John Navid Bicara soal Gelagat Kehidupan Urban dalam Pameran Tunggalnya

Pigura-pigura antikmemenuhi ruang pamer RUBANAH Underground Hub dalam pameran tunggal John Navid, Menangkap gelagat, yang dikuratori oleh Grace Samboh. Tangkapan keseharian dalam karya fotografi John—yang juga dikenal sebagai penabuh drum di band White Shoes & the Couples Company—memantik kesadaran akan gelagat-gelagat yang setiap harinya kita temukan di sekitar. Dalam teks kuratorial pameran, Grace menuliskan, “Kata ‘gelagat’ kami sepakati sebab ia mewakili kebanyakan foto John. Mudah untuk menautkan foto-foto John pada kategori street photography sebab kesan yang segera muncul saat mengamati hasil-hasil tangkapan John adalah ‘candidness’.” Lebih lanjut, sang kurator mencatat bahwa ia belum menemukan padanan kata candid dalam Bahasa Indonesia. Secara konteks, menurut penjelasan Grace, candid sendiri memiliki arti foto yang diambil secara informal dan tanpa sepengetahuan subjek. Menarik garis dari konteks tersebut, sang kurator merasa kesan “apa adanya” dari candidness lebih menggambarkan karya seorang John Navid dibandingkan makna harafiah dari candid itu sendiri. Di tengah hiruk-pikuk Jakarta Pusat menjelang Lebaran, John Navid berbagi kepada Grafis Masa Kini tentang cerita di balik foto-fotonya dan kecintaan pada barang-barang vintage yang memengaruhi kekaryaannya.

Berbicara soal gelagat, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata benda tersebut dapat diartikan sebagai gerak-gerik—sesuatu yang sangat lekat dengan keseharian. Sebagai seorang fotografer, John Navid mengakui bahwa sedari dulu ia menemukan kesenangan saat memotret gerak-gerik di jalanan. Di lain sisi, John Navid juga memproduksi foto-foto editorial nan konseptual seperti kolaborasi Calvin Klein dengan Monita Tahalea, sampul album untuk musisi Adhitia Sofyan, Indra Perkasa, Indische Partij, Good Ol’ Dreams, dan grupnya sendiri, White Shoes & the Couples Company. Namun, dalam pameran tunggalnya kali ini, John Navid ingin berbagi tangkapan momen di kesehariannya yang sederhana dan apa adanya. 

Menurut keterangan sang fotografer, ada hampir seribu foto yang ia serahkan kepada Grace Samboh untuk disortir dan dikurasi ke dalam beberapa segmen yang terbagi di ruang pameran. Di dekat pintu masuk, pengunjung akan dikejutkan dengan kehadiran patung penyambut yang berdiri di sudut ruang—menjaga sebuah meja dengan album di atasnya yang berisikan kumpulan foto orang-orang yang sedang merokok. Bergeser sedikit, pengunjung dapat melihat kumpulan potret orang-orang yang ditangkap hanya setengah badan. Di sampingnya, ada satu bingkai besar dengan potret hitam-putih yang menangkap momen potongan ayam yang sedang dimasak. Menutup rangkaian karya di satu sisi ruang pamer, ada sekumpulan tangkapan gerak-gerik tangan dan kaki. Menuju ke sisi seberangnya, John Navid menampilkan dua bingkai besar untuk foto anamorfik yang ia “belah” masing-masing menjadi dua bagian. Objeknya pun sangat menarik perhatian siapa saja yang melihat—gedung hunian layaknya rumah susun dan kepala botak dengan seekor lalat yang hinggap di atasnya. Bergeser sedikit, John menangkap momen orang-orang di ruang kerja. “Tempat kerja tidak hanya indoor tapi juga outdoor, makanya ada potret orang-orang jualan. Lalu, ada juga toko furnitur, buku bekas, tempat duplikat kunci, tempat bakmi, dan servis jam,” jelas John. Menutup sisi ini, John menghadirkan rangkaian potret interaksi antar manusia. “Entah tukang bajaj dengan ibu-ibu, pasangan yang sedang karaoke, orang-orang yang main catur, interaksi penjual toko emas, dan ada juga dua orang saling melirik yang ada di dalam frame TV,” lanjut John. Jika tidak memberikan perhatian sepenuhnya, pengunjung dapat melewatkan satu karya yang tersembunyi di bagian langit-langit ruang pamer.

