Di Balik Desain MetaHuman Nike Ardilla di Synchronize Fest 2024 oleh bujukrayu

Synchronize Fest 2024 menghadirkan gebrakan yang monumental dan magis dengan menghadirkan sosok penyanyi legendaris Indonesia, Nike Ardilla, dalam bentuk MetaHuman. Pada hari terakhir acara (6/10), MetaHuman Nike Ardila tampil membawakan tembang-tembang hitnya dan menyapa penonton—mengobati rasa rindu para penggemar. Penampilan ini tentu tak lepas dari rancangan visual, baik karakter MetaHumanNike Ardilla maupun desain pertunjukannya secara keseluruhan. Grafis Masa Kini berkesempatan untuk berbincang dengan bujukrayu, kolektif kreatif di balik rancangan MetaHumansang Lady Rocker.

Berdasarkan penuturan Ferly Novriadi (Peyi), Co-Founder bujukrayu, sejak beberapa tahun terakhir ini, kolektifnya memang mulai merambah ke industri hiburan, tak terkecuali pertunjukan musik. Nike Ardilla Live Bersama di Synchronize Fest 2024 menjadi proyek pertama bujukrayu di bidang tersebut. “Ide membuat pertunjukan Nike Ardilla sebagai salah satu special show di Synchronize Fest 2024 awalnya datang dari Edy Khemod, selaku show director-nya. Tim produksi yang ditunjuk oleh Synchronize untuk menjalankan proyek ini adalah kolaborasi antara Cerahati dan Taba & Team,” ungkap Peyi, mengawali cerita. Pada awalnya, pertunjukan tersebut hanya berupa tribute show, di mana beberapa penyanyi lokal akan membawakan lagu-lagu hit Nike Ardilla dengan rancangan aransemen yang fresh. “Itu pun sebenarnya sudah cukup menarik, mengingat basis penggemar Nike Ardilla sangat besar dan fanatik. Tapi waktu itu, Khemod masih mencari missing piece yang bisa membuat pertunjukan ini lebih spektakuler lagi,” imbuh Peyi. Bujukrayu pun menjadi jawaban dari pencarian Khemod untuk melengkapi special show ini dengan ide menampilkan MetaHuman Nike Ardilla. “Kebetulan, salah satu hal yang memang ingin kami lakukan adalah MetaHuman show, jadi peluang ini rasanya klop banget. Setelah ide kami disambut baik oleh Khemod dan timnya, kami pitch ide ini ke tim Synchronize, dan mereka pun tertarik untuk bekerja sama dengan bujukrayu. The rest is history.


Sebagai kolektif kreatif yang berdiri sejak 2013, bujukrayu sudah cukup memiliki pengalaman dalam menciptakan karakter MetaHuman—bahkan, salah satu tim bujukrayu menjadi beta tester pertama dari teknologi tersebut. “Waktu itu hanya untuk eksplorasi saja, tujuannya lebih untuk belajar dan ngulik, jadi tidak ada karakter MetaHuman hasil eksplorasi kami yang di-publish,” tutur Peyi. Special show untuk Nike Ardilla di Synchronize Fest 2024 menjadi pengalaman pertama bujukrayu dalam menciptakan karakter MetaHuman dari figur legendaris yang pernah mewarnai industri hiburan Indonesia. “Kami sadar, ini tidak akan semudah pengalaman kami sebelumnya, karena hasilnya harus mirip dan identik dengan seseorang yang sudah dikenal luas, dari lekuk wajah hingga tubuhnya.” Dalam proses perancangan MetaHuman ini, langkah pertama yang dilakukan oleh bujukrayu adalah mengumpulkan semua foto mendiang Nike Ardilla untuk dipelajari secara detail. Tak hanya itu, tim bujukrayu juga menonton semua arsip video Nike Ardilla yang dapat mereka temukan di internet. Proses ini tidak afdol rasanya jika tidak melibatkan keluarga dari mendiang Nike Ardilla. “Kami berdiskusi dengan keluarga (Nike Ardilla), yang tentunya lebih mengenal sosok Nike secara mendalam. Kami bahkan pergi ke Museum Nike Ardilla di Bandung untuk studi lebih lanjut,” cerita Peyi.

Langkah awal tersebut menjadi bagian yang cukup menantang bagi tim bujukrayu karena mereka tidak menyangka arsip figur legendaris seperti Nike Ardilla ini tidak banyak ditemukan. “Foto-foto yang ada juga tidak ada yang hi-res seperti yang kami harapkan, jadi banyak yang harus diakali dengan teknologi upscale. Bahkan, beberapa sudut wajah yang tidak ada fotonya harus kami reka ulang dengan bantuan AI,” kata Peyi. Hasil penemuan dari arsip foto dan video Nike Ardilla tersebut menjadi landasan bujukrayu saat memulai proses sculpting model yang tak juga mudah, kata Peyi, karena harus dengan kesepakatan banyak pihak, terutama keluarga dan klub penggemar Nike Ardilla. Walaupun cukup kompleks, proses sculpting ini menyenangkan bagi tim bujukrayu—pembahasan mengenai detail rambut, pakaian, sepatu, hingga aksesoris menjadi hal yang seru. “Kami sampai harus melakukan scan jaket asli, sepatu, dan jam tangan milik Nike,” imbuh Peyi. 

