Mendesain Ruang dengan Praktik Berkelanjutan Bersama .this/PLAY

Rancangan spasial, pameran, produksi, dan panggung, hingga penanganan karya atau art handling adalah lingkup desain yang ditekuni secara mendalam oleh .this/PLAY, sebuah studio yang berbasis di Jakarta dan berdiri sejak 2015. Tak heran, setiap tahunnya, nama .this/PLAY terpampang di berbagai pameran seni dan festival musik bergengsi. Sentuhan tangan .this/PLAY selama ini meningkatkan kesadaran ruang dan pengalaman menikmati karya seni bagi pengunjung dari berbagai lapisan masyarakat. Tak hanya itu, praktik desain .this/PLAY juga mempertimbangkan dampak sosial dan lingkungan dengan mendukung desain berkelanjutan. Mengenal studio ini dan praktik desainnya lebih dalam, Grafis Masa Kini berbincang dengan Sigit D Pratama, founder dari .this/PLAY.

Kilas balik saat .this/PLAY pertama lahir, Sigit awalnya masih bekerja sebagai fotografer yang sering berpameran. Hari-harinya di ruang pamer membuat Sigit menyadari bahwa masih banyak hal yang harus diperbaiki dalam sistem dan praktik  berpameran di Indonesia, seperti standar kerapihan, ukuran karya, hingga arah pencahayaan. Keresahan Sigit tersebut menjadi landasan awal terbentuknya .this/PLAY. “Kemudian, .this/PLAY lahir karena museum temporer Rekoleksi Memori oleh Dewan Kesenian Jakarta di Taman Ismail Marzuki. Tempat dan teknis pasangnya tidak umum, jadi gue merasa tertantang untuk bawa nuansa galeri ke ruang outdoor dengan dinding yang tidak permanen. Gue belajar banyak dari pameran itu,” kenang Sigit. Kegelisahan Sigit dengan pameran yang tidak memenuhi standar dan pedoman pameran yang seharusnya, baik dari ruang maupun bagaimana karya dipresentasikan, menjadi dorongan untuk menggerakan praktik-praktik desain ruang dan karya yang .this/PLAY kerjakan hingga saat ini. Selain itu, Sigit juga percaya bahwa pameran seharusnya dapat memberikan pengalaman tersendiri bagi siapa saja yang berada di ruangnya. “Harusnya, suatu pameran itu bisa lebih appealing, bagus, dan membangun experience; harusnya bisa mewakili karya yang dipamerkan; dan seharusnya, pencahayaan itu termasuk suasana yang sangat-sangat berpengaruh ke pameran—bukan hanya ‘astrada’ (asal terang, gambar ada).”

Awalnya, .this/PLAY hanya berfokus pada art handling—praktik menata karya yang baik dengan teknis pasang yang benar, pencahayaan yang tepat, dan mengukur semua bidang dan karya dengan mengikuti standarisasi yang ada. Seiring berjalannya waktu, .this/PLAY yang berangkat dari tiga orang, kini telah berkembang menjadi 30 karyawan in-house dengan tiga sektor utama: designers, art handlers, and art builders. Alih-alih melupakan misi ketika studio sudah bertumbuh, .this/PLAY selalu kembali ke akar mereka yaitu memperhatikan dampak sosial, dengan membuka kesempatan yang lebih luas dan melampaui sistem rekrutmen studio pada umumnya. Pengalaman Sigit sebagai relawan pengajar di beberapa sanggar seperti Sanggar Anak Akar, Sanggar Anak Harapan, dan berapa sanggar lainnya, mendorongnya untuk memberi kesempatan pada anak-anak jalanan untuk dilatih agar memiliki kemampuan art handling dan menjadi bagian dari tim .this/PLAY.

Zoom-1

Saat ditanya mengenai bagaimana .this/PLAY “menyajikan” karya dengan cara yang tidak konvensional dan berbeda, Sigit menegaskan bahwa itu bukanlah fokus utamanya, namun bagaimana karya bisa dipresentasikan dengan cara yang benar dan selaras dengan apa yang ingin disampaikan. “Contoh sederhana, karya video atau multimedia yang hingar bingar akan sangat aneh kalau disandingkan dengan karya lukis yang membutuhkan ketenangan untuk merefleksikannya, kecuali kalau karya video dan lukis itu beririsan. Dalam eksekusinya, kami menyesuaikan proporsi ruang terlebih dahulu, baru kemudian ruang itu kami pikirkan untuk mampu menampilkan setiap karya dari berbagai sudut,” jelasnya. Gagasan-gagasan .this/PLAY yang menantang presentasi karya konvensional sendiri muncul setelah mereka mempelajari kekurangan, serta apa yang dapat ditingkatkan dari pameran yang dikunjungi, seperti flow, ukuran huruf teks kuratorial, pencahayaan, hingga pengaturan jumlah karya. “Nah, setelah ditandai, kami akhirnya mampu memiliki kesimpulan yang dapat kami implementasikan untuk desain pameran yang akan kami desain kedepannya, dan dari situ kami akan memikirkan fixture dan cara menampilkan karya, gitu. Kami tuh bosen banget dengan dinding-dinding putih yang gitu aja; yang paling basic, kami selalu berusaha menciptakan tekstur pada base yang akan digunakan untuk memajang karya karena bagaimanapun, hal terdekat dari sebuah karya adalah base nya itu sendiri,” jelas Sigit. Selain itu, .this/PLAY juga secara konsisten mengeksplor material dan bentuk baru. “Kami menganggap festival musik atau pameran yang kami develop adalah karya kami. Jadi, kami ingin memiliki sesuatu yang berbeda secara material, bentuk dan fungsi, dengan harapan mampu memberikan experience yang sesuai dan berbeda juga kepada audiens.”

