Di Balik Visual Sun Eater

Dalam beberapa tahun terakhir ini, nama Sun Eater melambung tinggi sebagai salah satu record label yang melahirkan musisi dengan karya-karya ikonik. Sebut saja Hindia, .Feast, Lomba Sihir, Agatha Pricilla, Rayhan Noor, dan masih banyak lagi musisi yang secara produktif berkarya di bawah naungan Sun Eater. Ketika berbicara soal Sun Eater, kita juga tidak bisa lepas dari desain visual rilisan fisik, digital, merchandise, hingga konten di media sosialyang selalu berbeda dan progresif. Sosok di balik keputusan artistik Sun Eater adalah Sahid Permana yang menjabat sebagai Content & Creative Head. Kepada Grafis Masa Kini, Sahid menceritakan proses kreatif Sun Eater yang berkisar pada storytelling dari musisi ke pendengar.

Jarang diketahui, sebelum menjadi record label, Sun Eater awalnya dibangun dengan semangat agensi visual khusus untuk musik. Baskara Putra, Mikael Aldo, dan Ray Mahendra adalah tiga nama pertama yang merancang fondasi Sun Eater, sampai Kukuh Rizal (kini CEO Sun Eater) datang dengan pertanyaan: “Bagaimana kalau kita bikin music label?. Menurut penuturan Sahid, sejak awal, visual menjadi salah satu elemen penting dalam kerangka kerja Sun Eater, selain karena orang-orang di baliknya adalah pekerja industri kreatif, Sun Eater memahami bahwa gerbang masuk setiap orang ke musik atau musisi tertentu itu berbeda-beda. “Mungkin ada orang yang dengar musik atas rekomendasi teman, ada juga yang karena tertarik dengan cover rilisan fisik atau merchandise-nya,” kata Sahid. Sun Eater juga percaya bahwa visual dapat menjadi “alat” yang membantu menyampaikan pesan dari musisi ke penggemar.

Storytelling merupakan salah satu keunggulan Sun Eater dan poin yang membuat label ini menjadi salah satu penggerak industri musik di Indonesia saat ini. Visual yang berangkat dari storytelling yang kuat akan meninggalkan kesan mendalam pada audiens. Efek tersebutlah yang hadir dari visual Sun Eater selama ini. Bagi Sahid, fungsi dan konsep visual untuk label ini adalah sebagai penerjemah. “Ada musisi yang tahu visual seperti apa yang dia mau, ada juga yang tahu mau apa tapi sulit menggambarkannya, dan ada musisi yang belum tahu apa yang dia mau. Konsep artistik Sun Eater itu gimana kita membantu para musisi menyampaikan pesan dari karyanya,” jelas Sahid. 

Dalam prosesnya, Sahid dan tim kreatif Sun Eater harus mengenal satu per satu musisi yang dinaungi label ini untuk mengetahui rancangan visual seperti apa yang cocok untuk mereka. Setiap musisi memiliki karakter yang berbeda. Sebagai desainer, penting bagi tim kreatif Sun Eater untuk menyediakan treatment dinamis. “Gue harus ngobrol dulu sama musisinya karena setiap orang punya kemauan yang berbeda. Hindia itu tahu persis apa yang mau disampaikan lewat visualnya yang biasanya penuh simbolik atau metafora. Gue akan dukung kebutuhan visualnya itu. Misalnya, dia butuh lukisan, gue akan kasih rekomendasi seniman-seniman yang dirasa cocok,” cerita Sahid Permana. Di era media sosial ini, Sun Eater pun memahami bahwa ada tuntutan bagi musisi untuk memiliki kemampuan mempromosikan musiknya sendiri. Maka itu, Sun Eater mendukung kebutuhan visual atau rancangan grafis untuk setiap musisi menyebarkan pesan dari karya-karya audionya. “Di Sun Eater, kita selalu melibatkan musisi untuk merancang pendekatan visual yang nyaman bagi mereka dan pendengarnya, termasuk dalam konten promosi. Seperti Rayhan Noor, dia tidak suka dengan konten yang sangat “didesain”. Jadi, treatment visualnya lebih organik dan berkisar pada keseharian, misalnya seperti photo dump,” cerita Sahid.

