Ketika Mesin Menjadi Cermin: AI dan Kreativitas 

Dua minggu lalu, Google mengumumkan peluncuran Nano Banana Pro, yang diklaim sebagai “langkah besar dalam penyuntingan gambar yang memberdayakan kreator kasual untuk mengekspresikan kreativitas mereka.” Pembaruan ini memicu perbincangan publik karena kemampuannya menghasilkan gambar hiper-realistis yang jauh melampaui generator AI (gambar) sebelumnya. Sebagian orang menganggap teknologi ini menggelisahkan, dan menilai bahwa “inilah” penanda masuknya kita ke sebuah era dominasi AI; sementara yang lain memuji Nano Banana Pro sebagai alat yang kuat bagi pekerjaan kreatif.

Sentimen ini mungkin paling jelas terlihat di negara-negara dengan komunitas kreatif digital yang kuat, dan Indonesia adalah salah satu contohnya. Indonesia termasuk negara dengan tingkat adopsi AI tertinggi, tercermin dari penggunaannya yang meluas di industri kreatif. Menurut Communication Manager Google Indonesia, Feliciana Wienathan,pengguna Indonesia telah menghasilkan sekitar 18 juta gambar menggunakan Nano Banana. Angka ini menandai meningkatnya penerimaan, bahkan potensi normalisasi, Nano Banana Pro di kalangan kreatif Indonesia, tanpa diiringi kesadaran yang memadai terhadap bahaya dan risiko yang menyertainya.


Perbincangan mengenai penggunaan AI yang “etis” pun kerap diwarnai ambivalensi, dengan sejumlah perusahaan dan figur kreatif memperlakukannya seolah-olah sesuatu yang wajib. Dalam banyak kasus, penggunaan AI dianggap “tidak bermasalah”, sebuah sikap yang menutupi dampak-dampak tak kasatmata dari pengembangan dan penerapannya. Berbagai studi telah menunjukkan skala dampaknya: penelitian MIT menemukan bahwa generator AI mengonsumsi energi dan air dalam jumlah besar, dan studi dari NEA melaporkan bahwa melatih satu model AI dapat menghasilkan lima kali emisi karbon sepanjang hidup sebuah mobil rata-rata. Meski bahaya penggunaan AI sangat nyata, tetap saja sulit menyadari kekerasan struktural yang dikandungnya. Dampak lingkungan sering kali terasa tidak berwujud, dan keputusan untuk membatasi penggunaan AI menuntut keberanian untuk menghadapi disonansi antara kebiasaan individu dan kerusakan planet: bagaimana mungkin kita menghubungkan tindakan sederhana menghasilkan sebuah gambar atau teks dengan kehancuran bumi? Mungkin, dengan memandang praktik generatif AI melalui lensa kerja kreatif, kita bisa mulai mematerialkan sebuah pemahaman (atau setidaknya sebuah pertanyaan) mengenai bahaya yang kita turut hasilkan, dan menumbuhkan kesadaran yang lebih mendalam dalam rutinitas kreatif kita.


Sebagai para kreator, kita dapat mulai menyadari bahwa normalisasi AI berakar pada keyakinan bahwa ia merupakan “solusi serba ada”. “Kecerdasan”-nya dilihat sebagai aset, mengisi kekosongan ketika kreator — baik secara individu maupun kolektif — mengalami “kekurangan” (baik itu biaya, keterampilan, maupun waktu). Kekurangan ini dapat muncul sebagai rasa tidak percaya diri yang sembrono, atau sebagai kekurangan tenaga dalam konteks kerja tim; namun yang penting, perasaan “kekurangan” ini bersifat sistemik, lahir dari kondisi kerja industri kreatif itu sendiri. Kreativitas perlahan direduksi menjadi proses produksi konten tanpa henti (misalnya dalam upaya memperluas portofolio, atau dalam sekadar bertahan di ruang digital media sosial), dan menuntut tenaga kreatif untuk menjadi efisien dalam cara yang justru menyalahi sifat reflektif yang manusiawi dalam proses berkarya. Jeda, refleksi, dan revisi adalah langkah-langkah manusiawi yang esensial untuk menghasilkan karya yang bermakna namun kini sering dipangkas, bahkan dihapuskan, atas nama optimalisasi. Maka, perbincangan tentang etika tak lagi hanya soal kemampuan kreator; ia harus menjadi upaya untuk mengurai beban struktural yang kita, sebagai para kreatif, warisi dan jalani.

