Berkunjung ke Sri Rejeki Nama Tokonya Karya Anggun Priambodo
“Ada anak makan manisan, tahu petis dan kacang kancil. Bapak beli, ibu beli, di Sri Rejeki, nama tokonya.”
Lagu “Sri Rejeki” dalam EP Anak karya Anggun Priambodo menggambarkan romantisasi pengalaman seorang anak pertama kali datang ke sebuah toko, bertanya-tanya mengenai ruang dan barang-barang yang dijual, melihat proses transaksi, dan interaksi antara penjual - pembeli. Toko tersebut kini hadir dalam bentuk karya instalasi bertajuk Sri Rejeki Nama Tokonya yang dipamerkan di Indonesia Contemporary Art and Design (ICAD) ke-14. Kepada Grafis Masa Kini, Anggun Priambodo, selaku seniman, berbagi mengenai proses dan gagasan di balik karyanya.
Ketika ICAD mengundang Anggun untuk berpartisipasi dalam pameran ke-14 mereka dengan tema “Unexpected,” Anggun masih mempertanyakan partisipasinya mengingat terakhir kali berkarya di bidang seni rupa adalah saat pameran tunggal di Sunset Limited pada 2020 lalu. Sejak itu, Anggun lebih aktif sebagai kurator, penulis, pembuat film pendek, dan musisi dengan EP terbaru bertajuk Anak. Menariknya, justru EP tersebutlah yang menjadi titik awal ICAD melihat tema “Unexpected” pada karya Anggun Priambodo. “Memang si EP Anak itu niatnya diturunkan ke seni rupa tapi belum kejadian karena kuratornya ke luar negeri. Gue cenderung tidak cari kurator lagi karena sudah cocok dengan dia. Lalu, tiba-tiba ICAD undang karena mereka lihat ini unexpected sekali, gue meluncurkan EP Anak,” cerita Anggun. Momen tersebut membuatnya berpikir kembali tentang bentuk karya yang bisa ia ciptakan dari lagu-lagu yang ada di EP tersebut.
Ruang dengan fasad kaca di bagian belakang lobi hotel Grand Kemang, Jakarta Selatan, menjadi sudut tempat Anggun memamerkan karyanya—dan menjadi pemantik gagasan menghidupkan toko Sri Rejeki yang tertulis dalam lagunya. Alih-alih berbicara tentang konsumerisme seperti karyanya pada 2010 di Ruang Rupa yang berjudul Toko Keperluan, karya Sri Rejeki Nama Tokonya merayakan produk-produk yang dijual di toko dan pengalaman seorang anak melihatnya, membelinya untuk pertama kali. “Saat masuk ke ‘toko’, kita terasa sangat dekat dengan produk-produknya, melihatnya satu-satu. Orang-orang juga bisa beli dan mendapatkan barangnya setelah pameran selesai.Kalau di Toko Keperluan, barang bisa dibeli dan didapatkan langsung, kita biarkan sampai benar-benar habis,” jelas Anggun.
Salah satu inspirasi terbesar instalasi ini datang dari toko bernama Sri Rejeki yang Anggun temukan di Pasar Blauran, Surabaya, saat ia mengerjakan sebuah proyek film. “Sri Rejeki kan ada tokonya kalau kita ke Surabaya, di samping Pasar Blauran. Lagu yang gue buat juga ada kaitannya dengan Toko Sri Rejeki ini. Pertama kali masuk ke toko ini, gue langsung belanja dan barang-barang yang gue beli jadi lirik lagu ‘Sri Rejeki’,” kenang Anggun. Toko Sri Rejeki di Surabaya adalah miniatur yang ideal dari pasar tradisional Indonesia yang memiliki sentuhan personal pada setiap sudutnya. Berbeda dengan minimarket modern, toko ini dikelola secara turun-temurun oleh keluarga, menampilkan produk-produk yang dijajakan dengan tangan dan sentuhan lokal yang tidak mungkin ditemukan dalam ritel berjejaring. Nama Sri Rejeki mewakili kedekatan dan keakraban yang ditawarkan oleh toko ini—sebuah kiasan akan "rejeki" yang tidak selalu berwujud materi, melainkan kehangatan, sentuhan personal, dan kedekatan manusiawi yang menjadi karakter khas transaksi tradisional. Bagi Anggun, toko ini tidak hanya menjual produk, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai lokal dan identitas budaya, yang membawanya pada gagasan untuk menghidupkan elemen-elemen ini dalam instalasi.
Dalam mempersiapkan pameran ICAD, dari bulan Juli hingga September tahun ini, Anggun mengunjungi Lampung, Padang Panjang, Bali, dan kembali ke Surabaya, dengan misi untuk menyusun koleksi produk yang dapat merepresentasikan kekayaan budaya lokal dari setiap kota. Proses ini bukan hanya sebuah kegiatan pengumpulan barang, melainkan perjalanan observasi yang mendalam terhadap perilaku masyarakat lokal dalam bertransaksi dan berinteraksi. Di tengah berbagai kesibukan, Anggun selalu menyempatkan untuk berbelanja ke luar kota karena ia sendiri tidak puas hanya dengan mengumpulkan barang-barang dari satu kota yang sama. “Misalnya hanya Jakarta, walaupun Jakarta adalah kota yang luas dan gue pasti bisa menemukan sesuatu yang lucu di pelosok-pelosoknya, tapi pasti akan lebih mengejutkan kalau gue ke daerah lain,” ungkap sang seniman. Dengan tegas, Anggun menambahkan bahwa dirinya tidak melakukan transaksi pembelian daring untuk barang-barang yang dipamerkan di instalasi tokonya. “Sri Rejeki itu pengalamannya. Kembali lagi ke lagunya; pengalaman anak pertama kali ke toko dan bertanya tanya ‘kok seperti rumah tapi barangnya banyak?’, ‘kenapa barangnya dijual?’”
