Era Baru Tommy Chandra di Dunia Ilustrasi

Sebuah kafe di kawasan Tangerang Selatan kini dipenuhi dengan karya ilustrasi vektor yang lahir dari tangan Tommy Chandra, seorang desainer dan ilustrator dengan latar belakang arsitektur. Mapping the Self, pameran tunggal pertama Tommy Chandra, menjadi penanda sebuah era baru bagi sang ilustrator di dunia seni dan desain.

Lulus dengan bekal ilmu arsitektur, Tommy memulai kariernya sebagai seorang ilustrator 15 tahun yang lalu. Kecintaannya terhadap ilustrasi sudah terlihat semenjak awal memasuki dunia perkuliahan, saat Tommy menerima berbagai pekerjaan lepas sebagai ilustrator untuk kebutuhan infografis maupun tata letak. Setelah bencana gempa bumi di Yogyakarta pada 2006 silam, Tommy mulai bekerja secara profesional sebagai ilustrator. Saat itu, Tommy diminta oleh sebuah lembaga swadaya masyarakat untuk ikut merancang sebuah buku terkait rumah tahan gempa. “Aku bantu nge-layout dan bikin infografisnya untuk buku itu,” cerita Tommy. Kemampuan Tommy sebagai ilustrator pun berkembang saat pindah ke ibu kota dan bekerja di sebuah agensi kreatif. Menurut cerita Tommy, proses rekrutmennya sebagai karyawan agensi tersebut tidak sulit karena pihak agensi lah yang pertama menawarkan pekerjaan kepada Tommy setelah melihat portofolionya di situs Deviantart yang memamerkan karya rancangan arsitekturnya. “Mereka rekrut aku untuk membuat aset game yang berbentuk seperti simulasi perkotaan. Semenjak itu, jalan hidupku selalu berhubungan dengan ilustrasi, arsitektur, dan pembuatan infografis,” kata Tommy.

Dedikasi Tommy pada dunia ilustrasi pun mengantarkannya sebagai seniman doodle pertama dari Indonesia untuk Google Doodle pada 2014. Saat itu, Tommy tergabung dalam sebuah agensi ilustrator bernama Fabula yang menawarkan karya para seniman-senimannya kepada Google. Dari daftar seniman dari berbagai agensi maupun independen tersebut, Tommy terpilih sebagai ilustrator untuk Google Doodle. Kesempatan ini menjadi pengalaman yang berharga bagi Tommy bekerja untuk perusahaan global yang besar. Dalam prosesnya, bagi Tommy yang sudah pernah mengerjakan beberapa proyek di luar negeri, tidak ada tantangan yang sangat berat. Dengan bertukar pesan secara daring, Tommy mengikuti arahan dari pihak Google HQ maupun Google Indonesia dan menuangkan kreativitasnya dalam merancang doodle terbaiknya. Dampak positif pun dirasakan oleh Tommy pasca terlibat proyek Google Doodle. “Aku dapat lagi proyek dari Google Indonesia. Ilustrasiku yang termasuk tech-illustration pun dilirik banyak korporat terutama di tech industry. Akhirnya mereka hire aku untuk mengerjakan proyek mereka,” ungkap Tommy. Hampir semua proyek yang Tommy terima selama kariernya di dunia seni dan desain tidak melibatkan proses pitching. Portofolio digital Tommy berhasil menarik minat dari berbagai pihak untuk bekerja sama.

Zoom-1

Pandemi Covid-19 tahun 2020 mendorong Tommy untuk menggeluti dunia NFT yang sedang marak dan naik daun. Berkenalan dengan ilustrator dari berbagai belahan bumi lewat aplikasi Clubhouse, Tommy berjejaring dan mencoba untuk memamerkan karyanya lewat NFT. Seiring berjalannya waktu, Tommy mencari gaya artistik yang cocok. Hal itu semakin didorong dengan para seniman NFT yang sudah memiliki ciri khas karyanya masing-masing. Inspirasi terbesar Tommy dalam proses pencarian gaya artistik ini adalah latar belakangnya di dunia arsitektur. Akhirnya, ilustrasi vektor dengan perspektif layaknya gambar bangunan menjadi ciri khasnya. “Proyek pertama yang menggunakan style ini memang proyek NFT. Sempat bikin karya bersama Tezos yang dipamerkan di Artmoments Jakarta 2022 lalu juga,” cerita Tommy.

