Di Balik Visual Gateways Study Visit Indonesia 2024 oleh GovTech Edu
Dari tanggal 1 hingga 3 Oktober 2024, Bali menjadi tuan rumah Gateways Study Visit 2024 (GSV). Acara ini dikelola secara kolaboratif oleh UNESCO dan UNICEF, dan pertama kali diinisiasi pada 2022 dalam Transformation Education Summit (TES) oleh PBB di New York, AS. GSV bertujuan untuk mendiskusikan dan mendorong transformasi pendidikan melalui kemajuan teknologi. Dengan tema "Beyond Tech Intervention: Navigating Indonesia's Education Transformation," Indonesia dipilih sebagai negara tuan rumah untuk menunjukkan bagaimana pendidikan di negara ini telah berkembang dengan teknologi program Merdeka Belajar. Selain kunjungan ke sekolah dan acara budaya, GSV 2024 juga mencakup pameran selama tiga hari yang menampilkan berbagai program yang dikembangkan oleh GovTech Edu untuk program Merdeka Belajar. Tim internal GovTech Edu bertanggung jawab untuk memastikan pengalaman yang menarik secara visual dan informatif bagi para delegasi yang hadir.
Cempaka Surakusumah, Brand Manager di GovTech Edu, menjelaskan bahwa branding acara ini berfokus pada tema inti transformasi—menunjukkan bagaimana pendidikan terus berkembang melalui intervensi teknologi. Penjenamaan ini dapat dibagi menjadi tiga elemen inti: palet warna biru dan kuning yang diambil dari logo Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Indonesia (Kemendikbud); efek ripple yang terus berkembang yang merepresentasikan teknologi transformasi serta semangat dan dampak yang terus bergema; dan penggunaan gradasi untuk melambangkan refleksi cahaya serta momen refleksi dan pembelajaran yang difasilitasi di acara ini. "Grafis yang dihadirkan juga ingin memberikan pesan dampak yang berkelanjutan bagi pendidikan di Indonesia dengan memanfaatkan platform teknologi yang telah dibangun dan membuahkan hasil," jelas tim GovTech Edu.
Dalam menampilkan inisiatif Merdeka Belajar, tim GovTech Edu berfokus pada menyoroti orientasi pengguna dari program tersebut dari perspektif pengembangan produk. Hal ini mendorong tim untuk mendekati elemen visual dalam semua kebutuhan kampanye dari sudut pandang yang lebih empatik, baik dalam proses desain maupun dalam menentukan arah komunikasi. "Pada akhirnya ini membuat kami di GovTech Edu jadi lebih mindful untuk tidak hanya sekedar mengejar visual yang engaging tapi juga lebih fungsional dan mengedepankan distribusi informasi yang dibutuhkan oleh pengguna," kata tim tersebut.
Sebagai bagian dari GSV 2024, tim GovTech Edu juga bertanggung jawab atas pameran yang menampilkan masing-masing produk mereka dalam program Merdeka Belajar. Arah grafis dirancang untuk secara implisit menggambarkan dampak transformasi digital sebagai hasil dari kehadiran Kemendikbudristek antara 2019-2024. Desain pameran terutama berfokus pada bagaimana masing-masing platform Inisiatif Merdeka Belajar (Merdeka Mengajar, Rapor Pendidikan, ARKAS & SIPLah, dan Hi Edu) telah memperlancar dan berdampak positif pada sekolah, guru, dan yang terpenting, siswa. "Proses pembangunan pameran ini sifatnya kolaborasi dan gotong royong antara tim Brand & Communication dan Design & Research. Dari proses awal brainstorming yang masih liar, sampai synthesizing ideas menjadi ‘good enough’ plan and execution, bukan sesuatu yang sekedar dekoratif tapi informatif dan menciptakan experience untuk bantu deliver pesan yang ingin disampaikan menjadi lebih mudah dipahami," jelas tim GovTech Edu.
Tim melanjutkan dengan menjelaskan bahwa dalam mengembangkan visual untuk branding acara ini, tim GovTech Edu bertujuan untuk menciptakan sistem desain yang adaptif dan fungsional dari pemilihan font, tata letak sistem, bahkan menyediakan beberapa template elemen visual untuk memastikan konsistensi tonal branding. Branding juga harus mempertimbangkan bagaimana mereka akan mengaitkan elemen budaya Indonesia. "Dari segi visual, mungkin lebih subtle yaitu melalui penggunaan warna pada branding. Selain terinspirasi dari warna Kemdikbud juga terinspirasi dari lokasi event yaitu Bali. Pemilihan warm color, perpaduan antara biru dan kuning, juga terinspirasi dari elemen yang identik dengan Bali yaitu laut dan matahari yang hangat untuk menyambut all delegates."
Desain GovTech Edu harus memenuhi kebutuhan berbagai pemangku kepentingan yang terlibat dalam GSV, mulai dari siswa hingga profesional industri. Mereka berhasil mencapai hal ini dengan menyusun sistem branding yang tidak terlalu mencolok dan memposisikan branding lebih pada fungsi untuk mendukung acara internasional tanpa mengesampingkan substansi materi acara. Kolaborasi antara semua pihak yang terlibat, terutama antara tim Branding & Communication GovTech Edu dengan tim Design & Research, menjadi kunci dalam menyelenggarakan acara ini dalam tenggat waktu yang ketat. "Dengan mindset kolaboratif dan ‘good enough’ membuat kami lebih terbuka dan agile akan perubahan dan masukan yang kami terima. Tau kapan harus let go, dan kapan harus negotiate. Kapan harus hands on dan kapan cukup supervise aja. Tetap menjaga kualitas dan tonality branding tanpa terpaku hanya pada hasil yang sempurna," jelas tim GovTech Edu.
Tim Brand & Communication: Kevin Arrfandy as Head of Brand & Communication Cempaka Surakusumah, Yudith Halim, Claudia Mandagie, Buda Patrayasa, Wanda, Meilina
Tim Design & Research: Lody Andrian, Adriansyah Mursalin, Gupita Prameswari, Sania Saraswati, Tasha Dara, Thalya Shelyndra