Musik dan Visual Subkultur Bertemu di Pameran Cultural Clashing
Canvas Confluence Collective (CCC), sebuah organisasi yang bertujuan untuk mendukung dan mendorong kolaborasi dalam dunia seni, berkomitmen untuk memprioritaskan kebutuhan para seniman dengan menyediakan berbagai sumber daya seperti beasiswa, residensi, kesempatan pameran, dan program mentorship. Lebih dari itu, CCC menyediakan lingkungan suportif di mana para seniman dapat mengeksplorasi kreativitas mereka, mengembangkan keterampilan, dan terhubung dengan praktisi lainnya. Hal ini dibuktikan dengan hadirnya pameran Cultural Clashing yang memberikan penghormatan kepada interaksi antara musik, seni, dan budaya—mengeksplorasi bagaimana masing-masing saling mempengaruhi dan membentuk yang lainnya.
Pameran Cultural Clashing diselenggarakan di Melting Pot ASHTA District 8 sebagai bagian dari program Limitless ASHTA yang secara konsisten menjadi wadah dan mendukung para seniman untuk menampilkan karya-karya terbaik serta bertujuan untuk menginspirasi banyak orang. Pameran ini juga mengkaji hubungan timbal balik antara praktik seni dan subkultur yang muncul di sekitarnya melalui karya-karya seniman visual, musisi, dan ilustrator. Para seniman yang ditampilkan terhubung dengan konsep ini, baik secara langsung maupun tidak langsung. Sebagian adalah musisi, sebagian dikenal melalui kolaborasi artistik mereka dengan musisi, dan sebagian lagi merupakan bagian dari komunitas atau subkultur yang dibentuk oleh musik. Dengan mengkaji pertemuan-pertemuan ini, Cultural Clashing menyoroti seni visual dan menggali bagaimana musik telah membentuk narasi budaya serta mendefinisikan bahasa visual musik independen dalam lanskap urban Indonesia dari tahun 2000 hingga sekarang.
Pameran ini menampilkan sosok-sosok seperti Sir Dandy dari Teenage Death Star; Dendy Darman, salah satu pendiri UNKL347 dan Dendy Darman Studio; Lucky Widiantara, juga salah satu pendiri UNKL347 dan Lucas and Sons; Helvi Syarifuddin, salah satu pendiri label independen FFWD, yang juga salah satu anggota Teenage Death Star; Oomleo dari Goodnight Electric yang sibuk dengan programnya Oom Leo Berkaraoke; ada juga ilustrator Sanchia Hamidjaja, yang seri komiknya Problema Nona mengkaji pengalaman perempuan dalam konteks Indonesia kontemporer; dan Ykha Amelz, yang dikenal dengan karya-karya seni yang menceritakan kesehariannya. Anggarez Aditya dari Lawless menawarkan desain yang terinspirasi dari tato, dipengaruhi oleh budaya skate dan heavy metal; sementara Vincent Rompies, anggota Goodnight Electric yang dikenal sebagai publik figur, host, dan pendiri VINDES, juga terlibat. Selain daftar tersebut, ada Henry Foundation, pendiri Goodnight Electric dan juga seniman serta musisi; Arswandaru, musisi dan seniman visual yang juga bagian dari band funk Ali; John Navid dan Saleh Husein dari White Shoes and The Couples Company (WSATCC); Fluxcup, seorang seniman media baru yang menampilkan dan mendistribusikan banyak karyanya di dunia maya; Namoy Budaya, seorang produser musik reggae dan pencipta visual; dan Abenk Alter, seorang seniman visual dan anggota band Soulvibe.
Bersama-sama, para seniman yang terlibat menangkap dengan baik keterhubungan antara musik, seni, dan subkultur, merayakan evolusi kreatif Indonesia melalui narasi kolaborasi, otentisitas, dan lokalisasi. Cultural Clashing merayakan warisan sonik dan visual dari subkultur yang menimbulkan refleksi terhadap evolusi berkelanjutan dari lanskap kreatif perkotaan, dengan menekankan peran penting seni dan musik dalam membentuk memori kolektif dan budaya kontemporer. Cultural Clashing dibuka pada Jumat, 17 Januari 2025 dengan sebuah pameran yang berlanjut menjadi program berdurasi sebulan yang mencakup berbagai aktivasi seperti lokakarya yang terbuka untuk umum antara lain screenprint bersama Makmur Djaya, tufting bersama RAG Home, upcycle bersama Setali, serta pertunjukan musik dari Aksara Records dan DJ set oleh Namoy Budaya, Hendra dari Rock and Roll Mafia, dan Norrm Radio.