Nafas Rasa Taxing: Pameran Debut Kareem Soenharjo

Sebuah praktik artistik sering kali bermula sebagai upaya memberi bentuk pada diri, dan setiap goresan kuas, lirik, atau sketsa menjadi terjemahan kecil dari dunia batin. Dalam perjalanan penemuan diri, beberapa seniman tertarik pada romantisasi  dari hal yang biasa, sehingga memberi keakraban untuk para penonton. Relasi ini menemukan nilai estetik pada sentimen, dimana keindahan menjadi suatu hal yang dimiliki (dan dirawat secara) bersama. Ia berdiam dalam kelopak bunga yang lembut, dalam wajah seseorang yang dicintai, atau dalam permukaan kolam yang tenang. Namun ada sebuah pertanyaan yang mengusik kenyamanan ini: apa yang terjadi ketika hal yang familier diganggu oleh langit yang menggelap, sepasang mata yang mengawasi, atau kilatan darah yang tiba-tiba? Dalam Taxing, Kareem Soenharjo meretakkan permukaan rutinitas dan memanggil teror-teror sunyi yang menghuni lanskap keseharian.

“Ada ruang kepala tertentu yang tidak pernah meninggalkan saya. Ia terus meluas seiring saya hidup, dan ruang itu dipenuhi perasaan taxing,” ujar Kareem dalam percakapannya dengan kurator Zarani Risjad. Hubungannya dengan seni terikat pada gagasan Carl Jung tentang shadow work (diterjemahkan sebagai kerja bayangan), yang diubahnya sebagai praktik konfrontasi dan penjelajahan. Bobot dari kondisi ini hidup dalam lukisan-lukisan yang menampilkan ruangan-ruangan sunyi, sosok-sosok gelap, dan bagian tubuh yang terserak di atas bidang hitam, putih, merah, ungu, dan biru. Adegan-adegan ini mengaburkan keintiman dan realitas saat Kareem melarutkan batas subjek dalam karyanya. Ada kalanya ia menempatkan dirinya di pusat karya, meskipun wajahnya tersamarkan atau dilenyapkan. Pada waktu lain ia memunculkan sosok menyerupai bayangan, dimana bentuknya diubah dan digandakan. Mereka muncul memanjat gunung, atau duduk seorang diri tanpa kaki. Sebagai penonton, kita bertanya-tanya siapa itu yang Kareem menggambarkan. Apakah kita sedang melihat Kareem, seseorang asing, atau sosok yang menghantui dalam pengalamanTaxing? Atau mungkin kita sebenernya melihat diri kita sendiri dalam karya-karya ini. Setiap kali saya meminta penjelasan kepada Kareem, ia kembali pada keterbukaan dalam interpretasi maknanya. “Karya ini adalah apa pun yang kamu inginkan.”

zoom-(untitled)

Pencarian atas identitas sosok-sosok ini berubah menjadi upaya kolektif pada pembukaan pameran tanggal 28 November. Semua berawal dari Untitled (Jakarta Selatan), lukisan seorang figur hitam yang tampak membawa beban tak kasat mata. Percakapan dimulai dari pertanyaan sederhana tentang apa yang sedang ia memikul. Banyak yang setuju bahwa sosok itu tidak membawa apa pun, dan bahwa kehampaan itu mencerminkan tekanan yang menekan warga Jakarta serta hasrat akan kapital yang tak pernah surut. Dari sini muncul refleksi yang mendalam: Apakah beban yang kita rasakan lahir dari dalam diri, atau dibentuk oleh struktur yang lebih besar? Diskusi kami tidak diakhiri dengan jawaban yang pasti, namun berpindah pada keberadaan taring sang figur, yang memberi kesan bahwa ia sekaligus mengerikan dan begitu nyata.


zoom-(pool)

Diskusi lain tumbuh dari Pond, sebuah karya yang memberi penonton momen ketenangan di tengah arus gelap pameran. Berbeda dari sosok-sosok gaib lainnya, lukisan ini condong pada realisme dan menggambarkan lanskap hijau yang berpusat pada kolam berisi teratai, dimana Kareem mencurahkan perhatian pada serat-serat tanaman yang mengapung di permukaan air. Awalnya saya menduga karya ini merujuk pada Water Lilies milik Monet, tetapi Kareem menjelaskan bahwa lukisan ini adalah penghormatan halus pada karya Millais, Ophelia, hanya tanpa tubuh Ophelia. Kehilangan sosok ikonik ini justru menjadi sumber misteri karya ini. Kareem memainkan kedalaman komposisi, dan mengajak kita membayangkan sesuatu yang tersembunyi di bawah air: seolah jika kita tenggelam ke dalamnya, kita mungkin menemukan dirinya. Atau, jika kita melihat perlahan ke kiri, kita mungkin menangkap jejak merah (atau darah) samar yang menuntun ke tempat ia berbaring.

Percakapan-percakapan ini membawa kehidupan, dan mengungkap ritme di dalam pameran: sebuah eksplorasi terhadap  gerakan antara horor dan kelembutan yang mencerminkan lanskap emosi kita sendiri. Di dunia Taxing, Kareem mengajak kita berdiam sejenak dalam dualitas ini agar kita dapat memperhatikan keterikatan keindahan dengan  kegroteskan, dan bagaimana gambar yang tenang pun dapat bergetar dengan makna rahasia. Karya-karyanya mengajak kami jujur terhadap kerentanan kita sendiri, dimana sang pelihat diposisikan untuk mendalami  bayangan-bayangandan kegelapan yang kita biasa sembunyikan.

Keseluruhan karya dalam Taxing memperlihatkan rentang emosinya yang luas dan menandakan bahwa kondisi ini tidak hanya milik Kareem, tetapi bergerak melalui banyak dari kita. Namun Kareem mengingatkan bahwa kondisi ini tidak kekal. Ia memiliki pintu masuk dan keluar, dan tidak menuntut kehadiran tanpa akhir. Pameran perdananya menatap kegelapan yang sering kita hindari, dengan keyakinan bahwa harapan hanya dapat ditemukan melalui perjumpaan jujur dengan apa yang mengguncang kita. Seperti yang ia renungkan, “Saya berada di dasar lubang hampir sepanjang hidup saya, tetapi saya mengerti bahwa lubang itu hanya tak berdasar jika kamu terus menggali. Cahaya tidak hanya di ujung terowongan, tetapi juga di celah-celah sepanjang terowongan.” Karya-karyanya menyajikan beratnya keberadaan agar momen-momen ringan dapat kembali dengan kejernihan. Mungkin untuk memahami Taxing, kita harus melangkah masuk ke gelap dan mendengarkan bahasanya yang pelan, sebab hanya dari dalam gelap cahaya dapat muncul dengan bentuknya yang paling sabar.


web-22
web-23
web-24
web-25
web-26
web-27
web-28
web-29
web-30
About the Author

Sabrina Citra

Sabrina Citra is a researcher who is based in Jakarta. She is currently interested in the intersection of aesthetics, cultural studies and language/linguistics.