Zoom

Berbeda dengan Rayhan Noor, Baskara Putra memiliki kebutuhan visual yang lebih beragam, mengingat dia berada di balik nama tiga band yang berbeda. Rancangan visual dari tim kreatif Sun Eater akan mendukung citra visual Baskara Putra di setiap proyek musiknya, mulai dari grafis dan ilustrasi rilisan fisik, hingga konsep foto untuk konten di media sosial. Di .Feast, Baskara akan dirancang untuk terlihat penuh amarah; di Hindia, Baskara akan terlihat lebih murung—sesuai dengan gambaran quarter life crisisdi Lomba Sihir, Baskara akan terlihat lebih ekspresif. Tak hanya menyesuaikan dengan karakter musisi atau bandnya, visual yang dirancang Sun Eater juga harus mendukung tipe musik dari setiap musisi. “Mantra Vutura itu kan punya musik yang ‘susah’, jadi kita harus mewujudkan visual yang sesuai dengan musik dan pesan bandnya. Kita mau ketika orang melihat visual dari musisi yang ada di Sun Eater, mereka langsung kebayang, walaupun sedikit, gambaran musiknya seperti apa,” ungkap Sahid.

Seiring berjalannya waktu, kelompok penggemar musisi-musisi Sun Eater terus bertambah. Secara visual, Sun Eater harus mulai memenuhi apa yang dibutuhkan oleh penggemar alih-alih hanya mengandalkan kebutuhan musisi. Dalam merancang konsep artistik Sun Eater, Sahid juga memperhitungkan pengalaman apa yang penggemer butuhkan, seperti yang dikatakan Sahid: form follows function. Misalnya, penggemar ingin merasakan listening sessions etelah musisi merilis album atau single. Maka, tim kreatif akan memenuhi kebutuhan visual untuk pengalaman tersebut seperti grafis-grafis untuk aset video lirik. Selain mempelajari kebutuhan penggemar, Sahid dan tim kreatif juga harus memahami demografi mereka karena ini akan menentukan arahan artistik dari kebutuhan visual setiap musisi. Menurut pengalaman Sahid, selera visual penggemar akan terlihat dari penjualan merchandise. “Desain yang disukai oleh penggemar .Feast itu lebih masukin dengan warna monokrom, terutama hitam. Sedangkan fans Hindia itu lebih suka desain yang berwarna. Di lain sisi, penggemar Agatha Pricilla suka jika ada wajah musisinya karena Pricil sendiri sudah lama menjadi public figure,” jelas Sahid. 

Ternyata, dalam merancang kebutuhan visual untuk musisi dan penggemar, Sun Eater terinspirasi dari industri K-Pop dengan fan service-nya. Menurut Sahid, dalam dunia K-Pop, penggemar dilibatkan dalam kebutusan artistik musisinya. Maka, Sun Eater kini ingin memenuhi keinginan penggemar, mulai dari photocard di setiap rilisan fisik hingga stiker yang bisa dikoleksi. “Mungkin kalau di zaman dahulu, musisi terasa unreachable. Tapi sekarang, kita mencoba menghilangkan jarak yang jauh antara musisi dan penggemar. Jadi, jaraknya tidak terlalu jauh, tapi juga tidak terlalu dekat,” ungkap Sahid.

