Type Design Club Kembali Hadir dengan Edisi Ketiga Latin Text Type 2024

Type Design Club telah kembali hadir! Diprakarsai oleh Tegamitype Foundry dan The Public Case, tahun ini, Type Design Club akan menyelenggarakan lokakarya Latin Text Type edisi ketiga. Berlangsung mulai 1 Juni hingga 14 September, kursus berdurasi 16 minggu ini akan dibuka pendaftarannya mulai Senin, 1 April hingga 30 September.

Pertama kali dimulai pada tahun 2022, kursus ini digagas sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan inklusivitas dan aksesibilitas terhadap praktik type design. Menyusul kursus Latin Text Type yang pertama, Type Design Club juga mengadakan lokakarya Javanese Script Lettering selama empat minggu pada tahun 2022. “Jadi, kita sekarang fokusnya pada pengembangan aksara-aksara yang ada di Indonesia. Nggak cuman terpaku pada aksara latin saja, tapi kita juga mulai berfokus dan mencoba berkontribusi pada aksara-aksara lokal Indonesia,” jelas Aditya Wiraatmaja dari The Public Case.

“Di edisi ketiga Latin Text Type ini, kita mau membawa pembelajaran kurang lebih selama 14 minggu dimana setiap minggunya itu ada materi yang disampaikan dan tugas yang diberikan,” lanjut Aditya. Peserta kursus Latin Text Type 2024 akan mempelajari praktik type design dalam 14 sesi online berdurasi dua jam yang diadakan setiap hari Sabtu selama periode 16 minggu. Sesi ini akan terdiri dari diskusi dan kelas tentang pembuatan sketsa font, font software, serta digitalisasi fon diselingi dengan sesi feedback dan evaluasi.

Berbeda dengan kursus kursus sebelumnya, tim Type Design Club juga menambahkan dua minggu tanpa sesi pada minggu ke-8 dan minggu ke-15. “Sebenarnya tahun ini totalnya itu 16 minggu. Jadi, di tahun-tahun sebelumnya itu full kelas terus (setiap minggu). Kita ada evaluasi dari (edisi) tahun kemarin itu kayaknya (untuk) para peserta agak overwhelming sama materinya. Karena mungkin terlalu padat,” jelas Iqbal Firdaus dari Tegamitype. Istirahat pada minggu ke delapan dan 15 dilaksanakan untuk memberikan waktu istirahat tambahan bagi siswa dan mengevaluasi hasil pekerjaannya selama ini. “Kalau kemarin kita lihat itu banyak juga beberapa peserta yang kepepetan. Mereka bikin font-nya terus nanti harus diimplementasi untuk presentasinya juga, dan kita emang minta beberapa format soalnya buat keperluan website dan Instagram. Jadi break ini untuk mencegah yang kemarin banyak overwhelming itu,” lanjutnya. Iqbal mengenang, dari 12 peserta, hanya sembilan yang mampu menyelesaikan kursus secara menyeluruh. Meski begitu, ia memahami bahwa kursus tersebut merupakan sesuatu yang diikuti oleh peserta di samping rutin mereka sehari-hari. “Jadi, buat mencegah itu tahun ini biar semuanya bisa sama-sama selesai, walaupun enggak ada keharusan untuk diselesaikan juga. Cuman kitanya sangat menyayangkan itu saja,” jelas Iqbal.

Zoom

Sama halnya dengan edisi sebelumnya, Aditya dan Iqbal akan memimpin kursus sebagai instruktur utama. “Dari segi kurikulumnya kita rombak dikit. Tahun ini kita lebih banyak guest lecturer. Di tahun pertama kita invite tamu kritik dari Malaysia. Terus (tahun berikutnya) dari Filipina. Dan tahun ini, kita invite teman kita dari Thailand, namanya Mint Tantisuwanna. Kita juga invite orang baru dari Indonesia, namanya Mas Fadhl (Haqq). Dia emang udah praktisi type [design] di industri Indonesia lumayan lama,” jelas Aditya.

