Thinking*Room Luncurkan TRADEMARKS: Dua Dekade Logo dalam Satu Arsip

Dalam perayaan dua dekade perjalanan kreatifnya, studio desain Thinking*Room merilis sebuah buku komprehensif berjudul TRADEMARKS: sebuah arsip yang merangkum jejak panjang studio desain ini dalam merancang identitas visual. Diluncurkan pada 19 November 2025, buku ini menjadi penanda penting bagi Thinking*Room yang sejak awal berdirinya konsisten berkontribusi pada perkembangan desain grafis Indonesia.

TRADEMARKS menghadirkan lebih dari 350 logo yang pernah dikerjakan Thinking*Room selama 20 tahun terakhir, tersusun dalam 428 halaman yang menampilkan ragam logomark, logotype, hingga dynamic logos. Karya-karya tersebut mencakup berbagai sektor, mulai dari kuliner dan hospitality hingga seni, budaya, serta industri kreatif lainnya. Hal ini memperlihatkan sejauh mana desain logo memengaruhi cara sebuah brand membangun identitasnya di mata publik.

Tak hanya menyajikan kompilasi visual, buku ini juga memperkaya pembacanya lewat rangkaian esai dari para pemimpin Thinking*Room. Eric Widjaja selaku pendiri dan Design Principal, bersama para Partner & Art Director; Ritter Willy Putra, Ira Carella, dan Bram Patria Yoshugi, mengulas kembali praktik desain logo yang mereka jalani, refleksi atas perjalanan profesional, serta gagasan-gagasan yang terbentuk dari kerja kolektif selama dua dekade. Perspektif ini menjadikan TRADEMARKS dokumentasi penting mengenai evolusi desain studio Thinking*Room dan dinamika tren desain yang bergerak seiring waktu.

Diterbitkan dengan dukungan Harapan Prima, Paperina, dan Tokotype, buku berukuran 10 × 10 sentimeter ini hadir sebagai salah satu highlight di pameran Grafis’25 di ADGI Design Week 2025 lalu. Melalui TRADEMARKS, Thinking*Room membuka kesempatan bagi publik untuk menelusuri bagaimana sebuah studio desain membangun bahasa visual yang berdampak dan bertahan lintas generasi.

web-11
web-12
web-13
web-14
web-15
About the Author

Alessandra Langit

Alessandra Langit is a writer with diverse media experience. She loves exploring the quirks of girlhood through her visual art and reposting Kafka’s diary entries at night.