Tak hanya visual, suara Nike Ardilla yang ikonik juga menjadi perhatian bujukrayu dalam proyek ini. Pada awalnya, bujukrayu berencana menggunakan suara asli dari rekaman album Nike Ardilla untuk melatih model AI cloning. Sayangnya, master rekaman tersebut musnah dalam insiden kebakaran menurut penuturan Musica Studio, sehingga bujukrayu harus mencari pengganti suara. Setelah pencarian yang cukup panjang, mereka menemukan Ressa, seorang penggemar Nike Ardilla dari Sulawesi Selatan yang suaranya dianggap cukup mirip. Ressa kemudian dipilih untuk menyuarakan karakter MetaHuman Nike dalam pertunjukan tersebut. Untuk menangkap gerakan Nike, bujukrayu melakukan proses motion capture di studio milik SMK Raden Umar Said di Kudus, Jawa Tengah. Ressa, yang sudah familiar dengan gerakan Nike, mengenakan motion capture suit dan menjadi “joki” untuk karakter MetaHuman Nike. Selain memiliki kemiripan suara, Ressa juga dikenal sebagai penggemar fanatik yang sudah mendalami gaya dan gestur Nike selama bertahun-tahun.

ZOOM-2

Ketika menampilkan MetaHuman Nike Ardilla di panggung Synchronize Fest 2024, bujukrayu memilih untuk tidak menggunakan teknik mesh screen klasik seperti pada pertunjukan hologram Tupac di Coachella 2012 dan tur Whitney Houston tahun lalu. Alih-alih, mereka menggunakan layar LED besar yang memungkinkan MetaHuman Nike untuk berinteraksi dengan latar dan cahaya panggung—menciptakan ilusi yang lebih realistis. Inspirasi untuk penggunaan layar LED ini datang dari pertunjukan ABBA Voyage yang telah membuktikan efektivitasnya dalam menghidupkan karakter digital. “Kekurangan dari penggunaan mesh screen adalah sosok MetaHuman menjadi transparan dan kurang solid. Selain itu, latar belakang panggung harus steril pitch black. Sementara yang kami semua inginkan adalah agar MetaHuman bisa berinteraksi dengan lampu dan latar belakang panggung,” jelas Peyi.

Tantangan terbesar tentunya datang di panggung. Bujukrayu harus menjaga sinkronisasi antara cahaya, warna, dan efek visual agar ilusi tersebut tampak nyata. Peyi menjelaskan lebih lanjut, “Misalnya, berapa tingkat saturasi dan kecerahan yang tepat agar saat lampu panggung dan aksen seperti smoke gun menyala, MetaHuman tetap terlihat seperti manusia asli yang berada di panggung. Membuat MetaHuman Nike Ardilla yang mirip adalah satu hal, tapi membuatnya tampak hidup di panggung adalah tantangan lain yang cukup berat.” Tak hanya itu, semua perhitungan hanya dapat dibuktikan secara presisi pada gladi resik (2/10). Sementara itu, pertunjukan digelar beberapa hari setelahnya. “Jadi kalau ada kesalahan atau error yang berhubungan dengan 3D render, kami sudah tidak punya waktu untuk melakukan revisi. Namun, pada akhirnya, it’s all about the whole experience dan vibe-nya,” imbuh Peyi. Alur pertunjukan sendiri telah dirancang dengan apik oleh Cerahati dan Taba & Team, membuat segala kendala teknis dan ketidaksempurnaan yang hanya diketahui oleh tim internal dan segelintir penonton menjadi bahan bakar untuk pertunjukan berikutnya yang akan dirancang oleh bujukrayu.

Sebagai proyek hiburan pertama dari bujukrayu, Nike Ardilla Live Bersama di Synchronize Fest 2024 memberikan banyak pembelajaran dari segi teknis dan menjadi pengalaman berharga untuk bekal perjalanan bujukrayu ke depannya. Dengan MetaHuman yang dirancang sedemikian rupa, pertunjukan ini juga menjadi wadah bernostalgia dan sebuah penghormatan bagi mendiang Nike Ardilla.

SLIDE-1
SLIDE-2
SLIDE-3
SLIDE-4
SLIDE-5
About the Author

Alessandra Langit

Alessandra Langit is a writer with diverse media experience. She loves exploring the quirks of girlhood through her visual art and reposting Kafka’s diary entries at night.