Mereka kemudian menjelaskan bahwa akan menyediakan materi yang membahas implementasi lebih lanjut dan kebutuhan font yang dirancang. “Jadi, kita coba kemas agar beririsan dengan graphic design, jadi kita invite graphic designer juga buat ngisi salah satu sesi lecture,” kata Aditya. “Sebenarnya banyak yang ikut dari kelas kita itu basic-nya graphic design. Di final design-nya itu dia akan diminta untuk buat sebuah presentasi pake font yang mereka buat selama course-nya. Ditampilin sebagai presentasi utuh bagaimana proses perancangan font itu. Nah, yang tadi bersinggungan dengan graphic design itu untuk menunjang ke final presentasinya. Jadi, mungkin mereka bisa dapat insight tambahan untuk pengaplikasian. Gimana sih caranya saat mengimplementasi type design yang sudah mereka buat itu bisa lebih maksimal?” jelas Iqbal.

“Secara demografi peserta, kita masih open banget sama peserta yang bersinggungan dengan font design. Tapi kita juga open banget sama orang-orang yang nggak ada background itu dan emang pure graphic designer,” kata Iqbal. Namun, Iqbal juga menjelaskan bahwa ada beberapa syarat yang perlu diperhatikan. Ia berharap para calon peserta sudah memiliki pengetahuan tipografi dasar dan mampu mengoperasikan software desain karena kursus akan langsung masuk ke desain tipe sehingga menjadikan landasan tipografi menjadi sangat penting. Seperti kursus Type Design Club edisi sebelumnya, calon siswa diminta untuk menulis dan menyerahkan interest statement menjelaskan alasan mereka ingin berikut serta dalam kursus tersebut. Mengirimkan portofolio juga dapat membantu peluang kamu untuk mendapatkan slot di Latin Text Type. Sebanyak 12 slot akan tersedia bagi calon peserta yang berminat. Diantaranya ada dua slot early bird dengan harga Rp5 juta, dua slot pelajar dengan harga Rp3 juta, dan delapan slot reguler dengan harga Rp5.5 juta. Kunjungi situs resmi Type Design Club untuk mendaftar untuk kursus Latin Text Type 2024.

Slide-1
Slide-2
Slide-3
About the Author

Kireina Masri

Kireina Masri has had her nose stuck in a book since she could remember. Majoring in Illustration, she now writes, in both English and Indonesian, of all things visual—pouring her love of the arts into the written word. She aspires to be her neighborhood's quirky cat lady in her later years.

Let your work shine!

Your work takes center stage! Submit your final assignment here to be assessed by experts of the field.

Submit

Recomended Reading

Cover

Popomangun Discusses the Meaning of Home in the
ARTLOKA proudly presents Popomangun's solo exhibition, titled House of Home, which explores the personal meaning of home. In the curatorial text, Popomangun writes that home is a safe space for its inhabitants and a place where they are fully shaped as individuals. Speaking to Grafis Masa Kini, Popomangun revealed that this solo exhibition stems from his unease regarding his relationship with family, which shaped his perception of the meaning of home itself. Transitioning from living with parents to becoming a parent himself prompted Popomangun to create visual works centered around the concept of home. "Being a parent has no school or curriculum; thus, all behaviors and adaptations in the form of communication, anxieties, and warmth are actually recorded in the feelings and thoughts that we call home," expressed Popomangun.
The patterns and colors in Popomangun's works in the House of Home exhibition depict his memories of home. In terms of form, the houses in his works are drawn from various memories, including his relationships with his parents, in-laws, wife, and children. "All of these are illustrated in depictions of houses in various forms," explained Popomangun. The selection of warm and cool colors within the same frame reminds us of the emotional dynamics within a home. Memories in the corners of the house are translated by Popomangun into symbols and silhouettes unified within a single visual narrative. The curatorial text states that for Popomangun, aside from being representations of memories, these forms and patterns serve as both figures and landscapes depicting how he survives by building a "home" amidst the chaos of life.
Exhibition

11 days ago
Load More Article

Get ahead of the game with GMK+

Keep your finger on the pulse of the art and design world through newsletters and exclusive content sent straight to your inbox.