarkan berbagai elemen penting dalam perayaan ulang tahun Angkasa. Dari undangan yang dibuat bersama Richard, hingga makanan favorit yang digambarkan dengan warna-warna cerah seperti merah muda, ungu, dan kuning—warna-warna favorit Angkasa. Pada lapisan pertama, Angkasa menggambar orang-orang yang ia undang ke perayaan ulang tahunnya, dan pada lapisan kedua, ia menggambarkan makanan yang wajib ada. “Hal-hal lain yang Angkasa inginkan di hari ulang tahunnya digambarkan pada layer ketiga. Layer ini digarap menggunakan spidol yang lebih besar dan berwarna kuning. Dalam prosesnya, ternyata Angkasa masih ingin menggambar beberapa objek lainnya. Kami putuskan untuk menambahkan satu layer lagi menggunakan plastik mika,” jelas Annisa. Karya kedua, "Ulang Tahun (2)", terinspirasi oleh karya cutout Richard yang sering dibuat dari kayu lapis. Dalam karya kedua ini, Angkasa memilih material yang lebih mudah ditangani, yaitu corrugated atau karton bergelombang. “Di karya ini, Angkasa menggambar beberapa tokoh, yaitu teman-teman baru dari Inggris, untuk ikut bergabung di perayaan ulang tahunnya,” cerita Annisa.
Richard Phoenix, lewat karyanya, menyematkan sentuhan keterkaitan emosional dengan tema ulang tahun. Salah satu karya utamanya adalah sebuah lukisan besar perayaan ulang tahun—karya di atas linen berukuran besar. Linen ini awalnya digunakan Richard sebagai pelindung studio, namun jejak-jejak warna dan noda yang terkumpul selama bertahun-tahun menjadi titik awal baginya untuk menciptakan lukisan tersebut. "Selama lebih dari setahun, linen itu mengumpulkan banyak warna dan noda dari studio, yang masih bisa terlihat di lukisan akhirnya," ungkap Richard. Selain itu, Richard juga membuat serangkaian karya cutout dari kayu lapis atau plywood, yang telah menjadi ciri khasnya. Salah satu karya cutout yang menarik perhatian adalah sebuah patung berpotongan dari kayu lapis yang menggambarkan seseorang duduk dengan seekor kucing, sebuah detail yang menekankan kecintaan Richard dan Angkasa terhadap hewan tersebut. “Kesamaan saya dan Angkasa lainnya adalah kecintaan kami pada kucing,” Richard menjelaskan.
Kolaborasi antara Angkasa dan Richard bukan hanya tentang menciptakan karya seni, tetapi juga memahami proses kreatif satu sama lain. Meskipun mereka bekerja di dua benua yang berbeda, teknologi seperti Zoom memungkinkan mereka untuk bertemu secara berkala, berbagi progres karya, dan mendiskusikan ide-ide baru.Richard menggambarkan pengalaman ini sebagai sesuatu yang "benar-benar menyenangkan dan produktif." Diskusi antara Angkasa dan Richard sebagian besar berlangsung melalui gambar dan karya seni mereka sendiri—saling merespon hasil, menciptakan siklus dialog kreatif yang mendorong mereka untuk terus mengembangkan ide-ide baru. “Sangat menyenangkan bahwa sebagian besar komunikasi kami dilakukan melalui gambar dan lukisan—kami berdua merespons apa yang dilakukan satu sama lain dengan cara kami sendiri dan berbagi tanggapan kami dan banyak pekerjaan akan berkembang dari itu,” ujar Richard.
Tentu saja, proyek kolaboratif lintas negara tidak lepas dari tantangan. Bagi Angkasa, tantangan terbesar adalah bagian "mewarnai" dalam proses pembuatan karya. Namun, dengan bantuan dan bimbingan dari fasilitator seni di Tab Space, ia berhasil mengatasi hambatan tersebut. Rahmi Handayani, ibu Angkasa, juga mencatat bahwa ini adalah pengalaman pertama bagi putranya untuk berkolaborasi dengan seniman internasional. “Seru, karena sama-sama suka musik juga,” katanya. Di sisi lain, bagi Richard, tantangan terbesar adalah bekerja secara daring dan membuat karya tentang ulang tahunnya sendiri—sebuah momen yang biasanya sulit ia rayakan. “Saya tidak terlalu suka merayakan ulang tahun saya, tapi melalui proses ini saya melihatnya dengan cara berbeda,” ungkap Richard. Melalui kolaborasi dengan Angkasa, Richard menemukan makna baru dalam merayakan momen-momen hidup, yang sebelumnya terasa sulit baginya.
Kolaborasi Angkasa dan Richard memiliki kekuatan untuk menembus batas-batas fisik, kultural, dan kemampuan. Melalui proses kreatif yang penuh empati, kedua seniman ini berhasil menghasilkan karya yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga bermakna. Program Peer to Peer yang diusung oleh Tab Space dan Art.et.al ini juga membuktikan bahwa kolaborasi lintas negara dan lintas kemampuan bisa menjadi alat yang efektif untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya inklusi dalam seni.