Mengintip Proses “Think Unthinkable” dari Jenius

Video komersial Think Unthinkable dari Jenius berhasil menarik perhatian masyarakat luas di media sosial. Visual yang “gelap” menjadi gagasan yang segar dan progresif di dunia periklanan, khususnya untuk bank atau perusahaan finansial. Respons netizen mulai meramaikan media sosial Jenius saat pertanyaan “Apa Ini Hidup yang Kamu Mau?” dilontarkan sebagai teaser dari campaign ini. Berbagai diskusi terlihat di beberapa platform digital hingga video Think Unthinkable rilis. Tak sedikit masyarakat yang mengaitkan pesan dalam campaign ini dengan kehadiran Jenius yang mendisrupsi perbankan dan finansial di Indonesia melalui fitur-fitur yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Think Unthinkable ini merupakan penekanan pesan dari Jenius sekaligus ajakan bagi masyarakat untuk keluar dari pola pikir yang sama untuk menjalani hidup sesuai dengan apa yang mereka ingin lakukan.

Jenius sendiri merupakan pionir dalam kategori digital banking di Indonesia yang selama tujuh tahun hadir selalu konsisten menghadirkan inovasi yang berangkat dari masukan masyarakat digital savvy di Indonesia. Narasi dalam video komersial Think Unthinkable ini berangkat dari pemikiran bahwa tanpa disadari, manusia seringkali terjebak dalam sistem yang membuat kita menjadi seragam dalam pola berpikir maupun pilihan hidup lainnya. Tuntutan lingkungan sekitar membuat banyak orang takut untuk menyuarakan apa yang sebenarnya diinginkan. Think Unthinkable adalah sebuah ajakan dari Jenius ke semua orang untuk kembali melihat apa yang sebenarnya diinginkan dalam hidup—sebuah pola berpikir yang orisinil dan tak mungkin bisa sama antara satu orang dengan yang lainnya.

Dalam pembuatan video komersial ini, Jenius menggandeng agensi kreatif Animal3 dan Ray Farandy Pakpahan sebagai Film Director dari Berkah Film (Production House). Proses kreatif di balik Think Unthinkable ini pun menjadi pengalaman yang mengesankan bagi tim Animal3. Sebagai agensi kreatif yang bertanggung jawab untuk mengembangkan brand direction dari Jenius, Animal3 merasa brief yang ditawarkan sangat menarik sekaligus menantang. Kerjasama ini berawal dari kebutuhan pengembangan ide yang ingin disampaikan Jenius. Cerita dalam video ini merupakan gambaran kebanyakan dari manusia yang memiliki pemikiran yang telah dibentuk oleh lingkungan sekitar kita; entah itu dari keluarga, sekolah, tempat kita bekerja atau komunitas. Oleh karena itu, dalam video ini hadir karakter orang-orang yang memakai “helm” dengan bentuk yang berbeda-beda untuk menggambarkan pemikiran yang terbentuk dari lingkungan sekitar. Menurut cerita Aim, Creative Director dari Animal3, ide ini muncul setelah diskusi tentang posisi dan visi Jenius sebagai pionir digital banking saat ini. Secara artistik, kata-kata “pionir” memberi gambaran tentang sosok yang berani untuk menawarkan inovasi dan melawan keseragaman. “Dalam proyek ini, isu yang ingin kami respons adalah keseragaman dan stagnasi dalam keseharian,” imbuh Aim.

Zoom-1

Febrian Ditra dari Animal3 juga menceritakan bahwa proses pengembangan ide untuk konsep besar video komersial ini memakan waktu hingga hampir satu tahun. Menurut Ditra, Jenius merupakan bank yang sudah memiliki visual branding yang berkarakter dan beda dari yang lain. “Secara branding, Jenius suka memberikan pengalaman yang menyenangkan dan enggak kaku,” ungkap Ditra. Hal itu yang membuat Animal3 memiliki ruang yang luas dalam mengeksplorasi ide untuk video komersial ini.

Hal yang paling menarik perhatian dari video komersial Think Unthinkable adalah karakter yang memiliki kepala berbeda-beda, ada yang lingkaran, kotak, dan segitiga. Ternyata, perancangan “kepala” karakter ini pun memakan waktu yang cukup lama. “Sebenarnya, ide awalnya, gimana caranya kita nunjukkin kepala orang yang dibentuk sama lingkungan,” jelas Ferry, Art Director dari Animal3. Awalnya, karakter dalam video ini dirancang menggunakan topeng. Namun, tim Animal3 kembali memperhitungkan penyampaian pesan yang mudah diterima audiens dan tidak tertutup oleh konsep artistik. Basic shapes dengan proporsi sesuai dengan tubuh manusia pun menjadi pilihan akhir dengan pembagian peran: lingkaran representasi dari pikiran yang dibentuk keluarga, kotak adalah pikiran yang dibentuk lingkungan, dan segitiga adalah momen di mana orang mulai memiliki idealisme dalam hidupnya. Selain “kepala” karakter, keunikan video ini juga berada pada penggunaan muted colors yang jarang digunakan dalam video komersial perbankan. Warna dalam video komersial ini memiliki saturasi yang rendah, menambah kesan mengerikan. “Soal warna, itu perdebatannya lumayan alot di tim,” cerita Ditra.

