Di Balik Identitas Rasa dan Visual Lunch for My Husband
Bagi Yori Atira, memasak bukan sekadar urusan dapur, melainkan bagian dari dorongan untuk membuat sesuatu yang nyata dan bisa dibagikan. Di antara kegiatannya mengelola brand fesyen atira.works, ia juga mengasah craftsmanship tangannya di dunia kuliner. Ia menyebutnya sebagai passion untuk membuat. “Membuat suatu produk dengan tangan, sesuatu yang tangible, bisa dinikmati oleh diri saya sendiri, keluarga saya, teman-teman, dan semua orang,” ujarnya.
Gagasan itu menjadi dasar lahirnya Lunch for My Husband pada Agustus 2020, di tengah pandemi Covid-19. Sebelum menjadi menu yang dijual ke banyak orang, hidangan ini sering Yori buat di rumah sebagai salad, saus, atau makanan utama yang kemudian ia rangkai kembali. Seperti namanya, Yori terbiasa menyiapkan bekal sandwich untuk suaminya bekerja. “Kenapa sandwich? Sesederhana karena itu masakan yang saya bekalkan untuk suami. Selain itu, menurut saya, kita bisa merasakan a plate of food dalam sebuah gigitan sandwich. Rasa gurih, manis, asam, pahit, berbagai tekstur, semua dalam harmoni. Memotongnya dalam cross-section memberi kesempatan bahan-bahan di dalamnya menampilkan dirinya dan menghasilkan bentuk serta lapisan yang indah secara natural,” kata Yori.
Yori tidak memiliki latar pendidikan kuliner. Pengalamannya justru berasal dari desain mode yang ia bawa ke dapur terutama dalam merancang menu. Ia menerangkan prosesnya seperti mendesain sebuah produk, “hanya saja hasilnya adalah makanan,” jelasnya. Proses ini ia jalani di dapur rumah, yang ia anggap sebagai oasis personal di tengah ritme cepat dapur komersial. “Saya merasa diperbolehkan untuk berjalan dengan lambat dan memiliki kesempatan untuk merasakan semua bumbu dan rasa dengan penuh ketika saya memasak di rumah,” ujarnya. Hal inilah yang membuat mereka memutuskan untuk menjalani Lunch for My Husband. “Sentimen personal inilah yang akan selalu menjadi driving force dalam menjalankan usaha ini. Dalam situasi apapun, kami akan tetap mencintai yang kami lakukan. Saya secara personal selalu dapat kembali ke momen ini di dapur rumah,” jelas Yori.
Pandemi yang membatasi mobilitas membuat Yori dan suaminya, Mawarid Rolansyah, atau kerap disapa Abang, mencoba menghidupkan kembali pengalaman rasa dari negara-negara yang pernah mereka kunjungi. Menu Lunch for My Husband terinspirasi dari beragam masakan dunia, sebagian besar dari memori perjalanan mereka. Hingga saat ini, konsep menu dan kemasannya masih konsisten dengan tema perjalanan. Selalu ada cerita di balik menu-menu yang mereka ciptakan. Misalnya saja pada dua menu mereka, Evard yang terinspirasi dari perjalan mereka di Kopenhagen dan Haruki yang inspirasinya datang dari perjalanan mereka ke Jepang.
Mereka memadukan skagenröra (salad udang) dengan saus krim herbal segarnya, jeruk marinasi, zucchini panggang, acar bawang merah, selada air segar, selada romaine, dan brioche panggang, untuk membangkitkan ingatan mereka tentang hidangan khas Skandinavia tersebut. Sementara itu, pada menu Haruki, mereka menggabungkan ebi katsu dengan saus ponzu, saus tartar, wasabi, acar mentimun cincang, acar takuan, irisan kol ungu dan selada romaine di antara roti shokupan.
Mereka selalu menginformasikan bahan dan proses penggarapan dengan jelas dalam unggahan sosial medianya. Setiap menu hanya berjalan tiga minggu sebelum diganti dengan varian baru. Pemesanan dibuka melalui pre-order di DM Instagram. Sandwich kemudian diambil langsung di central kitchen mereka di Bintaro/Ciputat, Tangerang Selatan, atau dikirim pada hari yang sudah ditentukan, biasanya Selasa, Kamis, dan Sabtu. Dalam satu hari pengiriman, mereka bisa memproduksi hingga 150-180 sandwich lengkap dengan saus, acar, dan salad segar yang diracik di pagi hari. Mereka juga sesekali bekerja sama dengan pelaku usaha kecil lain, seperti pembuat roti atau produsen bahan lokal, untuk mengisi menu musiman. Selain pertimbangan produksi, hal ini juga dilakukan mereka untuk tetap memberikan sentuhan personal dari proses awal hingga produk diterima oleh pelanggan. Bagi mereka, transparansi terhadap pelanggan adalah hal yang penting.
Sementara Yori bertanggung jawab penuh pada menu dan resep, identitas visual Lunch for My Husband banyak dijalankan oleh Abang, yang juga berprofesi sebagai direktur kreatif studio 7per8. “Peran saya adalah menginterpretasikan cerita, visi dan emosi yang ingin disampaikan oleh Istri (Yori) terhadap menu yang akan dia buat melalui identitas visual, desain dan foto produk sehingga setiap elemen dalam kampanye media sosial pada gilirannya membentuk konsistensi identitas Lunch For My Husband,” ujarnya.
