Catatan dari Fair Exchange dengan Melbourne Art Book Fair dan Press Print Party
Ketika pertama kali mendengar kabar tentang pembukaan sebuah art book fair di Jakarta, saya ingat pernah berpikir: Akhirnya, sudah waktunya gelombang pameran buku ini sampai ke sini! Hingga saat itu, saya hanya melihat art book fair melalui Instagram, ikut larut dalam pesona kolektif seputar penyelenggaraannya di Los Angeles, London, Paris, Tokyo, dan Seoul. Sangat menyegarkan akhirnya melihat sebuah acara yang berfokus pada pembangunan komunitas dan menentang kepentingan industri yang biasanya mendominasi kegiatan kreatif. Pada saat itu (dan sebagai audiens biasa), saya percaya bahwa ada sebuah romantika dalam upayanya menyelamatkan karya cetak sebagai bentuk atau medium yang “hilang” di tengah cara konsumsi dan produksi yang semakin digital. Mungkin misi yang sangat manusiawi inilah yang membuat art book fair begitu berharga, karena operasionalnya berpusat pada semangat perlawanan untuk komunitas.
Dua tahun kemudian, saya duduk sebagai moderator dalam sebuah panel berjudul “Fair Exchange: A Conversation between Press Print Party and Melbourne Art Book Fair,” bersama Acung dan Sen, yang merupakan penyelenggara Press Print Party dan Melbourne Art Book Fair. Kini, art book fair telah menjadi fenomena global, dan keduanya memiliki peran penting dalam membentuk format tersebut di konteks lokal. Gagasan yang muncul bukan sekadar sebuah marketplace, tetapi ruang komunitas–tempat para pembuat karya cetak dan penerbit dapat bertemu, terhubung, dan berkarya bersama. Percakapan kami berpusat pada kerja yang dibutuhkan untuk membangun dan mempertahankan acara seperti ini, dan kedua penyelenggara menekankan harapan mereka agar acara ini menjadi lebih dari sekadar ruang transaksi, dan terus berkembang sebagai platform untuk saling mendukung.
Pembangunan komunitas ini berlangsung secara bertahap (dan, secara ekstensi, berulang), mulai dari fokus awal dalam memberdayakan talenta lokal hingga memungkinkan pertukaran lintas batas antara penerbit Indonesia dan mancanegara. Hal pertama yang menjadi perhatian utama bagi Press Print Party adalah memahami apa artinya menjadi “lokal”. “Kami tidak ingin Press Print Party terlalu Jakarta-sentris,” ujar Acung. Komite menekankan pentingnya memastikan bahwa pameran ini seberagam mungkin, dan melakukan upaya kolektif untuk memfasilitasi penerbit dari berbagai wilayah di Indonesia. “Kami menyadari kesulitan ini, dan dengan bantuan Daud Sihombing, kami mencoba menjembatani ketegangan antara lokal, regional, dan internasional untuk memastikan bahwa para peserta tetap beragam.”
Sen ikut menyuarakan sentimen Acung mengenai kesulitan terkait placehood dan menjelaskan bahwa masalah ini muncul berbeda dalam konteks Melbourne Art Book Fair. Dalam lanskap kreatif Melbourne, gagasan tersebut sudah menjadi akar yang kuat, tetapi mereka membutuhkan upaya berkelanjutan untuk menyediakan ruang bagi penerbit asli adat dan penerbit kulit berwarna. Sentimen art book fair ini terasa berbeda bagi kelompok minoritas karena sebuah acara dapat berfungsi sebagai “ruang aman” di mana suara mereka mampu tumbuh sebagai oposisi terhadap dominasi wacana penerbitan arus utama yang sangat dikuasai oleh kulit putih. Sen juga mengungkapkan keinginannya untuk memperkenalkan audiens Australia yang lebih luas kepada ekosistem kreatif di luar wilayah tersebut, terutama Indonesia. “Kami pernah mengundang Krack! Studio dari Yogyakarta membuka lapak di salah satu edisi sebelumnya, dan mereka diterima dengan sangat baik oleh audiens lokal,” kenang Sen, yang menyatakan bahwa ia merasa bertanggung jawab untuk mendesentralisasi ‘kanon’ lokal melalui art book fair. “Saya berharap kami dapat melakukan lebih banyak inisiatif lintas batas seperti ini, dan mungkin bahkan berkolaborasi dengan Press Print Party,” ia menambahkan, memberikan isyarat tentang rencana ke depan.
