Mencari Yang Luhur melalui Mesin
Pencarian akan Yang Luhur — atau Yang Sakral — telah lama menjadi subjek populer dalam ranah estetika. Para seniman lama dan baru sama-sama memiliki ketertarikan dalam eksperimentasi dengan keterinderawian iman, dan, mereka menjadikan iman sebagai subjek yang pasti dan nyata melalui realisme, simbolisme, atau abstraksi. Dari sini, seni menjadi medium tersendiri untuk kepercayaan yang dihayatinya ataupun yang dikritiknya; yang dihidupi melalui ekspresi pengabdian kepada Tuhan, dewa, nabi, ataupun relasi dengan leluhur melalui alam, dan ritual doa atau meditasi yang personal. Praktik berkarya menjadi perjalanan untuk menghadapi dan merefleksikan makna kepercayaan tersendiri, dimana karya yang selesai dapat dibaca sebagai penjelasan keimanan individual maupun kolektif di masa itu, dan mempertanyakan pelestarian kepercayaan tersebut (atau justru jarak kita darinya).
Dalam ranah estetika kontemporer, subjek iman tidak dibaca sebagai upaya untuk koreksi moral atau penjelasan doktrin, tapi sebagai naluri manusiawi. Tidak ada kebenaran ataupun rationale yang dijanjikan dalam berkarya, hanya ada kesaksian terhadap keindahan dalam kepercayaan masing-masing. Seseorang tidak harus berasal dari tradisi iman yang sama untuk memiliki koneksi dengan karya yang sakral, karena ranah estetika memberi ruang untuk pengertian terhadap keberagamaan dalam artian kepercayaan dan ketuhanan; di mana sang audiens diajak untuk memahami dan merasakan.
Apa yang menggerakkan Anda saat melihat karya-karya ini? Apakah ada rasa dekat dengan simbol-simbol yang selama ini dipahami sebagai relik sejarah atau cerita rakyat? Barangkali pada suatu karya yang sakral, ada kualitas yang secara inheren melekat dalam setiap representasi ketuhanan ataupun kepercayaan, karena berkarya tentang keimanan menuntut sang seniman untuk menyerah diri kepada apa yang diyakini. Di sini, keluasan keilahian terungkap secara berlipat: Tuhan dapat dipahami sebagai Yang Esa (seperti dalam Kekristenan, Katolik, Islam), sebagai Yang Jamak (seperti dalam Hinduisme, Taoisme, atau tradisi Yunani), atau terwujud dalam ilmu yang menubuhi (seperti Buddhisme, Sufisme, atau praktik-praktik Indigenous termasuk Ifá, Māori, atau kosmologi Navajo), serta dalam bentuk-bentuk lain yang melampaui bahasa kita sendiri.
Dalam beberapa dekade terakhir, pencarian ini melahirkan sebuah estetika yang berfokus pada konsepsi dan ekspresi luhur melalui — dan bersamaan dengan — mesin. Estetika ini, yang kerap disebut sebagai Divine Machinery, muncul pada tahun 1990-an seiring kelahiran internet; dimana fenomena tersebut menandai masuknya umat manusia secara formal ke dalam era digital. Para seniman mulai mempertanyakan apakah dampak teknologi kepada manusia saat ia perlahan terintegrasi ke dalam kehidupan sehari-hari, dan meretakkan pemahaman mapan tentang realitas – membentuk dan mengubah keberadaan kita. Jangkauan internet yang megah dan kekuatannya yang tak kasatmata memicu perenungan kolektif, terutama terkait dampaknya terhadap iman. Dengan inovasi yang melampaui kapasitas manusia, logika mesin mulai dipersepsikan sebagai Entitas Super — sebuah keberadaan yang mengakibatkan keimanan manusia yang semakin merapuh.
Ketegangan ini kerap diartikulasikan melalui penjajaran lambang-lambang religius dengan entitas mirip mesin, yang menyiratkan bahwa, sebagaimana agama ataupun sistem kepercayaan lainnya disamakan dengan teknologi: keduanya dianggap sebagai entitas yang tak terlihat dan saling membentuk kepercayaan manusiawi. Kekhawatiran ini termaterialisasi secara kuat dalam karya José Antonio Hernández-Díez, yang merangkai sebuah salib, mesin, dan jantung manusia – dan menggambar keterikatannya kepada masing-masing. Karya tersebut menjadi salah satu emblem utama Divine Machinery, yang berhasil menyoroti kedekatan yang kian tumbuh antara mesin dan iman, serta memicu ledakan pertanyaan kolektif mengenai keimanan di era yang disebut sebagai era digital.