Dalam sebuah karya visual, warna memiliki peran yang krusial. Setelah melakukan proses produksi atau syuting proyek ini, tim sempat terbagi menjadi dua kubu. Satu kubu merasa hasil warna mentah —dari kostum, tata artistik, dan pencahayaan— dirasa bagus dan harus dipertahankan. Sedangkan kubu lain merasa bahwa ada kebutuhan untuk menurunkan saturasi warna agar dapat memunculkan emosi yang lebih dalam dan sejalan dengan konsep keseluruhan. “Diskusi ini menarik banget karena artinya semua yang kita desain di video ini memiliki makna. Akhirnya harus kita diskusikan lagi dengan teliti setiap detailnya dan kita memutuskan untuk memakai warna yang muted untuk mendukung narasi,” ungkap Ditra.

Ditra kemudian membongkar keunikan lainnya dari proyek Think Unthinkable yaitu perubahan font yang digunakan Jenius. “Jenius itu punya font sendiri namanya Jenius Sans. Di proyek ini, kita develop font sendiri jadi Jenius Serif,” jelas Ditra. Dalam perancangan font ini, Animal3 dibantu oleh Tokotype yang sebelumnya mengerjakan font Jenius Sans. Menurut penjelasan Ditra, perubahan font ini diajukan oleh tim Animal3 untuk menyesuaikan dengan konsep artistik Think Unthinkable. Setiap detail pun diperhatikan, seperti pada bagian ekor “unthinkable” yang memiliki garis diagonal ke atas.

Menutup perbincangan, tim Animal3 menceritkan bahwa proyek ini berjalan dengan lancar baik secara internal maupun eksternal dengan klien. Sebagai klien, Jenius pun mendukung ide progresif dari Animal3 untuk Think Unthinkable yang menjadi perbincangan di industri kreatif. Baik Jenius maupun Animal3 merasa senang dengan respons yang didapat setelah video ini rilis ke publik. Lewat proyek ini, Jenius ingin mengajak audiens untuk mempertanyakan kembali ke diri sendiri: Sudah sampai manakah diri kita berprogres dalam hidup ini? Apakah sudah sesuai dengan apa yang kita inginkan, atau malah mengikuti apa yang dibentuk di masyarakat? Setelah itu, diharapkan lebih banyak lagi orang yang berani mengambil langkah untuk sedikit demi sedikit mewujudkan apa yang diinginkan. Ajakan ini bukan hanya untuk para pengguna Jenius saja, namun juga untuk masyarakat luas yang ingin menemukan apa yang benar-benar diinginkan dalam hidupnya dengan cara yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya—seperti halnya Jenius, yang selalu membawa gebrakan baru dan melihat dari sudut pandang yang berbeda. Think Unthinkable juga merupakan semangat yang Jenius miliki sejak tujuh tahun lalu, saat pertama hadir dan mendisrupsi industri perbankan di Indonesia dengan menawarkan cara mengelola keuangan dan hidup dengan lebih simpel, aman, dan cerdas langsung dari smartphone. Fitur-fitur yang ada di Jenius juga dikembangkan dengan cara yang baru agar mampu menjawab pain points masyarakat yang belum bisa didapatkan dari perbankan konvensional. Dengan menekankan kembali semangat tersebut, Jenius percaya bahwa Think Unthinkable adalah sebuah langkah awal untuk mulai menjalani hidup yang kita mau. 

Slide-1
Slide-2
Slide-3
Slide-4
About the Author

Alessandra Langit

Alessandra Langit is a writer with seven years of diverse media experience. She loves exploring the quirks of girlhood through her visual art and reposting Kafka’s diary entries at night.

Let your work shine!

Your work takes center stage! Submit your final assignment here to be assessed by experts of the field.

Submit

Recomended Reading

Cover

Popomangun Discusses the Meaning of Home in the
ARTLOKA proudly presents Popomangun's solo exhibition, titled House of Home, which explores the personal meaning of home. In the curatorial text, Popomangun writes that home is a safe space for its inhabitants and a place where they are fully shaped as individuals. Speaking to Grafis Masa Kini, Popomangun revealed that this solo exhibition stems from his unease regarding his relationship with family, which shaped his perception of the meaning of home itself. Transitioning from living with parents to becoming a parent himself prompted Popomangun to create visual works centered around the concept of home. "Being a parent has no school or curriculum; thus, all behaviors and adaptations in the form of communication, anxieties, and warmth are actually recorded in the feelings and thoughts that we call home," expressed Popomangun.
The patterns and colors in Popomangun's works in the House of Home exhibition depict his memories of home. In terms of form, the houses in his works are drawn from various memories, including his relationships with his parents, in-laws, wife, and children. "All of these are illustrated in depictions of houses in various forms," explained Popomangun. The selection of warm and cool colors within the same frame reminds us of the emotional dynamics within a home. Memories in the corners of the house are translated by Popomangun into symbols and silhouettes unified within a single visual narrative. The curatorial text states that for Popomangun, aside from being representations of memories, these forms and patterns serve as both figures and landscapes depicting how he survives by building a "home" amidst the chaos of life.
Exhibition

11 days ago
Load More Article

Get ahead of the game with GMK+

Keep your finger on the pulse of the art and design world through newsletters and exclusive content sent straight to your inbox.