Zoom

Ada satu elemen dalam pameran yang disampaikan secara berulang oleh John: frame atau pigura vintage. Karya-karya yang dipamerkan dalam Menangkap gelagat dibingkai secara apik menggunakan pigura koleksi sang fotografer. “Semua frame, kecuali ada yang kurang, adalah koleksi gue. Ada yang dari kayu jati, aluminium, frame-frame tua yang bisa gue temui di rumah. Gue sebelumnya memang sudah koleksi frame vintage,”ungkap John. Di tengah ruangan, ada satu pigura kosong yang digantung dan dapat direspons oleh pengunjung. John menjelaskan, “Itu aslinya frame buat lukisan China atau Chinese scroll painting. Tapi, di sini gue pakai untuk bingkai foto. Kolektor-kolektor bilang ini frame Lee Man Fong, pelukis peranakan Tiongkok di era Soekarno.” Barang-barang vintage, tak terkecuali pigura, merupakan ciri khas John Navid. Dalam pameran tunggal ini, karakter sang fotografer pun tercermin pada instalasi DJ booth yang berada di sudut ruang. Mata pengunjung dimanjakan dengan barang-barang vintage seperti kursi dan speaker berbentuk bola-bola yang tersusun menghiasi satu bingkai besar foto seorang tukang servis jam yang sedang menggunakan kaca pembesar. “Gue kasih speaker yang gantung ada enam buah untuk memperkuat area foto tersebut, seakan-akan dia (subjek foto) melihat ke arah bola-bola. Gue juga kebetulan lagi suka speaker bentuk bulat,” jelas John.

Ketertarikan John Navid pada barang-barang vintage tumbuh setelah ia bergabung dengan grup White Shoes & the Couples Company yang musiknya membawa pendengar kembali ke era lawas. Seiring perjalanan grup tersebut ke berbagai kota bahkan negara, John menemukan barang-barang vintage yang menurutnya memikat. “Barang-barang keren itu menurut gue ya vintage,” ungkapnya. Menurut John, desain dari barang-barang vintage dipikirkan dengan matang, sehingga produk yang diciptakan berumur panjang atau timeless. John menuturkan, “Barang vintage itu enggak cepat rusak. Kalau bisa, barang-barang ini gue fungsikan untuk kehidupan sehari-hari, seperti lensa tua, jam analog, mobil tua, dan kursi.” Cerita pertemuan John dengan barang-barang vintage pun beragam, mulai dari grup WhatsApp hingga perjalanan-perjalanan yang mempertemukannya dengan berbagai subjek fotonya dalam pameran Menangkap gelagat ini. “Karya-karya di pameran ini adalah foto-foto yang gue ambil dari tahun 2015 sampai 2022. Proses pengambilan foto ini ya perjalanan gue sehari-hari waktu mencari barang-barang vintage. Misalnya ketika gue ke Pasar Baru buat beli lensa, nyari makan, gue ketemulah dengan orang-orang yang ada di foto gue yang gue ambil dengan kamera analog dengan lensa vintage koleksi gue dan kamera digital,” cerita John.