Percakapan berlangsung hangat, dengan candaan bersahabat antara Acung dan Sen. Keduanya mengungkapkan kekaguman terhadap art book fair masing-masing, sesekali merujuk pada hal-hal yang mereka temukan menginspirasi. Namun pembicaraan mencapai titik persimpangan ketika topik dukungan muncul, karena kedua pameran berada dalam posisi dan mendapatkan dukungan yang berbeda: Press Print Party merupakan inisiatif yang didukung secara independen, sementara Melbourne Art Book Fair menerima pendanaan negara melalui National Gallery Victoria. “Tentu saja ada sisi baik dan buruk dari hal ini. Bagian tersulit adalah betapa bergantungnya kami pada galeri, dan kami perlu meyakinkan mereka untuk menerima ide-ide kami. Kami juga harus bertoleransi dengan anggaran yang semakin berkurang setiap tahun, tetapi kami bertahan dengan apa yang kami punya,” renung Sen. Hal ini memengaruhi keberagaman dan skala program Melbourne Art Book Fair, yang bergantung pada besar kecilnya pendanaan yang tersedia. Acung mengenang tahun ia menghadiri pameran tersebut, dan ingat bagaimana adanya program untuk anak-anak, di mana sebuah ruang kecil seperti daycare memungkinkan para orang tua tetap menjelajah stan sementara anak-anak mereka bermain. Sen menambahkan bahwa inklusivitas selalu menjadi pusat dalam membentuk acara tersebut – yang sangat memengaruhi program mereka, dan pada suatu edisi mereka bahkan berhasil menjalankan acara satelit di berbagai wilayah Australia, memungkinkan audiens yang lebih luas ikut merasakan pengalaman art book fair. Namun, format tersebut akhirnya dihentikan karena keterbatasan anggaran.
Sebaliknya, Acung menjelaskan bahwa Press Print Party tidak pernah menerima dukungan negara dan sangat bergantung pada sponsor dan komitmen personal. Pameran ini dibangun melalui Yayasan Pustaka Seni Indonesia yang baru berdiri, sebuah yayasan dengan ketua yang berganti secara berkala. “Tahun ini, saya bertanggung jawab dalam mencari sponsor, dan saya bersyukur diberi kesempatan untuk menentukan dengan siapa kami bekerja. Penting bagi kami bahwa mitra kami selaras dengan misi dan niat kami,” ujar Acung. Selain mempertahankan keberlangsungan acara, komite juga ingin mendukung penerbit muda melalui pemberian hibah, yang telah diwujudkan dalam edisi tahun ini. “Penting bagi kami membangun badan institusional ini untuk menciptakan jaringan dukungan bagi penerbit baru agar mereka memiliki kesempatan untuk bertumbuh.” Dukungan komunitas memerlukan strategi, dan kedua penyelenggara mengakui pentingnya badan formal dalam membangun ekosistem dukungan yang berkelanjutan, baik bagi diri mereka sendiri maupun komunitas yang mereka layani.
Ketika mempertimbangkan komunitas yang telah mereka rawat, perjalanan Press Print Party dan Melbourne Art Book Fair tetap menunjukkan masa depan yang cerah. Mungkin pada edisi-edisi mendatang, tantangan utama adalah standar mereka sendiri, saat mereka terus bergulat dengan pertanyaan tentang lokalitas dan inklusivitas dalam upaya mewujudkan platform yang benar-benar berpihak pada komunitas. Baik Sen maupun Acung mencatat bahwa proses penyelenggaraan melibatkan komite dan kolaborator terpilih, yang berarti bahwa pekerjaan penciptaan dan kuratorial tetap berada di tangan mereka. Dalam kerja yang berkelanjutan dan penuh kesengajaan inilah semangat art book fair hidup, bukan hanya melalui acara itu sendiri tetapi juga melalui hubungan dan infrastruktur yang menopangnya. Upaya mereka mengingatkan kita bahwa art book fair bukan sekadar sebuah format budaya, tetapi juga cara berpikir tentang bagaimana komunitas kreatif membangun sistem dukungan bersama di tengah kondisi yang semakin rentan.
Dari sini, gambarannya dapat diperluas. Nilai-nilai yang diwujudkan oleh kedua pameran ini mendorong serangkaian pertanyaan yang lebih besar tentang masa depan karya cetak itu sendiri: apa yang akan terjadi, dan ke mana kita menuju? Di dalam medium ini terdapat banyak kemungkinan, dan mungkin fakta bahwa kita masih dapat mengajukan pertanyaan ini adalah bentuk perenungan yang tepat. Hal ini terasa semakin relevan ketika kita memasuki lanskap politik yang kian tidak stabil, di mana dinamika komunikasi, visibilitas, dan kontrol semakin diawasi. Ketika rasa cemas tentang masa depan mulai tumbuh, saya hanya bisa kembali pada mimpi-mimpi naif saya bahwa karya cetak dapat tetap menjadi alternatif sejati yang memungkinkan kebebasan berekspresi. Mungkin dalam karya cetak terdapat kemungkinan untuk membayangkan kebebasan, sesuatu yang melampaui jangkauan surveilans. Mungkin karya cetak dapat memberi keberanian untuk kritik dan imajinasi di luar batas-batas kenegaraan–dan mungkin karya cetak dapat memegang obor solidaritas, sebuah pengingat bahwa ide-ide yang dibagikan melalui tinta dapat bertahan melampaui sistem yang berusaha mengekangnya.