Memahami Dunia lewat Desain Grafis bersama Hezin O

Karya-karya desainer grafis yang berbasis di Seoul, Hezin O, menonjolkan pandangan inovatif dan tingkat keahlian canggih yang tak terbantahkan. Dimulai dengan kecintaan sederhana pada buku komik sejak masa kecilnya, Hezin kini telah membangun karier yang kuat dan mengesankan sebagai desainer grafis dengan banyak publikasi, identitas grafis, dan ilustrasi yang dipamerkan. Tahun lalu saja, Hezin meraih penghargaan Best Book Design from the Republic of Korea 2023 untuk majalah l’idiot utile edisi 0 yang diprakarsai oleh Hubert Crabières, di Seoul International Book Fair. Dia juga salah satu dari segelintir desainer yang terpilih menjadi anggota Alliance Graphique Internationale (AGI) pada tahun 2023, satu dari dua desainer yang berasal dari Korea Selatan.

Sudah lama sejak ia lulus dari jurusan Desain Komunikasi Visual di Hongik University pada tahun 2010. Tentu saja, setelah sekian lama bekerja sebagai desainer, sikapnya terhadap desain grafis secara umum telah berubah. “Awalnya, saya merasa tidak berdaya karena (waktu itu) saya melihat desain grafis hanyalah tentang bagaimana membuat konten terlihat bagus,” Hezin memulai, “Tetapi jika dipikir-pikir sekarang, itu adalah pemikiran yang lahir dari ketidaktahuan sepenuhnya. Sekarang, desain grafis adalah mata pencaharian saya dan alat untuk memahami dunia. Topik atau konten yang saya liput berbeda-beda setiap saat, maka saya mencoba melakukan banyak penelitian ketika saya bekerja. Jadi, saya selalu belajar banyak melalui prosesnya dan itu menyenangkan.” Pada tahun 2020, Hezin lulus dari program S2 Desain Komunikasi Visual di University of Seoul.

Kecintaannya pada buku dan komik terus berlanjut sebagaimana dibuktikan dengan foto studionya yang terlihat di situs webnya: rak-rak yang penuh dengan berbagai macam buku. Membaca buku juga masih memengaruhi pekerjaannya sebagai desainer. “Saya sangat suka membaca buku. Saat mengerjakan sebuah proyek, saya mencoba melakukan berbagai penelitian terkait konten. Desain grafis sendiri selalu membahas konten yang berbeda, hal ini sangat menarik karena pekerjaan ini jadi dapat dilakukan sambil mempelajari berbagai aspek dalam masyarakat.”

Pada tahun 2014, empat tahun setelah kelulusannya sebagai sarjana, Hezin mendirikan studio desain grafisnya yang bernama OYE. Dengan tahun ini yang menandai satu dekade sejak studio tersebut didirikan, OYE tetap menjadi proyek solo Hezin. “Ukuran kantornya tetap sama, namun sifat proyek dan hubungan di sekitar pekerjaan telah berkembang secara signifikan,” katanya. Seperti semua studio desain grafis, Hezin sempat mempertimbangkan apakah akan memperluas tim OYE dan skala pekerjaan yang dilakukan atau tidak. Namun, ia merasa bahwa bekerja secara individu dalam proyek-proyek skala kecil adalah cara kerja yang terbaik baginya karena hal ini memberinya lebih banyak fleksibilitas—memungkinkannya untuk secara bebas bergabung dalam kolektif dan menentukan di mana, kapan, dan bagaimana ia bekerja. “Dalam beberapa hal, ini lebih terasa seperti aktivitas seniman daripada studio karena sebagian besar pekerjaan yang saya lakukan adalah proyek yang bergantung pada interpretasi pribadi saya. Saat ini, sebagian besar klien mengetahui dan mempercayai pekerjaan saya dan ingin mempercayakannya kepada saya. Selain itu, seiring dengan kemajuan karier, saya tidak hanya sebatas membuat suatu hal, tetapi juga semakin banyak kesempatan untuk bertukar pikiran dan belajar bersama melalui pameran, diskusi, dan lokakarya,” jelasnya lebih lanjut.