Di era NFT tersebut, Tommy juga menyadari bahwa seniman vektor dengan gaya minimalis dan arsitektural memiliki pasarnya sendiri dan sangat dihargai di kancah mancanegara. Bagi Tommy, di Indonesia sendiri, banyak pihak yang masih sulit menerima vektor sebagai salah satu bentuk karya seni. Tommy sempat merasakan keresahan tersendiri terkait pandangan beberapa orang terhadap seni vektor. “Di sini, vektor menjadi seni yang downgrade karena banyak orang yang secara cuma-cuma memberikan karya vektornya untuk orang lain atau memasang tarif yang murah. Aku mau mencoba mendobrak itu juga, bahwa vektor adalah karya seni juga,” jelas Tommy.

Perjalanan Tommy mencari gaya artistiknya dan transformasi sang ilustrator menuju era baru inilah yang menjadi gagasan utama di balik pameran Mapping The Self. Dalam teks kuratorial, Lonica Dimmi sebagai kurator menuliskan bahwa pameran ini merupakan jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan–sebuah refleksi atas transformasi Tommy dari fondasi arsitektur hingga dunia ilustrasi digital tanpa batas. Lewat 18 karya yang dipamerkan, Tommy ingin orang mengenal gaya artistik dan transformasinya saat berproses di industri kreatif, serta di dunia seni itu sendiri. Dalam waktu sebulan, Tommy mampu menyiapkan 13 karya baru. Setiap karyanya menggambarkan perjalanan transformasi tersebut dengan warna-warna pastel yang dinamis. “Aku mencoba eksplor berbagai macam perspektif dan warna. Aku bukan tipe arsitek yang minimalis—mengandalkan warna hitam dan putih. Aku suka bermain warna karena warna bisa bercerita soal perjalananku juga,” cerita Tommy.

Zoom-2

Tommy membagi pameran Mapping the Self menjadi lima bagian yaitu era NFT, pendahuluan, facade, blok, dan kompleks. Setiap bagian tersebut merupakan cerita perjalanan dan transformasi seorang Tommy sebagai ilustrator. Pada bagian NFT, karya yang dipamerkan menjadi awal dari gaya artistik Tommy, sedangkan bagian pendahuluan, ada beberapa karya yang terinspirasi dari masa kuliahnya saat mempelajari gambar teknik, isometri, dan struktur. Semakin ke belakang, karya yang dipamerkan semakin rumit. Tommy menjelaskan, pada bagian kompleks, Tommy menyatukan warna yang minimalis dan warna yang lebih cerah. Baginya, hal tersebut menggambarkan siklus hidup yang terus berputar. Di bagian ini juga, perspektif yang dieksplorasi oleh Tommy lebih menantang. Dengan menelusuri ruang pamer, audiens diajak untuk mengikuti transformasi karya Tommy dan melihat setiap perubahan siklus kreatifnya. Alih-alih menjadikan pameran tunggal ini sebagai penanda 15 tahun berkariernya, Tommy ingin pameran ini menjadi awal yang baru bagi kariernya di dunia seni dan desain. “Aku bikin pameran ini untuk menandai era baru. Ini pameran pertama aku, masih jauh dari sempurna, masih banyak yang akan aku eksplor ke depan. Satu bulan bukan waktu berproses yang cukup, tapi kalau tidak dimulai sekarang, ya kapan lagi?” kata Tommy.

Bagi Tommy, seni adalah panggilan hidupnya. Maka, setelah 15 tahun di dunia kreatif ini, Tommy akan terus berproses dan memulai langkah barunya. Banyak visi di masa depan yang ingin Tommy wujudkan seperti berpameran lagi, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Tommy juga ingin membuat buku tentang 15 tahun kariernya di dunia seni vektor. Ia pun akan mengembangkan karya-karya yang dipamerkan dalam Mapping the Self ini ke dalam medium lainnya. Pameran tunggal Tommy ini masih berlangsung hingga 24 Februari 2024 di Smiljan Space, Tangerang Selatan.

Slide-1
Slide-2
Slide-3
Slide-4
Slide-5
Slide-6
About the Author

Alessandra Langit

Alessandra Langit is a writer with seven years of diverse media experience. She loves exploring the quirks of girlhood through her visual art and reposting Kafka’s diary entries at night.