Setiap produk yang Anggun bawa ke Sri Rejeki Nama Tokonya mengandung kisah unik yang mewakili identitas tempat asalnya. Dari layangan khas Lampung yang awalnya ragu untuk ia beli, hingga batu ukir dari Ubud yang memiliki detail artistik, semua barang memiliki nilai lebih dari sekadar fungsionalitasnya. “Ada satu hari yang gue ke Ubud, gue enggak kepikiran akan dapat sesuatu. Gue selalu enggak punya ekspektasi apa-apa, tapi gue tahu gue akan dapat sesuatu yang menarik. Lalu, ada satu rumah yang jual batu ukir, gue langsung berpikir untuk beli. Gue suka banget batu-batu itu, gue berharap enggak ada yang beli (di toko). Tapi ternyata beberapa hari yang lalu ada yang beli seri batunya,” cerita Anggun sembari terkekeh. Tak hanya kekuatan naratif yang menggambarkan kehidupan sehari-hari masyarakat setempat, barang-barang tersebut juga memiliki daya tarik grafis yang membuat pembeli tergoda secara visual, seperti gel rambut dari Bali dengan kemasan kaleng yang berhias ilustrasi perempuan setempat. Berbicara soal grafis, Anggun juga merancang ulang label makanan ringan yang dijual di instalasi tokonya. Makanan-makanan dan bumbu-bumbu tersebut juga memiliki nilai identitas yang kuat. “Setiap kota punya makanan khas yang berbeda-beda, berarti bumbu-bumbu mereka juga beda. Salah satu penanda identitas toko-toko itu adalah bagaimana bumbu-bumbu itu dijual,” jelasnya.
Demi merayakan daya tarik setiap produk yang dijual di Sri Rejeki Nama Tokonya, Anggun secara khusus menata produk dengan teknik presentasi yang berbeda dari toko modern. Alih-alih memajang barang-barang secara berimpitan, ia menampilkan setiap produk secara terpisah, layaknya artefak dalam museum. Pengunjung bisa melihat dan mengamati barang-barang tersebut dengan lebih seksama, menikmati setiap detail visual dan cerita yang dikandungnya. Melalui pendekatan ini, Anggun berusaha menghadirkan romantisme pengalaman berbelanja di toko tradisional, yang semakin jarang kita temui di tengah gempuran modernitas, layaknya makna lagu “Sri Rejeki”. Presentasi ini juga memantik kesadaran bahwa konteks daerah dan keseharian dari masyarakat berpengaruh pada barang-barang yang dipasok oleh toko. “Banyak yang bertanya, ‘Ini (barang) udah enggak digunakan lagi ya? Kok lo bisa dapat?’. Enggak, ini barang-barang yang masih digunakan sampai hari ini, tapi kita yang tinggal di perkotaan selalu memilih sesuatu yang baru. Jadi, tergantung kita berada di mana. Kapak di kota seperti Jakarta mungkin enggak dibutuhkan. Tapi di pedesaan Bali yang masih bercocok tanam, sangat dibutuhkan,” ungkap Anggun.
Sri Rejeki Nama Tokonya menggugah pemikiran kita dalam melihat betapa kreatifnya manusia dalam memenuhi kebutuhannya dengan barang-barang yang diproduksi. “Keusilan”, kata yang dipilih Anggun, mencerminkan bagaimana keterampilan manusia mampu menciptakan benda kehidupan sehari-hari dengan berbagai daya tariknya—tidak sekadar fungsi, namun juga estetikanya. Lebih dari itu, Anggun mencatat bahwa terkadang manusia, terutama di kota besar, terkotakkan dengan modernitas yang begitu pesat sehingga kita lupa bahwa barang-barang dengan sentuhan tangan manusia, yang dirajut, dijahit, dipahat, masih diproduksi sampai hari ini, dan masih dibutuhkan oleh lapisan masyarakat tertentu.
Kembali ke lagu “Sri Rejeki”, instalasi ini merupakan pengalaman utuh dari narasi musikal lagu karya Anggun Priambodo. Maka, penting bagi pengunjung untuk melihat karya ini dengan bekal pengetahuan akan lagu “Sri Rejeki” untuk mendapatkan pengalaman masuk ke toko dan melihat barang-barang yang berbeda. “Kalau pengunjung tahu bahwa karya ini berawal dari lagu, maka mereka akan lebih mengenal ceritanya dan daftar barang-barang yang dijual,” kata Anggun. Sri Rejeki Nama Tokonya dan karya-karya lainnya di ICAD 14 masih bisa dikunjungi publik hingga 10 November mendatang.