Zoom

Hezin terus mendorong pekerjaannya, selalu berusaha untuk menghadirkan sesuatu yang baru. “Meski kecil, selalu ada tantangan (di setiap proyek) karena saya punya kecenderungan kuat untuk sebisa mungkin menerapkan metode atau ide yang belum pernah dicoba sebelumnya. Tapi, saya rasa itulah mengapa saya bisa tumbuh dan belajar sedikit demi sedikit.” Hal tersebut jelas terlihat dari semua proyek Hezin—salah satu contohnya dapat dilihat pada desain untuk terjemahan bahasa Korea buku Requiem for a Manual Typewriter oleh sutradara film Jonas Mekas. “Buku ini bercerita tentang Jonas Mekas yang menulis di mesin tik hingga kehabisan kertas setelah menemukan seikat kertas menggelinding di sekitar rumah. Ketika saya pertama kali mulai mendesain buku ini, yang langsung terpikir oleh saya adalah saya tidak ingin menggunakan font mesin tik. Saya ingin mengungkap sifat-sifat mesin tik dalam struktur buku dengan cara yang lebih metaforis dan konseptual,” jelas Hezin.

Hezin menyusun konten dengan menunjukkan semakin banyak teks yang terkandung dari bagian bawah halaman saat kita membuka buku secara bertahap—meniru pengalaman visual membaca tulisan yang muncul saat sedang mengetik di mesin tik. “Bentuk ini merupakan cara mengungkap kesementaraan tulisan ini, yaitu menulis sampai satu gulungan kertas habis. Oleh karena itu, saya membuat struktur di mana setiap baris teks bertambah seiring kita membalikkan halaman, dan saya berencana untuk menempatkan teks hanya di halaman kanan sehingga pertambahan baris teks seiring pembalikan kertas dapat terlihat lebih jelas. Jadi, saya cenderung tidak hanya memahami desain grafis dari wujud kasat mata saja, tapi saya suka berproses secara kritis dengan perspektif holistik seperti struktur, bentuk, seleksi, metode, dan sikap,” jelas Hezin.

Hezin juga telah bekerja secara ekstensif dengan Korean Society of Typography. Organisasi ini berganti tangan kepengurusan setiap dua tahun dan dari awal tahun 2022 hingga akhir tahun 2023, Hezin bersama rekan desainer Shin Dokho bekerja sebagai bagian dari tim pertukaran internasional organisasi ini. Hezin mengenang, “Saat itu, kami mendapat ide untuk meliput berbagai masalah melalui orang-orang yang memiliki koneksi, dengan fokus pada Korea. Jadi, kami meliput isu-isu seperti kisah desainer Korea yang bekerja di luar negeri, atau sebaliknya, kasus desainer asing yang bekerja di Korea, tur ke pameran Hallyu: The Korean Wave yang diadakan di V&A di Inggris, dan Bangkok Art Book Fair. Desainer Shin Dokho dan saya bekerja sama dalam perencanaan, dan total enam terbitan diproduksi. Masing-masing dari kami bergiliran mendesain dan saya merancang edisi dua, empat, dan enam.”