Sekarang, pemisahan yang dahulu diteorikan antara dunia digital dan “realitas” telah runtuh, dan keduanya sepenuhnya terjalin dalam keberadaan kontemporer kami. Eksperimen pemikiran dan peringatan spekulatif yang dilalui para seniman generasi sebelumnya telah menjelma menjadi realitas yang kami sekarang jalani, dimana kepercayaan pada kuasa mesin membentuk sebagai sebuah artikulasi kepercayaan tersendiri. Hal ini tidak berarti bahwa teknologi telah menggantikan agama, melainkan bahwa ia telah menjadi bagian integral dari keberadaan kita — membentuk tubuh, pikiran, dan, dengan demikian, kepercayaan kita. Algoritma dan kecerdasan buatan, dengan janji kemudahan, membangun ketergantungan yang mendalam dan menawarkan cara-cara baru untuk memahami dunia. Gagasan, minat, dan identitas kita semakin dikurasi oleh sistem-sistem teknologi. Teknologi tidak sekadar memediasi iman; ia menjadi sebuah cara berpikir. Mesin tidak lagi berada di kejauhan — ia menjadi diri kita.
Seiring perubahan kondisi teknologi, makna dan ekspresi Divine Machinery pun turut berevolusi dengannya. Apa yang bermula sebagai ketertarikan terbatas di kalangan seniman kontemporer kini berkembang menjadi wacana kolektif, khususnya dalam komunitas kreatif daring. Di sini, Divine Machinery berfungsi sebagai bentuk kesaksian: tentang upaya mengimani pada mesin. Secara garis besar, ekspresi-ekspresi ini menjadi upaya untuk menyamakan iman kepada Tuhan dengan teknologi sebagai cara mendekati diri kepada Sosok yang Luas; yang mampu meliputi segalanya tanpa batas. Kita menyaksikan kemunculan ekspresi kepercayaan yang disesuaikan dengan entitas-entitas tampak yang mengelilingi kita.
Bagaimana iman mampu menjadi sesuatu yang dapat disentuh oleh tangan manusia? Perpaduan antara yang artifisial dan yang sakral menimbulkan kegelapan yang dipersepsikan, kerap dianggap sebagai penghujatan, terutama dalam seni kontemporer, desain, dan budaya meme yang memainkan ulang ikonografi Kristen dan Katolik. Namun, kerangka ini juga dapat dipahami melalui ontologi Indigenous, di mana keilahian meresap ke dalam segala sesuatu.
Teknolog Neema Githere merangkum perspektif ini secara ringkas: “Setiap mesin selalu ada ‘roh’ di dalamnya.” Di sini, ketuhanan tertanam dalam keberadaan itu sendiri, dan teknologi dipahami sebagai sesuatu yang memiliki kesadaran. Kepercayaan ini tercermin dalam peralihan estetik dari pengolahan ulang lambang-lambang religius tradisional menuju bahasa abstrak pada visual kabel, kode, mesin yang menyatu dengan tubuh dan tanah, serta struktur-struktur monumental dari kekuatan listrik dan teknologi. Singkatnya, Neema menganggap teknologi seperti tanah: sebagai hal yang patut disyukuri karena telah “memberi kehidupan.” Iterasi terkini dari Divine Machinery semakin sering hadir dalam bentuk video dan karya digital yang mendokumentasikan upaya “menemukan Tuhan” melalui jaringan relasi ini. Shibani Mitra, misalnya, telah beresonansi kuat dengan audiens luas yang menganut kepercayaan akan kesadaran-Tuhan dan relasi-Tuhan pada kesehariannya. Divine Machinery dengan demikian melampaui perannya sebagai sekadar komentar atas kualitas sakral teknologi, dan menawarkan sebuah ontologi yang diperluas, di mana teknologi dipahami sebagai sesuatu yang secara spiritual terjalin.
Pada Divine Machinery, keimanan menjadi sesuatu hal yang fluid, yang selalu berkembang seiring dengan kesadaran manusia. Sebagaimana seni selalu lakukan, ekspresi kontemporer iman pada estetika ini tidak berupaya untuk mendefinisikan iman, melainkan menjadi saksi atas transformasi dalam bahasanya. Ketika mesin semakin tak terpisahkan dari tubuh, pikiran, dan cara kita memahami dunia, kepercayaan tetap bersifat relasional — dibentuk ulang oleh struktur-struktur yang mengatur keberadaan kita. Dalam menelusuri pertautan ini, seni menjadi sekaligus arsip dan ruang spekulatif: merawat cara-cara kita memahami yang sakral, sembari mempertanyakan di mana kini keilahian bersemayam ketika yang spiritual, yang manusiawi, dan yang teknologis tak lagi terpisah.