Di skena musik lokal, Sun Eater selalu menghadirkan gebrakan yang fresh, dan band virtual G/A/T/E (Giants Among the Elders) adalah salah satunya. Desain band virtual ini menarik perhatian banyak orang karena keunikan dari masing-masing karakternya. Berdasarkan penjelasan Sahid, desain G/A/T/E sendiri terinspirasi dari Gorillaz, band virtual legendaris dari Britania Raya. Seperti treatment pada musisi Sun Eater lainnya, setiap anggota band G/A/T/E memiliki kepribadian kuat yang diterjemahkan ke dalam visual. “Setiap karakter punya storylineseperti si vokalis yaitu Juno, paling muda tapi paling aktif dan suka ngulik. Lalu ada Hanna, perempuan sendiri yang digambarkan sebagai manic pixie dream girl yang pendiem dan suka kucing,” kata Sahid. Setiap karakter memiliki bekal narasi yang membuat perancangannya lebih terarah. Band virtual ini merupakan “proyek senang-senang” dari Sun Eater yang dipantik dari sulitnya membagi jadwal Baskara Putra untuk manggung di tiga proyek musiknya. “Kita terinspirasi juga dari proyek BT21 milik BTS (boyband K-pop). Jadi, ada maskotnya sendiri. Ketika BTS tidak bisa hadir, ada maskot yang bisa menggantikan tapi antusiasnya dari penggemar tetap sama,” ungkap Sahid. Hingga saat ini, Sun Eater masih terus meneksplorasi band virtual ini. Bagi Sahid, G/A/TE membuka kemungkinan-kemungkinan yang dapat dieksplor Sun Eater di masa depan.

Berbicara soal masa yang akan datang, Sun Eater memiliki visi yang jelas. Seperti Disney, Sun Eater ingin menjadi perusahaan intellectual property atau IP yang dikenal melalui karya-karya audio dan visual. Sun Eater ingin mewujudkan beragam pengalaman yang dapat dirasakan oleh penggemar. Menurut Sahid, di era digital ini, musik telah menjadi bagian dari keseharian manusia. Sun Eater hadir untuk membuat musik lebih dekat dengan pendengar dan membuka lebih banyak pintu lagi untuk audiens dalam menikmati karya musik, termasuk lewat visual.

Slide-1-(1)
Slide-2
Slide-3
Slide-4
Slide-5
Slide-6
Slide-7
Slide-8
About the Author

Alessandra Langit

Alessandra Langit is a writer with seven years of diverse media experience. She loves exploring the quirks of girlhood through her visual art and reposting Kafka’s diary entries at night.

Let your work shine!

Your work takes center stage! Submit your final assignment here to be assessed by experts of the field.

Submit

Recomended Reading

Cover

Popomangun Discusses the Meaning of Home in the
ARTLOKA proudly presents Popomangun's solo exhibition, titled House of Home, which explores the personal meaning of home. In the curatorial text, Popomangun writes that home is a safe space for its inhabitants and a place where they are fully shaped as individuals. Speaking to Grafis Masa Kini, Popomangun revealed that this solo exhibition stems from his unease regarding his relationship with family, which shaped his perception of the meaning of home itself. Transitioning from living with parents to becoming a parent himself prompted Popomangun to create visual works centered around the concept of home. "Being a parent has no school or curriculum; thus, all behaviors and adaptations in the form of communication, anxieties, and warmth are actually recorded in the feelings and thoughts that we call home," expressed Popomangun.
The patterns and colors in Popomangun's works in the House of Home exhibition depict his memories of home. In terms of form, the houses in his works are drawn from various memories, including his relationships with his parents, in-laws, wife, and children. "All of these are illustrated in depictions of houses in various forms," explained Popomangun. The selection of warm and cool colors within the same frame reminds us of the emotional dynamics within a home. Memories in the corners of the house are translated by Popomangun into symbols and silhouettes unified within a single visual narrative. The curatorial text states that for Popomangun, aside from being representations of memories, these forms and patterns serve as both figures and landscapes depicting how he survives by building a "home" amidst the chaos of life.
Exhibition

11 days ago
Load More Article

Get ahead of the game with GMK+

Keep your finger on the pulse of the art and design world through newsletters and exclusive content sent straight to your inbox.