Grafis'80 Membuka Perayaan 25 Tahun Compass®

Kembali ke tahun 1980. Bertempat di Lingkar Mitra Budaya, Jakarta, pameran Grafis‘80 berlangsung pada 24 September sampai 1 Oktober. Grafis‘80 menjadi pameran perdana Ikatan Perancang Grafis Indonesia (IPGI)—cikal bakal Asosiasi Desainer Grafis Indonesia (ADGI). Pembukaan pameran pada 24 September tersebut sekaligus menjadi momen peresmian IPGI yang sebelumnya sudah dibentuk pada 25 April 1980. Pameran yang diikuti oleh 47 perancang grafis ini menampilkan hal-hal yang familier bagi khalayak, seperti logo, kartu ucapan, poster, kartu nama, kuitansi, brosur, dan lain-lain. Hal itu hendak menyampaikan bahwa praktik perancangan grafis sejatinya begitu dekat dengan keseharian dan menjangkau banyak elemen kehidupan.

Ada dua hal yang ingin diperkenalkan kepada audiens yang lebih luas lewat pameran ini. Pertama, IPGI sebagai wadah bagi desainer grafis di Indonesia. Kedua, perancangan grafis baik secara praktik maupun keprofesian. Semangat kolaborasi, kebersamaan, dan keinginan untuk terus tumbuh ini yang kemudian diserap oleh Compass® dalam perayaan 25 tahun berkarya. Bekerja sama dengan ADGI, Compass® menghadirkan 25 rancangan sepatu karya 25 kolaborator dari desainer grafis dan studio desain grafis di Indonesia. Sebagai gong pembuka, Compass® akan merilis dua model sepatu yang dikembangkan dari poster pameran Grafis‘80 karya Tjahjono Abdi. Perancangan sepatu dilakukan oleh tim ADGI dan material serta teknik produksi ditentukan oleh tim Compass®.

Muhammad Imaduddin, Sekretaris Jenderal ADGI, menjelaskan bahwa poster pameran Grafis‘80 karya Tjahjono Abdi merupakan sebuah momen krusial bagi desain grafis di Indonesia dan merupakan tonggak perkembangan komunitas kreatif yang meleburkan berbagai perbedaan sudut pandang di antara desainer grafis di Indonesia untuk satu tujuan yang lebih luas, yaitu menumbuhkan kesadaran publik terhadap peran desainer grafis di Indonesia. Ia beranggapan bahwa hal tersebut sejalan dengan kolaborasi Compass® dengan ADGI dalam mengemas dan menyajikan kembali peran desainer grafis Indonesia melalui produk yang dapat dinikmati oleh masyarakat luas.

Zoom-2

Tahap mengalihmediakan poster dan produksi sepatu tersebut diawali dengan mereproduksi poster asli Grafis‘80. Hamzah Pramana, Product and Development Manager Compass®, menjelaskan bahwa proses penduplikasian dilakukan secara manual untuk mendapatkan format digital dari poster fisik tersebut. “Semua komponen di sepatu ini tidak menggunakan bahan kanvas yang sudah berwarna. Kami buat benar-benar dari nol, dari bahan kanvas seperti kertas berwarna putih lalu kami beri warna sampai komponen-komponen terkecilnya. Itu yang akhirnya membentuk upper design atau desain bagian atas sepatunya,” ia menuturkan soal pemilihan material.

Aji Handoko, Chief Executive Officer Compass®, mengatakan bahwa sepatu tersebut diproduksi melalui dua teknik cetak. “Jadi, dimulai dari kami mengeset gambar layer pertama yaitu gradasi untuk ditempelkan pada vamp dan print ini dilakukan size by size, component by component supaya kami bisa menampilkan gradasi tepat di ukuran yang kami mau. Lalu gambar tersebut dicetak pada kanvas organik. Jadi, sebenarnya teknik ini dinamakan direct print. Sejenis sublim, tapi tanpa harus di-press,” Aji menjelaskan. “Setelah kami print satu per satu, kemudian kami potong. Potongan vamp tersebut lalu kami sablon secara manual gambar pensil Grafis‘80.”

Compass® berupaya untuk memproduksi sepatu berdasarkan rancangan para desainer. Begitu pula dengan sepatu Grafis‘80. Terdapat dua desain sepatu sesuai dengan poster pameran Grafis‘80. Warna dan prinsip desain poster pameran Grafis‘80 itu pun dipertahankan dalam produksi sepatu oleh tim Sepatu Compass®. “Dua layer objek pensil dan direct print itu dilakukan supaya ada kesan layering dan tetap bagus di sepatu. Oleh karena itu, background gradasinya dikejar dengan teknik direct print. Kalau direct print biasa juga akan menyebabkan tinta turun karena menyerap. Jadi Compass® menggunakan material khusus, yaitu kanvas organik supaya tinta enggak turun warnanya, sehingga bisa mempertahankan kesan vibrant-nya sesuai dengan posternya,” Aji menjelaskan.

Zoom-1

Sepatu Grafis‘80 akan dirilis dan tersedia bagi publik dalam waktu dekat di toko daring Compass®. Koleksi ini diproduksi sebanyak 500 pasang. Sedangkan, 24 rancangan sepatu lainnya dalam perayaan 25 tahun Compass® ini akan dikenalkan kepada publik dalam sebuah pameran. Direktur Kode Etik Profesi ADGI, Seto Adi, memaparkan proses pelibatan 25 desainer grafis pada proyek kolaborasi ini dimulai lewat proses kurasi. Ia menjelaskan ada beberapa hal yang menjadi bahan pertimbangan, yaitu karakter, kredibilitas dan reputasi sebagai desainer grafis profesional, dan kepekaan dalam bereksplorasi pada media serta ruang yang baru. Selain Tjahjono Abdi, kolaborator yang terlibat adalah 7per8 Studio, Another Design Company, Cipsi Studio, Dassein Design Bureau, DEIO, Gema Semesta, kamengski, Karyarupa, Mata Studio, Milestone Indonesia, Nusaé, POT Branding House, SatuCollective, Sciencewerk, Studio 1212, Studio Woork, Suka Studio, SUNVisual, SWG Design, Thinking*Room, Tiny Studio, Tokotype, Visious, dan ZOU.

Aji mengatakan bahwa Compass® ingin menjadi wadah bereksplorasi. Menurutnya, segala kolaborasi yang diinisiasi oleh Compass® berawal dari hal-hal terdekat dan ditemui di keseharian. Begitu pula pada kolaborasi bersama ADGI. Kedekatannya dengan praktik desain grafis menjadi pintu menuju proyek ini. Lewat kolaborasi ini, Compass® ingin menyoroti semangat ADGI dan sejarah panjang desain grafis Indonesia serta turut mengangkat praktik desain grafis tanah air. Ritchie Ned Hansel, Ketua Umum ADGI, menyampaikan hal senada. Bagi Ritchie, kolaborasi ini adalah salah satu upaya memasyarakatkan praktik desain grafis dan menekankan betapa cair dan dekatnya praktik tersebut pada keseharian.

Slide-1
Slide-2
Slide-3
Slide-4
Slide-5
Slide-6
Slide-7
Slide-8
Slide-9
Slide-10
Slide-11
About the Author

Daud Sihombing

Daud Sihombing has been writing professionally for the past 9 years. This fervent alternative publishing enthusiast prefers his quaint little town over the hustle and bustle of the city and doesn't let sleep stop him from watching every single AS Roma match.