Baik saat perancangan presentasi karya individu maupun ruang pameran kolektif seperti Art Jakarta dan Indonesian Contemporary Art and Design (ICAD), .this/PLAY memikirkan dengan matang bagaimana desain dapat selaras dengan gagasan seniman. Tentu hal tersebut menjadi tantangan tersendiri, mengingat setiap seniman memiliki idealisme perihal karya. Sigit menjelaskan bahwa dalam praktiknya, .this/PLAY memiliki pedoman yang krusial. “Yang pertama adalah sustainable materials: sebisa mungkin meminimalisir hal-hal yang berhubungan dengan plastik yang tidak diolah. Kedua, yang tidak kalah penting, adalah safety. Nah, ketika gagasan dari karya atau seniman tersebut banyak menabrak poin satu dan dua, kami akan argue, jelas. Meskipun begitu, kami akan berusaha mencari titik tengah untuk tetap akomodir senimannya.” Sebagai sesama kreator, .this/PLAY memahami perasaan tak berkenan ketika karya “dikecilkan” dengan hal-hal teknis. Maka, untuk Sigit dan tim, gagasan seniman tetap hal yang paling mendasar untuk diwujudkan ketika dua pedoman krusial tersebut sudah terwujud. Saat merancang ruang pamer secara keseluruhan, langkah awal Sigit dan tim adalah menganalisa ruang dan elemen dari lokasi untuk mencapai keserasian. “Kami juga mengedepankan dua poin krusial tadi. Dari hasil analisis tersebut, baru deh mulai menganalisa karya dan kurasi sudut yang cocok untuk karya.”

Berbeda dengan desain ruang pameran, dalam merancang ruang terbuka untuk festival musik seperti Joyland, .this/PLAY menerapkan rumus 3S: sense, structure, and safety. Menurut penjelasan Sigit, sense adalah landasan yang penting karena di festival musik tidak hanya untuk indra pendengaran, melainkan juga penglihatan dan peraba. Experience adalah fokus yang menjadi landasan .this/PLAY saat merancang area festival di ruang terbuka, dari mulai loket hingga pintu keluar yang masing-masing memiliki fungsi berbeda. Kilas balik saat perancangan festival musik Joyland, berbekal key visual (KV) dari direktur kreatif, .this/PLAY bersama Plainsong Live membedah desain spasial dari program-program yang ada di festival: program keluarga di White Peacock, area khusus orang dewasa di 21 Monkeys, newcomers/breakthrough bands di Lily Pad, stand-up comedy di Shrooms Garden, dan penampil utama di Plainsong Live Stage dan Joyland Stage. Lebih lanjut, this/PLAY menerjemahkan suasana dan pengalaman yang ingin ditawarkan setiap program ke dalam bentuk desain ruang. 

“‘Kenapa ya kayaknya bentuk-bentuk struktur di Joyland aneh-aneh?’,” ucap Sigit, mengutip pertanyaan dari publik. “Di Jakarta sudah jelas bahwa area rerumputan merupakan sebuah privilese yang bisa kita nikmati seutuhnya. Jadi, waktu Joyland selalu kukuh dengan adanya area rumput, buat kami itu adalah salah satu checklist yang sudah terpenuhi. Cara kami untuk enhance rasa nya bermain di rumput-rumput itu kemudian yang menjadi esensi dari ruang yang kami lakukan di Joyland.” Berbeda dengan Jakarta, di Joyland Bali, .this/PLAY meningkatkan pengalaman menonton festival musik di pinggir pantai dengan menciptakan struktur yang selaras dengan alam seperti totem yang berbentuk kincir angin. “Nah, vibes itu kan harus dijaga dari mulai pintu masuk hingga pintu keluar,” ungkap Sigit. Secara keamanan, tentu Sigit dapat memastikan bahwa tim .this/PLAY telah memikirkannya dengan matang. “Safety ini mungkin ga visible to the eye, but we can assure you that you’re safe.” Sejauh ini, kata Sigit, tidak pernah ada keluhan terkait keamanan pada desain-desain spasial untuk festival musik di ruang terbuka seperti Joyland. Hal itu membuktikan tiga landasan krusial dalam mendesain ruang telah dipatuhi dan diterapkan oleh .this/PLAY dengan sukses.

