Dialogue Arsip: Perihal Arsip dan Kisah Perburuannya
Sabtu, 11 April lalu, di tengah gerimis Kemang yang tak kunjung mengering, tim Grafis Masa Kini duduk di antara audiens perbincangan soal arsip. Acara bertajuk Perihal Arsip dan Kisah Perburuannya ini digelar oleh Dia.Lo.Gue bersama Dibawa Arsip Aja dengan format yang memang sengaja dibuat santai. Talk show interaktif ini berlangsung dari pukul 14.30 hingga 17.00 WIB.
Tiga pembicara hadir dengan latar belakang yang berbeda jauh: Christine Toelle, praktisi arsip yang bekerja di ranah arsip personal, etnografis, dan riset; Sir Dandy, seniman visual sekaligus frontman Teenage Death Star; dan Bambang H., kolektor komik Indonesia klasik yang sudah mengumpulkan koleksinya sejak tahun 1990-an. Benang merah yang menghubungkan ketiganya adalah arsip visual dan bagaimana keduanya membentuk cara mereka bekerja.
Bambang membuka ceritanya dari masa kecil. Ia mulai membaca komik sejak SD, terpengaruh dari ayahnya yang juga penggemar komik. Dari sana ia masuk ke komik-komik Kho Ping Hoo, lalu melebar ke komik silat lainnya, termasuk karya Jan Mintaraga yang kemudian jadi spesialisasinya. Ia membangun koleksinya perlahan, dan hari itu ia membawa beberapa koleksi terbaiknya langsung ke acara.
Tidak seperti di zaman ketika akses internet sudah marak, Bambang mengilas-balik pengalaman fisiknya mencari arsip-arsip komik di tahun 90-an, yang menurutnya menantang. "Tahun 90-an penjualan komik-komik silat sudah menurun. Pernah saya dapat komik-komik RA Kosasih, Gan Kok Hwie dan Gan Kok Liang dari toko buku yang hampir tutup," cerita Bambang. Ia bahkan pernah langsung datang ke CV Gema, penerbit komik Kho Ping Hoo, dan pulang dengan diskon 15%. Tapi kemudian hari, ia menemukan agen distributor yang justru memberi diskon 25%.
Christine masuk dari sudut yang berbeda. Ia tidak memulai dari komik, tapi dari perangko, surat, peta, dan buku-buku KNIL yang ia kumpulkan tanpa tahu persis apa yang sedang ia lakukan. "Dulu saya mengira ini termasuk kebiasaan hoarding. Setelah masuk seni rupa dan antropologi, saya baru menyadari arsip bisa berbasis rumah tangga," katanya. Baginya arsip dan akses adalah dua hal yang menjaga sejarah dari lubang kematiannya.
Ia juga membawa perspektif yang lebih luas tentang apa yang dikategorikan sebagai arsip. “Arsip dikenal dengan budaya materialnya. Tapi bagaimana dengan arsip tak benda dan tak tertulis?,” ujarnya. Teks tidak selalu berupa kata-kata, simbol dan gambar adalah bentuk teks juga, begitu pula tradisi oral. Semuanya bisa jadi "plat" yang mencetak arsip-arsip baru.
Sir Dandy bicara soal arsip dari posisi seorang desainer grafis yang butuh referensi visual terus-menerus. Ia menggunakan arsip komik Eropa sebagai sumber inspirasinya, tapi belakangan ia tertarik pada sesuatu yang tidak biasa: karya-karya yang dianggap jelek. Teenage Death Star bahkan pernah mengadakan lomba poster jelek.
"Karya yang bagus tentu akan menarik atensi, tapi bagi saya semua karya perlu atensi. Termasuk karya jelek. Karena dari karya jelek itu kita bisa mempertanyakan kembali, 'kenapa ini jelek?', jangan-jangan itu relatif," katanya. Koleksi karya-karya itu rencananya akan ia jadikan zine atau pameran ke depannya.
Satu pertanyaan yang dilempar dalam sesi ini terasa paling membekas: apakah kita yang menemukan arsip, atau arsip yang menemukan kita?
Sir Dandy menjawabnya dengan cara yang praktis. Ada proses mencari yang aktif dan spesifik, sesuai kebutuhan warna, material, gaya. Tapi dalam proses itulah arsip muncul sendiri. Christine menyebutnya situated knowledge, pengetahuan yang muncul karena kamu berada di posisi tertentu, sebagai seniman, pembaca, atau kolektor, yang membuat sebuah arsip tiba-tiba relevan bagimu.
Percakapan sore itu tidak menawarkan kesimpulan besar. Tapi mungkin memang itu yang dimaksud dengan "perihal arsip dan kisah perburuannya," bahwa pengarsipan itu personal, berliku, dan kadang ditemukan di tempat yang tidak terduga.