Menemukan Daya dari Gambar dan Sablon bersama Syaiful Ardianto

Syaiful Ardianto telah lama dikenal sebagai salah satu seniman grafis yang secara konsisten menggunakan teknik cetak manual, salah satunya sablon. Screen print artzine dan pameran tunggalnya yang bertajuk Sumber Daya Gambar di Sunset Limited menjadi perwujudan eksplorasi mendalam atas praktik ini—mengundang audiens untuk menyelami perjalanan swakarya grafis dan teknik cetak yang otentik. Kepada Grafis Masa Kini, Syaiful berbagi mengenai praktiknya dalam menemukan daya dari gambar dan teknik sablon.

Syaiful telah menekuni praktik sablon dari tahun 2004, saat ia mencoba praktik teknik cetak grafis tersebut bersama teman-temannya di rumah. Saat duduk di bangku kuliah, Syaiful yang mengambil program studi seni grafis pun belajar lebih dalam soal teknik cetak dengan berbagai eksplorasi, salah satunya screen printing. “Kalau teknik screen printing sendiri saya suka karena punya banyak kejutan, kadang tinta mampet, tinta geser, enggak terkena tinta di bagian yang kita inginkan. Itu semua bagian dari kejutan-kejutan yang menarik,” ungkap Syaiful. Screen print atau di Indonesia lebih dikenal dengan kata “sablon” merupakan salah satu teknik cetak yang telah lama menjadi bagian dari seni grafis. “Screen printing itu seperti sablon manual yang pakai kain screen. Prosesnya mulai dari foto kimia, lalu transfer gambar melalui pencahayaan,” kata Syaiful, menjelaskan fondasi dari praktik ini. Teknik ini, yang berbeda dari cetak digital, memberikan ruang bagi ketidaksempurnaan yang memiliki nilai artistik.

Selain mewariskan dan merawat teknik cetak manual tersebut, screen print artzine yang diciptakan oleh Syaiful memiliki peran sebagai media alternatif yang memungkinkan sang seniman grafis untuk menyebarkan ide secara mandiri, di luar kendali media arus utama. "Zine itu kan sifatnya memang seperti melawan media mainstream, di mana kita bisa bikin media kita sendiri dengan isu-isu yang dekat dengan kita, tapi tidak terdengar atau tidak sampai ke isu-isu besar," ujarnya. 

Volume  kedua dari screen print artzine Syaiful bertajuk Satu Setel, dan diluncurkan bersamaan dengan pameran tunggalnya. Pada edisi ini, narasi yang Syaiful bawa menekankan pada pentingnya produksi media mandiri. "Kita bisa bikin buku sendiri, dijilid manual, binding sendiri. Sebenarnya sekarang kita bisa melakukan itu semua karena material pendukungnya sudah banyak," katanya. Dalam konteks ini, Satu Setel tidak hanya berfungsi sebagai karya visual, tetapi juga sebagai alat untuk memperkuat gagasan-gagasan personal dan komunitas. Dalam konteks kekaryaan, Syaiful menggabungkan gambar-gambar hasil eksplorasi screen printing dan menyatukannya dalam format zine. Lebih lanjut, Syaiful menjelaskan bahwa secara visual, Satu Setel mengambil konsep kolase, di mana gambar-gambar lama dari film positif sablon yang tersimpan diolah ulang menjadi bentuk baru. “Sebenarnya, images-nya dari gambar-gambar yang sudah saya pernah gunakan untuk bikin karya sablon. Kalau karya sablon itu, ada film positif yang dicetak di kertas kalkir atau astralon bening. Jadi, itu saya olah lagi, gabungkan dengan karya lain menjadi bentuk baru,” jelas Syaiful. Layaknya pakaian satu setel, zine ini berisikan grafis-grafis yang dipasangkan satu sama lain—menemukan kombinasi gambar mana yang cocok. "Jadi, saya bikin kolase dari gambar-gambar yang bisa dipakai kemana-mana, makanya nama zine-nya Satu Setel—seperti setelan baju yang bisa dipadupadankan," imbuhnya.

