Makna: Mendorong Desain Grafis Melampaui Sekedar Pengalaman Visual

Sabtu (13/01) lalu, Makna merayakan 10 tahun berjalan dalam acara 10 Years of Makna di House of Makers, Jakarta. “Creative lab” ini sebenarnya mencapai umur satu dekade pada tanggal 1 Oktober silam dan memperingati tonggak sejarah tersebut dengan merilis buku mereka A Decade that Matters. Buku tersebut menunjukkan perjalanan Makna dari seorang desainer lepas hingga menjadi ekosistem kreatif yang kita kenal saat ini.

A Decade that Matters, seperti banyak buku profil studio lainnya, menguraikan berbagai pendekatan desain Makna dipadukan dengan karakter visual mereka dan disertai proses berpikir tim yang terus berkembang. Buku ini menggabungkan portofolio mereka yang mengesankan dengan keterampilan menyusun kata dari penulisnya, Aushaf Widisto. Selain merayakan kemajuan dan evolusi Makna, buku ini juga tidak segan-segan membahas masa-masa sulit—mengungkap momen-momen yang lebih rentan bagi perusahaan ini dalam membahas bagaimana tim berhasil melewati tantangan di sepanjang perjalanan panjang mereka.

Perihal alasan mereka memutuskan untuk memperingati dekade ini dengan buku, Ernanda Putra, Pendiri dan CEO Makna, menjelaskan, “Sebenarnya pengen sharing kalo nekatnya kita jaman dulu tuh ternyata masih bertahan sampai sekarang…Pengen ngasih liat kalo desain sebenarnya bisa diakses sama semua orang dan, kita enggak bilang kita juga contoh sih cuman at least kita bisa sharing pengalaman kita sepuluh tahun. Banyak cerita di situ yang kita pengen share yang kalo lu believe in design, creativity, itu enggak ada boundaries dan Makna salah satu contohnya aja.” Alexander Averil, Creative Director Makna, menambahkan, “Hopefully, ini bisa menjadi sebuah diary kita sih untuk suatu hari nanti orang bisa nge-recall dan kita sendiri juga bisa nge-recall, ‘Oh, iya kita pernah kayak gini!’ takutnya kita lupa juga,” dia bercanda. Buku ini menjelaskan secara rinci evolusi Makna dari studio desain hingga perusahaan dengan berbagai macam intellectual property yang kita kenal sekarang. Jelas bahwa Makna tidak tertarik untuk mencari ruang yang cocok untuk mereka, tetapi mereka justru selalu berusaha menciptakan ruang untuk diri mereka sendiri.

Bukan hal yang mudah untuk bertahan selama 10 tahun di industri apa pun. Namun untuk berkembang seperti yang Makna lakukan di industri kreatif tentu saja hal yang patut dipuji. Tampaknya ada satu buku yang cukup berpengaruh dalam filosofi Makna, yaitu Blue Ocean Strategy oleh Reneé Mauborgne dan W. Chan Kim. Strategi ini mengacu pada pasar dengan batasan aturan yang diketahui, Red Ocean, dibandingkan pasar dengan aturan dan batasan yang tidak diketahui, Blue Ocean. Dalam istilah awam, strategi ini menekankan potensi yang belum dimanfaatkan dalam menciptakan pasar Anda sendiri dibandingkan berjuang untuk mendapatkan perhatian di pasar yang sudah ramai. Implementasi strategi Makna tersebut sangat jelas seiring dengan berkembangnya perusahaan ini dari “laboratorium kreatif multidisiplin kecil” menjadi Makna Group®, yang terdiri dari beberapa intellectual property termasuk Makna Coffee®, Makna Talks®, Makers by Makna®, dan MaknaVerse®. 

Zoom

Kemampuan Makna untuk membuat ruang bagi dirinya sendiri dan keberanian adalah aset terbesar mereka seperti yang dikatakan Alexander, “Gue paling bangga ya kita [ber]evolusi secara orang dan mengambil decision yang lebih beresiko kali, ya.” Nanda menambahkan, “Sama kita berani keluar dari comfort zone kita sendiri, ya. Sebagai studio, terus tiba-tiba kita nekat bikin IP, bikin brand. Sebenarnya yang bikin kita gede itu community, jadi akhirnya kita balikin lagi, kita bikin karya ya buat community.” Pemusatan komunitas ini dimulai sejak awal berdirinya Makna, dengan minat Nanda yang tajam terhadap pembangunan komunitas dan keberanian dalam menjelajahi medan baru. Sebelum Instagram memantapkan dirinya sebagai raksasa media sosial, Ernanda, yang lebih dikenal dengan Nanda, sudah mulai terlibat dan membangun komunitas di platform tersebut melalui pertemuan seperti Instameet. Pertemuan komunitas tersebut di Bromo kemudian ditampilkan di halaman resmi Instagram.

“Ini kita baru mulai karena kita ngerasa ‘oh ternyata sepuluh tahun kebelakang yang kita build itu banyak pelurunya’,” jelas Nanda mengenang kembali satu dekade terakhir. “Terus kendaraannya udah kita build tinggal gimana caranya kita gas nih, gimana caranya kita grow masing-masing dari IP yang kita bikin,” ia lanjut. Alexander juga menjelaskan bagaimana mereka selalu berupaya untuk mendorong desain grafis melampaui sekedar pengalaman visual. ”Bagaimana desain grafis bisa di minum bisa di pakai di dengar, jadi komunikasi visual kita, DKV-nya akhirnya kita kembangin terus dan hopefully, dari House of Makers, kita bisa grab lebih banyak communities.”

Baik Nanda maupun Alexander masih mempunyai cita-cita besar untuk Makna ke depan melampaui 10 tahun ke depan. “Mimpinya sih Makna jadi punya semua orang. Gue nggak tau kita lagi jalannya mungkin bikin lebih banyak event community terus lebih banyak brand-nya bisa jadi milik semua orang,” ujar Nanda. 

Slide-1
Slide-2
Slide-3
Slide-4
Slide-5
Slide-6
Slide-7
Slide-8
About the Author

Kireina Masri

Kireina Masri has had her nose stuck in a book since she could remember. Majoring in Illustration, she now writes, in both English and Indonesian, of all things visual—pouring her love of the arts into the written word. She aspires to be her neighborhood's quirky cat lady in her later years.