Meskipun Hezin bukanlah seorang desainer font, dia dengan mahir memanfaatkan tipografi dalam karyanya. Tentu saja Hangul, atau alfabet Korea, memiliki tantangan dan keperluan tipografi yang berbeda dengan alfabet Latin. Ketika ditanya tentang hal-hal khusus dalam bekerja dengan Hangul, Hezin menjelaskan, “Ini adalah cerita yang sangat kecil, tetapi karena Hangul adalah huruf persegi, ketika dicampur dengan bahasa Inggris, cenderung terlihat sedikit lebih besar daripada alfabet Latin. Selain itu, meskipun ukuran font-nya sama, jika spasi baris yang sama diterapkan, alfabet Latin tampaknya memiliki lebih banyak ruang, sehingga detailnya sering kali disesuaikan secara berbeda saat menyusun versi Korea dan Inggris. Selain itu, secara umum, kami hanya menerapkan font Hangul pada huruf Hangul dan font Latin pada huruf dan angka Latin. Dengan kata lain, bahkan dalam satu paragraf, berbagai font digabungkan dan diketik. Ada banyak hal menarik di dalamnya, jadi terkadang ide grafis yang memanfaatkan ranah ini sengaja diekstraksi.”

Salah satu contoh karya Hezin yang memanfaatkan font adalah desainnya untuk pameran Tic-Tock pada tahun 2019. Ia menjelaskan, “Pameran ini adalah pameran dari sudut pandang penyakit yang menyebabkan rasa sakit yang tidak terduga dalam kehidupan sehari-hari. Demi menunjukkan pengalaman penyakit kronis yang tidak terduga dengan membandingkannya dengan pengalaman biasa, saya menggunakan SM Shinshin Myeongjo (SM 신신명조) dalam Hangul agar mudah dibaca, lalu menerapkan Beretta Sans pada semua huruf kecuali Hangul untuk sengaja mengganggu keterbacaan.”

Setelah 14 tahun berkecimpung dalam industri ini, Hezin telah menjadi saksi perubahan dan perkembangan lanskap desain Korea Selatan. Hezin pertama kali terjun ke karier profesionalnya pada tahun 2010 setelah periode di akhir tahun 2000an ketika banyak praktisi desain Korea yang telah belajar di luar negeri mulai kembali ke negara tersebut. Oleh karena itu, ia ingat bahwa meskipun ia pernah belajar desain di Korea Selatan, ia mendapati dirinya menemukan banyak pengaruh dari luar negeri. “Dan yang terpenting,” kenang Hezin, “Diperkenalkannya smartphone pertama pada tahun 2007, Facebook, dan Instagram telah memberikan pengaruh yang besar terhadap perolehan informasi. Bahkan para desainer yang baru lulus pun kini bisa mempromosikan karyanya melalui jejaring sosial, dan perusahaan belum tentu mempercayakan pekerjaannya kepada agensi besar. Kolaborasi dan cara kerja menjadi lebih beragam.” Mengingat hal ini, Hezin juga merasa bahwa membahas desain berdasarkan batas negara dengan media sosial yang memungkinkan siapa saja dan semua orang untuk berbagi usaha kreatif mereka secara global adalah hal yang tidak lagi diperlukan. “Ini karena saya yakin referensi dalam semua karya dicampur tanpa batas. Jadi rasanya agak sulit untuk mengatakan bahwa desain Korea berbeda dengan tempat lain,” ujar Hezin.

Meskipun sejauh ini Hezin lebih banyak terlibat dalam pekerjaan berbasis cetak, ia pun tertarik untuk mencoba bekerja dengan objek sebagai medianya serta mungkin mengerjakan proyek berskala lebih besar. “Saya sedang mempelajari sejarah desain akhir-akhir ini. Saya percaya segala sesuatu di masa sekarang diciptakan di bawah pengaruh masa lalu,”  katanya. “Oleh karena itu, jika kita tidak mengetahui sejarah, ada risiko besar terjadinya kekaguman yang fana, dan pada saat yang sama, saya merasa kita perlu mengetahui masa lalu untuk memikirkan masa depan.”

Slide-1
Slide-2
Slide-3
Slide-4
Slide-5
Slide-6
Slide-7
Slide-8
About the Author

Kireina Masri

Kireina Masri has had her nose stuck in a book since she could remember. Majoring in Illustration, she now writes, in both English and Indonesian, of all things visual—pouring her love of the arts into the written word. She aspires to be her neighborhood's quirky cat lady in her later years.