Di Balik “Inner Sanctum” Karya IMAJI Studio

Bulan Desember tahun lalu, dalam rangka ulang tahun kedelapan, IMAJI, studio kain pewarna alami, merilis "Inner Sanctum". Proyek video multimedia kolaboratif ini bukan sekadar kampanye biasa, melainkan sebuah pertemuan pemikiran kreatif dari videografer Luthfi Kautsar, penari dan koreografer Bathara Savera Dewandoro, dan musisi Prabumi, serta komunitas sekitar Studio IMAJI. Selama dua bulan masa produksi, video "Inner Sanctum" melibatkan lebih dari seribu bingkai gambar coretan tangan yang dibuat oleh tim IMAJI Studio dan komunitas sekitar.

Didirikan pada 2015 oleh Shari Semesta, Lyris Alvina, dan Leo Pradana (suami dari Shari), IMAJI Studio dimulai sebagai merek yang menghadirkan kain pewarna alami dalam bentuk pakaian kekinian sehari-hari. Pada 2017, IMAJI beralih menjadi studio pewarna kain alami, dan studio kreatif, yang karya kainnya tidak lagi hanya berupa pakaian jadi tetapi dapat memenuhi berbagai kebutuhan kain. Shari menjelaskan bahwa sebagai studio kreatif, IMAJI menganut filosofi Jepang Wabi-sabi; penerimaan sementara atas ketidaksempurnaan yang terjadi secara alami sering kali lazim dalam berbagai bentuk seni Jepang. “Ketidaksempurnaan di obyek buatan tangan manusia,” Shari mulai menjelaskan. “Itulah yang ingin kami soroti dalam produk-produk kami—ini buatan karya manusia, ini prakarya tangan, ini hasil kerja dengan cinta gitu ibaratnya. Thus every piece of fabric that is created by us enggak ada lembar yang sama dan semuanya is unique to its own.

Video “Inner Sanctum” lahir dari keinginan untuk merayakan hari jadi Studio IMAJI di luar membuat sebuah koleksi baru. “It was interesting because ‘Inner Sanctum’ itu proyeknya sendiri was super personal for me and Leo. Jadi, it was our eight year anniversary tahun lalu, and in this eighth anniversary it was a turning point for us juga,” ungkap Shari. “(Kita) baru pindah ke studio baru and we just managed to survive a pandemic kan ibaratnya, yang di mana banyak brand-brand kecil lainnya enggaksurvive. Tapi, we just made it through and thus we had a new chapter ahead of us and we wanted to honor that eight year anniversary itu dengan membuat sesuatu yang bukan hanya collection as a fabric studio tapi kita mau membuat seni rupa.”

Zoom

Lebih lanjut, Shari menjelaskan bahwa mereka ingin menginisiasi sebuah proyek yang tidak hanya mengajak kolaborasi dengan satu pihak saja, melainkan dengan banyak kolaborator sekaligus. Salah satu kolaborator yang mereka pikirkan adalah videografer Luthfi Kautsar. “Itu kita berkolaborasi (dengan Luthfi) karena kita mau mengangkat seni tradisional as in performing arts dan kita mau membuat video seni yang beda dari yang lain dengan melibatkan komunitas-komunitas dari fashion students, tari tradisional, sampai teman-teman dekat kita dan orang-orang terdekat kita,” jelas Shari. Meskipun IMAJI Studio menyatakan bahwa nama “Inner Sanctum” mengacu pada gagasan “bagian paling suci dari diri sendiri, bagian paling mentah dari kemanusiaan, yaitu hati nurani,” judul tersebut juga memiliki arti berbeda bagi setiap orang yang terlibat dalam proses produksi video ini. Hal ini dapat diartikan bahwa IMAJI telah menemukan ruang aman untuk berkreasi, yaitu studio baru mereka.

Tim IMAJI Studio mengetahui dari awal bahwa mereka ingin membuat sebuah video, namun, masih belum menemukan cara untuk melibatkan sejumlah orang yang mereka ingin berpartisipasi dalam proyek tersebut. Setelah bertukar pikiran selama beberapa waktu, mereka mendapatkan ide untuk mengajak komunitas, orang-orang terdekat, pelanggan, dan bahkan mahasiswa yang memiliki kesamaan dengan mereka untuk berkontribusi melalui corat-coret. “Nge-doodle anything! Bisa aspirasi mereka, bisa curhatan mereka, atau opini mereka tentang fashion industry, atau creative process mereka. Jadi, what we did is we broke down the video into 1000 pages jadi like a stopmotion video. So we printed out sekitar 1200 halaman,” jelas Shari.

Melalui halaman-halaman ini, IMAJI mampu melibatkan berbagai kelompok, termasuk mahasiswa, dan memfasilitasi proses doodling melalui berbagai acara. Kampus yang terlibat antara lain BINUS Northumbria School of Design, Sparks Fashion Academy, ESMOD, dan Kriya Tekstil di Institut Teknologi Bandung. Mereka juga melibatkan komunitas tari tradisional Swargaloka. Tim IMAJI mempunyai rasa tanggung jawab untuk berkontribusi kembali kepada komunitas yang telah mendukung mereka selama ini pada peringatan delapan tahun. “Salah satunya adalah anak-anak kampus. Generasi muda sangat ingin belajar tentang slow fashion. Mereka sangat ingin untuk belajar soal cara baru untuk berkarya tanpa merusak lingkungan,” kata Shari. Oleh karena itu, dalam kerja sama dengan kampus-kampus ini, acara tersebut tidak hanya memfasilitasi sesi doodling tetapi IMAJI Studio juga mengunjungi kampus-kampus dan mengadakan lokakarya serta seminar tentang slow fashion—memahami pasarnya, dan memahami audiensnya. “Pada akhirnya, kami ingin mereka untuk bergabung ke dalam kampanye ‘Inner Sanctum’ kami. Jadi, kami meminta mereka untuk menggambar pada lembar-lembar bersama kami.”

