Menggali Lebih Dalam tentang Harapan dan Ramalan di ARTJOG 2024

Jumat lalu (28/06) ARTJOG 2024 resmi dibuka untuk publik dari berbagai wilayah di Indonesia, bahkan dunia. Tema acara tahun ini menggali pengertian dari “ramalan”. Dijuluki “Lebaran Seni”, festival seni kontemporer ini diadakan setiap tahun sejak 2008 di Jogja National Museum. ARTJOG 2024 menampilkan karya luar biasa dari 48 seniman individu dan kolektif dewasa baik dari dalam maupun luar negeri, serta 36 seniman anak dan remaja yang karyanya lolos seleksi oleh tim kuratorial ARTJOG.

Tema “Ramalan” ini mencakup spektrum diskusi yang cukup luas. Dalam pernyataan pers, tim ARTJOG menjelaskan, “Ramalan merupakan pola imajiner yang menghubungkan persilangan antara waktu lampau, hari ini, dan esok. Sebagai motif imajiner, pemaknaan atas suatu peristiwa tidak sepenuhnya ditentukan oleh sesuatu yang mendahuluinya, layaknya sebuah hipotesis di dalam bidang keilmuan. Bagi seniman, ramalan adalah imajinasi dan daya prediksi yang menggerakkan kreativitas dalam proses mencipta. Gagasan tema ramalan ini juga tidak hanya bermaksud untuk memastikan nujum atau ramalan para peramal di masa lalu, akan tetapi, tema ini menawarkan kesempatan bagi kita untuk membayangkan kembali gambaran peristiwa dan harapan menuju hari esok.

Zoom-1

ARTJOG tahun ini menampilkan karya dari Agus Suwage & Titarubi, Agan Harahap, Agnes Hansella, Agung Prabowo, Alisa Chuncue, Ariani Darmawan, Asmoadji, Atreyu Moniaga, Cecil Mariani, Darren Chandra, Dede Cipon, Diyanto, Elia Nurvista, Hanura Hosea, Haris Purnomo, Heman Chong, Iftikhar Ahmad R, Ines Katamso, Jay Afrisando, Julia Sarisetiati, Julian Abraham 'Togar', Jun Kitazawa, Kanoko Takaya, Koh Kai Ting & Aw Boon Xin, Kolektif Menyusur Eko Prawoto, Maryanto, Mishka Fathina Dewanto, Muhammad Praditya Arifian Zein, Nicholas Saputra, Happy Salma, (alm) Gunawan Maryanto, Nona Yoanishara, Nurrachmat Widyasena, On Kawara, Paul Kadarisman, Pius Sigit Kuncoro, Ramadhan Arif Fatkhur, Rangga Purbaya, Rayaka Agashtya Wibowo, Riar Rizaldi, Stefanus Endry Pragusta, Subandi Giyanto, TEMPA, Trio Muharam, Tromarama, Wawan Dalbo, Widi Pangestu, Yola Yulfianti, Yudi Sulistyo, dan Zeta Ranniry Abidin.

Zoom-2

Pembukaan acara diawali dengan penampilan memukau oleh Rianto dan Septina Layan dengan musik dari Ari Wulu yang dilanjutkan ke seluruh ruang pameran. Kemudian, pengunjung menyimak kata sambutan dari direktur ARTJOG, Heri Pemad, sambutan dari kurator tamu Hendro Wiyanto, dan orasi kebudayaan dari Rama Sindhunata. Dalam orasinya, Rama Sindhunata mengangkat tema Ramalan tentang bagaimana seni akan menjawab tantangan Kecerdasan Buatan. Dia menyatakan: “...Teknologi bagaimana pun adalah mesin, yang daya jangkaunnya dan kemampuannya terbatas. Maukah seni direnggut ketakterbatasannnya dan menundukkan diri pada yang terbatas itu? Itulah tantangan yang harus dijawab oleh seni itu sendiri. Apa-apa bergantung mesin teknologi modernnya, jika akhirnya ia mengambil langkah keputusan, belum tentu ia melangkah berdasarkan otonominya. Seni kiranya perlu menabrak barikade itu dan mengembalikan manusia pada otonominya. Itulah tantangan seni berhadapan dengan AI di zaman ini.” 

ARTJOG merupakan kulminasi menarik dari beberapa seniman kontemporer ternama Indonesia. Acara seperti ARTJOG sangat penting untuk terus mendorong seni dan wacana seni ke depan—untuk menyaksikan seniman luar biasa menghadapi tantangan dan merenungkan pasang surut di zaman kita dalam industri yang terus berubah. ARTJOG terbuka untuk umum hingga 1 September 2024.

Slide-1
Slide-2
Slide-3
Slide-4
Slide-5
Slide-6
Slide-7
Slide-8
Slide-9
Slide-10
Slide-11
Slide-12
Slide-13
Slide-14
About the Author

Kireina Masri

Kireina Masri has had their nose stuck in a book since they could remember. Majoring in Illustration, they now write of all things visual—pouring their love of the arts into the written word. They aspire to be their neighborhood's quirky cat lady in their later years.