Setiap momen yang “dibekukan” John lewat foto-fotonya pun memiliki cerita yang berbeda. Subjek yang terlihat dalam pameran ini kebanyakan adalah orang-orang asing yang ditemui John di jalan. Mungkin, ada sebagian orang yang mempertanyakan bagaimana proses memotret subjek secara candid—apa adanya—tanpa melewati batas privasi. Bagi John yang hampir setiap hari membawa kamera, intuisi mengenai gestur-gestur penolakan maupun penerimaan dari subjek sudah terbangun dan terlatih sejak lama, sehingga proses pengambilan gambar berjalan secara naluriah. “Kebanyakan prosesnya langsung ambil saja. Mereka gesturnya enggak menolak untuk difoto. Ada feeling sendiri kalau (subjek) ini bisa difoto atau enggak. Kebanyakan orang yang baru sadar kalau difoto malah minta untuk difoto lagi,” ungkap John. Subjek foto-foto John juga didominasi oleh orang-orang lanjut usia karena, menurut John, mereka cuek dan lebih apa adanya. Namun, tak semua proses pengambilan foto diambil secara tiba-tiba, beberapa karya lahir dari hasil obrolan dan kenyamanan yang tumbuh antar fotografer dan subjek. “Ada juga yang ngobrol dulu. Waktu itu lagi benerin kamera, ternyata dia (subjek) dulu seorang fotografer di studio polaroid terbaik, katanya. Waktu itu kebetulan gue lagi senang polaroid. Setelah ngobrol panjang, akhirnya (subjek) gue foto. Ada juga waktu itu lagi makan di restoran, lantai duanya ada karaoke yang isinya bapak-bapak dan ibu-ibu yang bawa CD sendiri. Mereka bayar 20 ribu bisa nyanyi sepuasnya tapi ganti-gantian. Mereka yang nunggu giliran jadi penonton, yang nyanyi senang juga ditonton,” cerita John, mengenang cerita di balik foto-fotonya.

Setelah mengelilingi ruang pameran dan mempelajari karya-karya John Navid, ada benang merah yang merajut narasi dari setiap segmen dan bingkai karya: perkotaan dan kehidupan urban. “Gue lebih tertarik dengan kehidupan urban karena menurut gue lebih bergairah. Seperti musik, setiap kota itu punya temponya masing-masing; ada yang cepat, ada yang lambat. Di kota itu tempo kehidupannya begitu cepat, bisa tiba-tiba sepi, tiba-tiba ramai, tiba-tiba momennya hilang. Nah, foto-foto ini kan menangkap momen yang tidak bisa diulang lagi,” ungkap John. Dalam kekaryaannya, sedari dulu John menyukai keberadaan subjek manusia dalam fotonya. Sebagai fotografer, John merasakan energi kehidupan dan nafas yang diembuskan manusia ke dalam karya-karyanya. Cara John melihat perkotaan juga dibentuk dari kesehariannya sebagai masyarakat urban. “Ini jalur sehari-hari gue, keseharian gue, dan itulah yang ingin gue share. Ternyata, memang setiap hari view gue seperti ini (urban).” Menangkap momen-momen keseharian memberikan kesenangan tersendiri bagi John. Proses ini pun memungkinkan John untuk mengabadikan hal-hal atau momen yang kini telah tiada. “Misalnya, subjek yang gue foto sekarang sudah enggak ada, bangunan yang sudah enggak ada, atau misalnya seperti eksistensi metromini yang sekarang sudah enggak ada. Kesenangan ini juga bisa gue bagi ke orang-orang karena itulah inti dari mendokumentasikan sesuatu,” kata John. Karya-karya dalam pameran ini tentu saja masih sekelompok kecil dari ribuan karya foto yang dimiliki John. Ke depannya, John berencana untuk memamerkan foto-foto yang diambilnya dari tahun ke tahun, tentunya dengan koleksi pigura vintage yang berbeda. Pameran Menangkap gelagat di RUBANAH Underground Hub, Menteng, masih bisa dikunjungi publik sampai 28 April mendatang.

Foto oleh M. Revaldi

Slide-1
Slide-2
Slide-3
Slide-4
Slide-5
Slide-6
Slide-7
Slide-8
Slide-9
Slide-10
Slide-11
Slide-12
About the Author

Alessandra Langit

Alessandra Langit is a writer with seven years of diverse media experience. She loves exploring the quirks of girlhood through her visual art and reposting Kafka’s diary entries at night.