Pembuatan video ini sendiri memakan waktu sekitar dua bulan. “Kita benar-benar enggak tau (bahwa) ternyata susah juga ya nge-scan-nya,” Shari terkekeh. Proses mencoret-coret dan menyatukan kembali bingkai-bingkai tersebut merupakan bagian proyek yang paling memakan waktu—proses ini sendiri membutuhkan waktu sekitar satu setengah bulan. Di sisi lain, sebenarnya proses shooting video tersebut hanya memakan waktu sekitar satu hari. Saat bekerjasama dengan penari dan koreografer Bathara Savera Dewandoro serta musisi Prabumi, Shari mengenang, “We want to highlight that raw energy through dynamic movement yang tradisional. Dengan tarian tradisional. Penarinya juga penari tradisional. Lagunya juga dibikin oleh teman kita dengan cara menggabungkan alat-alat musik tradisional tetapi dikemas secara kontemporer.” Musik dalam video ini ternyata telah dihadiahkan oleh Prabumi sebelum keseluruhan proyek berlangsung, sedangkan Bathara yang pernah menjuarai Indonesia’s Got Talent bersama tim tari tradisionalnya, dipercayai untuk merancang koreografinya dengan panduan arahan minimal dari tim IMAJI. “We did brief him, (explaining) that we want moves that are dynamic, strong, kita mau ekspresinya gimana. Tapi, at the end of the day, all those movements datang dari kreasinya dia,” kata Shari.

Mengenai pentingnya peringatan delapan tahun ini, Shari merenung, “Kita super grateful of the community that we have gathered to be interested in this slow fashion movement. Karena, slow fashion movement kan, truthfully, orang baru-baru aja agak sadar.” Ia lanjut menjelaskan bahwa ketika IMAJI pertama kali diluncurkan, tidak banyak yang memahami apa yang ingin dicapai oleh IMAJI. Mereka tidak beroperasi seperti rumah mode pada umumnya yang rutin menggelar koleksi spring/summer dan fall/winter. Shari melanjutkan, “Some people may say it’s super niche juga. Enggak semua orang bisa atau enggak semua orang mau dengan harga itu. Jadi, I think the moral of this whole eighth year anniversary experiment juga kita bisa melihat gimana antusiasnya komunitas kita untuk contribute menjadi a part of us. That was super touching. Dan juga, kita melihat betapa this movement, this slow fashion movement, this sustainability movement, is a movement that needs to be collectively done together. Meskipun ekspresi orang berbeda-beda. Doodle-nya beda-beda, ada yang lucu, ada yang keren, ada yang random, tapi, if it wasn’t for that, kita enggak akan bisa menjadikan suatu video. Sama dengan IMAJI Studio, if it wasn’t for semua orang yang udah berkontribusi di IMAJI Studio, maupun itu di dalam tim kita atau di luar, we wouldn’t have IMAJI Studio without the collective effort.

Slide-1
Slide-2
Slide-3
Slide-4
Slide-5
About the Author

Kireina Masri

Kireina Masri has had her nose stuck in a book since she could remember. Majoring in Illustration, she now writes, in both English and Indonesian, of all things visual—pouring her love of the arts into the written word. She aspires to be her neighborhood's quirky cat lady in her later years.

Let your work shine!

Your work takes center stage! Submit your final assignment here to be assessed by experts of the field.

Submit

Recomended Reading

Cover

Popomangun Discusses the Meaning of Home in the
ARTLOKA proudly presents Popomangun's solo exhibition, titled House of Home, which explores the personal meaning of home. In the curatorial text, Popomangun writes that home is a safe space for its inhabitants and a place where they are fully shaped as individuals. Speaking to Grafis Masa Kini, Popomangun revealed that this solo exhibition stems from his unease regarding his relationship with family, which shaped his perception of the meaning of home itself. Transitioning from living with parents to becoming a parent himself prompted Popomangun to create visual works centered around the concept of home. "Being a parent has no school or curriculum; thus, all behaviors and adaptations in the form of communication, anxieties, and warmth are actually recorded in the feelings and thoughts that we call home," expressed Popomangun.
The patterns and colors in Popomangun's works in the House of Home exhibition depict his memories of home. In terms of form, the houses in his works are drawn from various memories, including his relationships with his parents, in-laws, wife, and children. "All of these are illustrated in depictions of houses in various forms," explained Popomangun. The selection of warm and cool colors within the same frame reminds us of the emotional dynamics within a home. Memories in the corners of the house are translated by Popomangun into symbols and silhouettes unified within a single visual narrative. The curatorial text states that for Popomangun, aside from being representations of memories, these forms and patterns serve as both figures and landscapes depicting how he survives by building a "home" amidst the chaos of life.
Exhibition

11 days ago
Load More Article

Get ahead of the game with GMK+

Keep your finger on the pulse of the art and design world through newsletters and exclusive content sent straight to your inbox.