Zoom-3

Ketika melihat desain .this/PLAY di festival musik maupun pameran, kita akan terkesima dengan material daur ulang yang digunakan. Menurut Sigit sendiri, ketika berbicara tentang material, kita tak bisa lepas dari keputusan untuk menerapkan praktik keberlanjutan atau sustainability. “Pemilihan material itu krusial dan berpengaruh, dan kadang merepotkan sejujurnya. Namun buat kami, ada kebahagiaan tersendiri ketika kami tau kami dapat menggunakan material yang sustainable,” ungkap Sigit. Bambu, rotan, eceng gondok, daun kelapa, daun pisang, akar tanaman, sulur, dan kayu adalah material-material dari alam yang berhasil membuat .this/PLAY jatuh cinta dengan efek dinamis yang mampu diberikan dalam desain. Memilah bahan-bahan yang ramah lingkungan tentu kerap kali dilihat menyulitkan dan membatasi ide. Namun, .this/PLAY justru berpikir sebaliknya: “It’s limitless,” tegas Sigit. “Bagaimanapun menurut kami, sebanyak apapun plastik yang digunakan oleh manusia saat ini, lebih banyak lagi sampah yang pada akhir nya susah untuk diolah lagi; dari generasi ke generasi, sampah ini terus menumpuk. Salah satu pendekatan materialnya adalah dengan menggunakan material yang reusable, yang bisa di upcycling, ataupun yang mudah untuk diurai. Jadi penggunaan bahan-bahan raw dan natural yang kami gunakan sebagai landasan dalam mendesain itu masih dalam tahap yang bertanggung jawab,” jelas Sigit lebih lanjut. Menerapkan praktik keberlanjutkan juga membuka wawasan .this/PLAY lebih luas lagi terkait potensi material yang sudah ada. “(Jika tidak berfokus ke arah keberlanjutan) mungkin bisa saja kami hanya fokus pada striking visual yang enggak punya esensi apa-apa; enggak ada subliminal message dari situ untuk ruang, karena hanya fokus pada material-material penyokong visual yang terlihat trendy saja.” Sigit juga menambahkan bahwa kesadaran pada keberlanjutan juga memantik .this/PLAY untuk mencari potensi material baru. “Contohnya, bambu yang diolah bisa menjadi seperti stainless steel, biomaterial yang bisa menjadi base ataupun alternatif fabric—buat kami ini seru banget! Karena bayangin benda yang enggak kebayang jadi sebuah struktur, atau flooring, atau ceiling, terus sekarang ada di depan mata.” Sigit menggambarkan perasaan menemukan material-material baru ini layaknya rasa gembira di masa kanak-kanak saat diberikan mainan baru oleh orang tua. 

Konsistensi .this/PLAY dalam mendesain ruang dengan praktik berkelanjutan tentunya membuktikan bahwa kita semua mampu mewujudkan desain-desain ramah lingkungan untuk ruang keseharian. Maka itu, ada keinginan yang kuat di hati Sigit dan tim untuk intervensi ruang-ruang komersial dengan sesuatu yang tidak umum, dan tentunya ramah lingkungan. Tak hanya itu, ke depannya, .this/PLAY ingin mewujudkan industri presentasi karya dan desain ruang yang lebih profesional, mengikuti standar, dan dengan hasil desain terbaik. “Kita ingin orang ngerasain apa yang kami buat itu fine finishing; kualitas itu yang  ingin kami jaga ke depan.” Menutup perbincangan, Sigit menceritakan cita-cita besar .this/PLAY yaitu membuat pameran dengan baik dan aman untuk semua orang dari segala kalangan. “Harapan ke depan, pameran-pameran di Indonesia itu menjadi suatu hal yang dinanti-nantikan karena dia menarik secara experience, visual, sensory; kami ingin pameran yang baik secara kualitas build, dan pekerja-pekerja di industri atau ekosistem ini dapat bekerja dengan sehat—buat kami itu goals yang ingin dicapai,” tutup Sigit. 

Slide-1-
Slide-2
Slide-3
Slide-4
Slide-5
Slide-6
Slide-7
Slide-8
Slide-9
Slide-10
About the Author

Alessandra Langit

Alessandra Langit is a writer with seven years of diverse media experience. She loves exploring the quirks of girlhood through her visual art and reposting Kafka’s diary entries at night.