Kepada Satu Jari: Pameran Wagiono Sunarto

Dari sketsa hingga cetak saring, Wagiono Sunarto menegaskan dirinya sebagai sosok bertalenta besar dalam lanskap seni rupa kontemporer Indonesia. Dikenal karena ketelitiannya dalam menggambar, Wagiono memosisikan medium tersebut bukan sekadar sebagai latihan estetika, melainkan sebagai wadah bagi pemikiran, proses, dan fungsi. Pada 17 Oktober 2025, Selasar Sunaryo Art Space membuka pintunya untuk memperingati kehidupan dan praktik artistik sang perupa melalui pameran retrospektif bertajuk "Menulis Dengan Satu Jari". Judul ini, yang diambil dari catatan pribadi Wagiono sendiri, menangkap etos dan etika sang seniman: seorang perupa yang bekerja dengan ketepatan yang tenang, perenungan mendalam, dan ketulusan yang tak tergoyahkan.

Pameran ini menghadirkan beragam karya Wagiono—sketsa, grafis, dan coretan—yang bersama-sama membentuk potret seorang seniman yang kreativitasnya tidak hanya hidup dalam karya jadi, tetapi juga dalam proses penciptaan itu sendiri. Katalog yang menyertai pameran ini merefleksikan semangat tersebut, memetakan keluasan praktik Wagiono sekaligus menyoroti benang merah yang menghubungkan perjalanan kariernya. Meskipun ia mengeksplorasi berbagai medium, inti dari karya Wagiono terletak pada ketelitian dan pemikiran mendalam di balik setiap prosesnya, serta kemampuannya memperlakukan setiap garis sebagai bentuk meditasi atas rupa dan makna.


Ungkapan “menulis dengan satu jari” merangkum pendekatan ini dengan sempurna. Bagi Wagiono, seni bukanlah titik akhir dari ekspresi, melainkan sebuah tindakan refleksi yang berkesinambungan—sebuah keterlibatan taktil, bahkan nyaris spiritual, dengan dunia. Jari di sini menjadi metafora atas keintiman, kehadiran langsung, dan kerentanan—alat paling manusiawi untuk menerjemahkan pikiran menjadi citra. Di tangannya, menggambar dan mencetak menjadi tindakan pengamatan dan pemahaman, menelusuri baik dimensi yang tampak maupun yang tersembunyi dari realitas.

Namun demikian, inti dari pameran ini adalah refleksi tentang dualitas, sebuah tema yang menjiwai keseluruhan praktik artistik Wagiono. Di satu sisi, ia menenggelamkan dirinya dalam eksplorasi formal unsur-unsur visual—pencarian yang paling nyata tampak dalam karya-karya cetak saringnya. Sketsa-sketsa persiapannya menunjukkan perhatian disiplin terhadap garis, warna, komposisi, dan struktur, di mana setiap elemen disempurnakan dengan hati-hati hingga mencapai harmoni yang tenang.

Di sisi lain, karya-karya gambarnya memperlihatkan dimensi yang lebih kritis dan sosial-politis. Catatan serta citra-citra yang ia tinggalkan mencerminkan kepekaan mendalam terhadap gejolak politik dan sejarah Indonesia. Wagiono mengamati pola represi rezim Orde Baru serta kekerasan yang melingkupi tragedi Mei 1998, dan menerjemahkan realitas tersebut ke dalam bahasa visual yang halus, penuh perenungan, namun sarat makna. Baginya, seni bukanlah pelarian dari dunia, melainkan cara untuk menyaksikan dan memahami dunia itu sendiri.

Dengan memadukan dua dorongan ini—yang estetis dan yang etis, yang personal dan yang politis—Wagiono mencapai keseimbangan yang langka dan menegaskan posisinya dalam lanskap seni kontemporer Indonesia. Warisannya bertahan bukan hanya dalam citra-citra yang ia tinggalkan, tetapi juga dalam integritas prosesnya: pengingat bahwa seni, pada hakikatnya, adalah cara melihat sekaligus cara hidup.


Pameran akan dibuka untuk publik mulai 17 Oktober 2025 hingga 25 Januari 2026. Selasar Sunaryo Art Space berlokasi di Jl. Bukit Pakar Timur No.100, Ciburial, Kec. Cimenyan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat 40198, dengan jam operasional pukul 10.00–12.00 dan 13.00-17.00 setiap hari Selasa hingga Minggu.

web-20
web-21
web-22
web-23
web-24
web-25
About the Author

Sabrina Citra

Sabrina Citra is a researcher who is based in Jakarta. She is currently interested in the intersection of aesthetics, cultural studies and language/linguistics.