Dialog soal Identitas Perempuan dalam Pameran NONALOG di BAIK ART Jakarta

Dalam dunia seni dan desain, gagasan perempuan merepresentasikan berbagai lapisan identitas dan pengalaman hidup. Hal inilah yang menjadi sorotan utama dalam pameran NONALOG, yang diselenggarakan oleh BAIK ART Jakarta dari 12 September hingga 19 Oktober 2024. Pameran ini menampilkan karya dari sembilan seniman perempuan Indonesia yang menggali makna “perempuan” dalam berbagai konteks melalui berbagai medium seni.

Kata “Nona” sendiri memang akrab di telinga masyarakat Indonesia sebagai panggilan untuk seorang perempuan muda. Namun, di negara lain, kata ini memiliki arti yang berbeda-beda. Di Korea, “누나” atau “Nuna” adalah panggilan dari laki-laki yang lebih muda kepada kakak perempuan atau teman perempuan yang lebih tua. Di Yunani dan Italia, “Nonna” justru merujuk pada nenek. Sedangkan dalam bahasa Latin, “Nona” bermakna angka sembilan—mencerminkan tema pameran ini sebagai pameran kesembilan di bulan kesembilan. Melalui permainan makna ini, BAIK ART Jakarta menampilkan sembilan seniman perempuan dengan karya-karya yang menggali dan mengungkap cerita-cerita yang terpendam, baik tentang diri maupun sejarah.

ZOOM-1

Sebagai galeri seni kontemporer yang berakar di Los Angeles, Seoul, dan Jakarta, BAIK ART berupaya menjembatani pertukaran artistik antara berbagai budaya. Didirikan pada 2014 di Los Angeles, galeri ini fokus pada karya-karya yang mengeksplorasi hibriditas individu, globalisasi, dan diaspora budaya. Ekspansi ke Seoul pada 2016 membuka ruang untuk pertukaran seni yang lebih aktif, yang terus berlanjut hingga pembukaan lokasi ketiga di Jakarta pada 2022. BAIK ART memiliki komitmen yang kuat dalam program residensi yang terjalin dengan institusi seni Indonesia, memperkaya dialog antara seniman lokal dan kancah seni global. Dalam NONALOG, sembilan seniman perempuan dari latar belakang budaya yang berbeda-beda yang terlibat mempresentasikan karya-karya yang mencerminkan dialog personal mereka dengan isu-isu yang dekat dengan identitas perempuan. Seniman visual yang terlibat antara lain Ayurika, Candrani Yulis, Cecil Mariani, Dian Suci, Dzikra A.N., Henryette Louise, Maharani Mancanagara, Restu Ratnaningtyas, dan Windi Apriani.

Henryette Louise, misalnya, mengangkat seni cetak pada gipsum sebagai medium utama dalam karya-karyanya. Selama tiga tahun terakhir, Henryette mengeksplorasi bagaimana gipsum dapat bertransformasi, mencerminkan budaya yang terus berkembang. Penggunaan material ini menjadi refleksi dari perubahan budaya yang tidak henti-hentinya, seolah-olah karya seni itu sendiri selalu berkembang seiring waktu. Sementara itu, Cecil Mariani menampilkan karya berjudul “Seduhan Kala,” yang memadukan seni cetak dengan elemen set teh. Dalam karya ini, Cecil menyusun tiga cetakan dan lima teko teh yang menggambarkan realitas tersembunyi di balik ritual sehari-hari. “Pada dasarnya, ini tentang teh,” ucap Cecil. “Namun, ada banyak kenyataan yang telah diracik.” Elemen teh yang terkesan sederhana ini membuka wacana mengenai bagaimana realitas dan makna tersirat dapat diseduh dan dicerna dalam kehidupan. Dzikra A.N., di sisi lain, memilih untuk berinteraksi secara intuitif dengan material yang ia gunakan. Dalam proses kreatifnya, Dzikra merasa bahwa material yang ia gunakan seolah-olah memiliki kendali tersendiri, seakan-akan material tersebut yang menentukan kapan ia harus berhenti atau melanjutkan. Ini menciptakan relasi yang unik antara seniman dan material, di mana proses kreatif tidak lagi bersifat unilateral tetapi menjadi dialog yang terbuka.


Selain itu, Maharani Mancanagara menyajikan karya yang terinspirasi dari budaya Minangkabau, khususnya konsep migrasi yang mencerminkan adaptabilitas, ketangguhan, dan pencarian peluang baru. Karyanya mengeksplorasi bagaimana proses migrasi membentuk identitas Minangkabau, yang memiliki pengaruh mendalam pada perspektif perempuan. Restu Ratnaningtyas, dalam karyanya, mengangkat isu sosial yang diambil dari peristiwa nyata masa lalu dan masa kini. Ia menyentuh perubahan dalam perilaku individu serta dinamika sosial yang terjadi seiring berjalannya waktu. Sedangkan, Candrani Yulis melalui karyanya, “Blinded by the Light of Faith”, menyoroti isu kesetaraan gender dalam konteks interpretasi fiqh yang membabi buta, sebuah isu yang relevan bagi perempuan Muslim. Pameran ini menggali banyak cerita dan identitas yang beragam, menggambarkan kekayaan perspektif yang dimiliki perempuan. Setiap karya yang dipamerkan tidak hanya menampilkan refleksi dari pengalaman personal, tetapi juga menawarkan ruang bagi audiens untuk merenungkan hubungan antara seni dan realitas sosial.

NONALOG adalah sebuah ajakan untuk berdialog mengenai bagaimana perempuan memandang dan menginterpretasikan diri mereka dalam konteks budaya dan sejarah. Karya-karya yang dipamerkan tidak hanya menyampaikan cerita dari masa kini, tetapi juga menguak kenangan dan sejarah yang tersembunyi. Seniman-seniman dalam pameran ini menunjukkan bagaimana seni dapat menjadi medium yang kuat untuk menelusuri dan mengungkapkan makna yang lebih dalam. Melalui NONALOG, BAIK ART tidak hanya mempersembahkan karya seni, tetapi juga menghadirkan ruang bagi seniman perempuan untuk bereksperimen, berbagi cerita, dan menciptakan narasi baru yang menantang tradisi. Pameran ini terbuka untuk umum hingga 19 Oktober 2024 di BAIK ART Jakarta, memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk menikmati dan merenungkan karya-karya yang penuh makna ini.

Slide-1
Slide-2
Slide-3
Slide-4
Slide-5
Slide-6
Slide-7
About the Author

Alessandra Langit

Alessandra Langit is a writer with diverse media experience. She loves exploring the quirks of girlhood through her visual art and reposting Kafka’s diary entries at night.