Dalam mengembangkan konsep visual dan kemasan, Abang dan Yori juga mengambil inspirasi dari lanskap visual perjalanan mereka. Pendekatan visual selalu berelasi dengan cerita personal yang ingin mereka sampaikan, apalagi dengan pergantian menu setiap musimnya, yang berbasis dari pengalaman personal yang berbeda-beda. “Pada awal LFMH terbentuk, kami banyak mengambil inspirasi dan referensi dari hal-hal hal-hal yang selalu menempel di benak dan hati kami saat kami travelling. Berbagai visual di pasar, mulai dari kemasan makanan, poster sampai tulisan-tulisan tangan para penjual di display. Memori kami terhadap warna-warna yang merepresentasikan kota-kota dari berbagai negara yang kami kunjungi juga menjadi dasar pertimbangan sendiri. Semua hal ini kami gabungkan sebagai dasar pemilihan skema palet, tipografi, layouting, dan foto yang mampu menyalurkan memori dan emosi yang kami rasakan,” ujar mereka.
Kampanye mereka selalu berawal dari penyampaian cerita di balik menu yang akan diluncurkan. Unggahan pertama akan menentukan nada visual seluruh musimnya. Cerita itu kemudian mengalir ke peluncuran produk, jadwal pre-order atau pop-up, dan informasi lain. Setiap pergantian menu diikuti dengan eksplorasi visual baru dengan tetap mempertahankan tata letak yang menjadi ciri.
“Menampilkan produk kami dengan jelas, transparan dan jujur tetap menjadi prioritas nomor satu. Begitu juga dengan pemilihan kemasan kami,” tegasnya. Mereka selalu mencari keseimbangan antara storytelling dan tampilan produk makanan mereka. Kemasan sandwich yang ada sekarang merupakan hasil dari proses uji coba yang panjang. Mereka mencoba berbagai jenis dari paperbag lunch bag, pull out box, pizza box, sampai akhirnya pilihan jatuh pada kotak cardboard dengan tutup berbahan mika transparan. Meski secara fungsi lebih sering digunakan untuk dessert, tetapi mereka mengolahnya menjadi kemasan sandwich. “Kami merasa kemasan ini sempurna untuk memperlihatkan semua ingredients di cross section sandwich kami,” jelas mereka. Selain itu, elemen grafis dalam kemasan mereka disusun secara fungsional efisien. Seluruh komponen yang ada dalam menu mereka tertulis dalam label kemasan yang juga memiliki fungsi perekat kemasan. Semua ini didesain agar semua terlihat jelas dan transparan.
“Setiap lapisan yang diletakkan di dalamnya akan mempengaruhi eating experience pelanggan kami,” ujar Abang. “Di dalam satu sandwich akan ada elemen gurih, asam, manis, serta tekstur crunch dan lembut. Peletakan ingredients akan mempengaruhi rasa mana yang akan memulai dan menutup gigitan pertama akan sandwich-nya. Rancangan lapisan ini juga akan mempengaruhi visual karena ini lah yang akan pertama kali dilihat oleh pelanggan,” lanjutnya.
Mereka selalu mencoba memecahkan limitasi dalam media yang mereka gunakan. Tantangan lainnya adalah bagaimana mereka dapat menampilkan emosi yang ingin mereka sampaikan melalui media digital yang bersifat dua dimensi, hanya terlihat oleh mata, tanpa menggunakan indera lainnya. “Dalam foto produk, misalnya, saya selalu menjaga komposisi agar tetap minimal untuk memberikan spotlight kepada sandwich-nya. Saya memanfaatkan negative space untuk memberikan pengalaman pelanggan agar lebih dalam dan fokus saat meilhat gambar-gambarnya. Komposisi ini juga memungkinkan saya untuk menerapkan elemen grafis, tata letak dan tipografi yang lebih agile dalam kampanye media sosial kami,” jelas Abang.
Prinsip desain mereka memberi kebebasan untuk mengikuti idealisme pribadi. “Karena ini adalah usaha kami berdua, kami memiliki sebuah privilege yang sangat kami hargai untuk merealisasikan idealisme kami,” ujar Abang. Pengalaman mendesain yang dilakukan sendiri sampai sekarang pun juga menjadi semacam “stress release” baginya karena ia dapat bereksplorasi dengan lebih bebas.
Sejak berdiri 5 tahun yang lalu, saat ini Lunch For My Husband sudah menghasilkan 49 kreasi menu, 1623 potong sandwich, dan 5 anggota keluarga yang menghangatkan dapur mereka. Bagi pasangan ini, nilai paling berharga dari usaha mereka adalah koneksi yang terjalin. Pengalaman pelanggan selalu menjadi pertimbangan sejak awal pengembangan produk hingga akhirnya produk diterima oleh pelanggan. “Kami selalu berusaha menjalin hubungan emosional yang konsisten di setiap menunya. Pengalaman ini terbentuk dari semua elemen: desain grafis, makanan, bahasa komunikasi lewat DM, penulisan cerita di caption, pemilihan musik di media sosial, foto yang menampilkan latar cerita, tone foto produk, rasa dan warna bahan makanan, memori yang kami ingat dari rasa itu, emosi dari warna itu, dan bagaimana grafis menerjemahkannya,” jelas mereka. Mereka menekankan bahwa semua komponen ini harus terjalin harmonis agar setiap visual dan makanan menimbulkan emosi yang sama dari awal hingga akhir.
“Kami percaya bahwa membangun koneksi akan menghadirkan pengalaman spesial pada setiap pelanggan yang memesan makanan kami,” ujar mereka. Semangat itu terasa lengkap ketika pelanggan memesan sandwich untuk dibagikan kepada orang terdekat di berbagai penjuru kota. Persis seperti semangat yang menjadi awal mula Lunch for My Husband.