Zoom

Tak jauh berbeda dari praktik screen print zine-nya, dalam pameran tunggalnya yang bertajuk Sumber Daya Gambar, Syaiful menyoroti peran gambar sebagai sumber daya kreatif yang bisa dieksplorasi dan dimanfaatkan seperti halnya sumber daya alam. "Kalau sumber daya alam seperti air atau mineral bisa digunakan oleh masyarakat, gambar pun demikian," jelasnya. Pameran ini menggabungkan gambar-gambar temuan dari berbagai buku, majalah, dan koran dari era 1940-1950-an, yang ia kumpulkan selama lebih dari satu dekade. “Saya sudah lebih dari sepuluh tahun mengumpulkan gambar-gambar itu. Saya bikin kategorisasi dan saya folder-in. Nanti kalau bikin karya tinggal saya olah lagi. Makanya nama pameran saya Sumber Daya Gambar,” ceritanya. Sang seniman grafis menemukan daya tarik tersendiri dari gambar-gambar masa lalu tersebut. Tak hanya karena visualnya, tapi juga karena proses cetaknya menggunakan teknik cetak tinggi—berbeda dengan cetakan digital modern yang kita temukan hari ini. "Zaman dulu belum ada digital print, jadi masih pakai cetak tinggi, dan foto-foto di buku juga masih pakai klise yang butuh di-develop," terangnya. Bagi Syaiful, proses analog ini—di mana setiap tahap memerlukan perhatian dan kesabaran—merupakan hal yang penting untuk dirawat di dunia grafis saat ini.

Karya-karya yang dipamerkan dalam Sumber Daya Gambar mencakup berbagai medium cetak seperti kertas tua, potongan dari buku, foto. Elemen yang unik dalam pameran ini adalah penggunaan kaca sebagai medium cetak. Syaiful menjelaskan bahwa penggunaan kaca di pameran ini tidak hanya sebagai “pemanis”, tetapi juga sebagai representasi dari elemen-elemen visual yang ditemukan di kehidupan sehari-hari. "Kaca di Jakarta itu biasanya untuk etalase warteg, apotek, atau toko emas. Jadi, saya gunakan kaca ini dengan gambar-gambar yang berhubungan, seperti makanan dan obat-obatan, agar tidak sekadar menjadi pemanis saja," jelasnya.

Pameran Sumber Daya Gambar dan penciptaan Satu Setel merupakan hasil dari proses yang cukup panjang.”Prosesnya ketemu Anggun Priambodo (kurator) bulan Januari, lalu diajakin pameran. Ya, delapan bulan prosesnya.” cerita Syaiful. Ia mengaku bahwa selama proses tersebut, Syaiful sempat beberapa kali mengganti tema sebelum akhirnya menemukan yang sesuai dengan visinya. "Awalnya, saya sempat ingin fokus pada teknik sablon saja, tetapi setelah melihat kembali koleksi gambar-gambar lama saya, saya memutuskan untuk mengeksplorasi tema ‘sumber daya gambar’," ungkapnya. Proses di balik “dapur” pameran ini memungkinkan Syaiful untuk mengeksplorasi berbagai medium dan cara display yang berbeda, termasuk serpihan kaca dan bingkai-bingkai lama. "Saya senang dengan prosesnya, karena kali ini lebih banyak berpikir dan eksperimen.”

Melalui pameran Sumber Daya Gambar dan screen print artzine Satu Setel, Syaiful Ardianto menunjukkan bagaimana gambar dapat menjadi sumber daya yang tak terbatas untuk eksplorasi artistik. Dengan teknik screen printing yang penuh kejutan dan elemen manual yang autentik, Syaiful mengajak kita untuk merenungkan kembali hubungan kita dengan teknik cetak grafis manual dan dunia digital di era ini. Ke depannya, Syaiful masih akan terus “bermain” di ranah teknik cetak analog dengan melebarkan eksplorasi ke medium lain seperti kolase klise film.

Slide-1
Slide-2
Slide-3
Slide-4
Slide-5
Slide-6
Slide-7
Slide-8
About the Author

Alessandra Langit

Alessandra Langit is a writer with diverse media experience. She loves exploring the quirks of girlhood through her visual art and reposting Kafka’s diary entries at night.