Dampaknya tidak hanya merembes ke proses penciptaan, tetapi juga terus membentuk cara kita mengonsumsi, atau lebih tepatnya, kemampuan kita menjadi seorang audiens. Ekonomi AI tidak hanya beroperasi pada generator AI, tetapi juga tertanam dalam algoritma. Paparan tanpa henti terhadap konten terkurasi menjadikan konsumsi kita sebuah rutinitas yang semata-mata menjawab preferensi dan opini kita sendiri. Kita secara naluriah menginginkan karya kreatif yang menyesuaikan diri dengan pandangan kita hingga mengikis kemampuan kita untuk bersabar terhadap perbedaan atau ketidaksempurnaan. Ekspektasi kita terhadap konten menjadi rapuh; kita menuntut kesempurnaan dalam penyajian: apakah ia memenuhi tuntutan estetika kita, atau apakah ia selaras dengan keyakinan pribadi (politik, agama, dan lainnya). Nuansa perlahan lenyap dari relasi konsumsi-kreasi; audiens gagal melihat konteks yang melingkupi karya atau konten di hadapan mereka. Dalam interaksi ini, kita berubah menjadi penonton yang egois, mempersenjatai tatapan kita sebagai penentu mutlak nilai sebuah karya. Secara alami, hubungan ini menimbulkan tekanan bagi sang kreator, yang dipaksa memenuhi standar kesempurnaan publik — standar fiktif — tanpa diberi ruang untuk membuat kesalahan (secara publik). Maka mereka pun kembali kepada AI untuk memastikan karya mereka cukup “benar” atau cukup dapat dicerna. Ada dinamika bahaya yang sangat jelas dalam siklus konsumsi-kreasi ini, meninggalkan audiens dan kreator sama-sama tidak terpenuhi. Mungkin kondisi-kondisi inilah yang menggerakkan ekonomi AI, dan komodifikasi efisiensinya perlahan menghapus kapasitas internal kita untuk menerima dan menghargai usaha, kegagalan, dan kerja manusia.

Dengan peluncuran Nano Banana Pro, sejumlah teknolog memperingatkan bahwa kita memasuki era ketika AI mulai meniru bahkan melampaui fidelitas kamera kita sendiri. “Kemajuan” berikutnya dapat memicu preferensi instan terhadap output kreatif yang lebih efisien bagi pembuatnya, dan lebih “sempurna” bagi konsumennya. Maka kita pun kembali ke pertanyaan: bagaimana kita melangkah dari sini?

Pertanyaan ini semakin mendesak seiring evolusi AI yang begitu cepat, yang semakin mengaburkan batas antara ketangkasan manusia dan ketepatan mesin. Kini, kita berhadapan dengan kenyataan ini, digabungkan dengan ekspansi terus-menerus generator AI. Mungkin, satu-satunya respons yang paling dekat dengan jangkauan kita adalah dengan memeluk sebuah praktik yang lebih hening, lebih lambat, lebih sengaja: memberi perhatian. Mengakui dan menghormati jeda, kesalahan, dan keraguan — hal-hal kecil yang membuat kerja kreatif menjadi manusiawi. Mungkin dengan memberi diri kita, dan satu sama lain, kelonggaran untuk menghasilkan karya yang tidak sempurna, kita dapat melepaskan diri dari cengkeraman optimalisasi dan merebut kembali kemungkinan-kemungkinan kreatif yang hanya muncul melalui upaya, kegagalan, dan kerja. Dalam penolakan kecil itu dan dalam perhatian yang diperbarui, kita mungkin menemukan jalan untuk bergerak maju, dan mengatasi cara-cara halus di mana AI telah membentuk dan mengubah tatapan kita.


web-19
web-20
web-21
web-22
web-23
web-24
web-25
web-26
web-27
About the Author

Sabrina Citra

Sabrina Citra is a researcher who is based in Jakarta. She is currently interested in the intersection of aesthetics, cultural studies and language/linguistics.